Kumparan Logo

Benarkah Anak Kedua Lebih Tahan Banting? Ini Kata Psikolog

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu ajak anak belanja ke pasar. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu ajak anak belanja ke pasar. Foto: Shutterstock

Moms mungkin Anda sering mendengar anggapan bahwa anak kedua lebih tahan banting dibanding kakaknya. Ada benarnya juga, karena biasanya anak kedua terbiasa dengan ritme keluarga yang lebih padat apalagi jika harus berbagi perhatian dengan kakak.

Karena terbiasa mengikuti rutinitas keluarga, sifat anak kedua cenderung lebih fleksibel dan tidak manja. Tapi, sebenarnya apakah ada sisi positif dan tantangan yang bisa muncul saat anak beranjak dewasa? Yuk, simak penjelasan ahli di bawah ini.

Sisi Positif dan Negatif Anak Mengikuti Rutinitas Keluarga

Ilustrasi ibu ajak anak belanja ke pasar. Foto: Shutterstock

Menurut Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, M.Psi, Psikolog, anak kedua memang cenderung lebih terasah mentalnya untuk menghadapi hal baru.

“Karena terbiasa dengan ritme yang agak padat, anak kedua biasanya lebih fleksibel. Tapi bukan berarti kuat terus tanpa istirahat. Anak tetap perlu waktu untuk beristirahat dan menikmati masa bermainnya.” Kata Vera Itabiliana Hadiwidjojo, M.Psi, Psikolog, kepada kumparanMOM (17/09)

Ini artinya, tahan banting bukan berarti anak bisa menanggung segalanya, melainkan lebih ke kemampuan mereka beradaptasi. Hal ini juga bisa membentuk rasa disiplin dan membuat anak merasa jadi bagian penting dalam keluarga.

Selain itu, anak kedua juga punya role model yang nyata, yakni kakaknya sendiri. Ia bisa melihat kakak sekolah, belajar, atau melakukan hal-hal baru.

Dari situ, muncul rasa penasaran yang sehat. Misalnya, anak semakin semangat sekolah saat melihat kakaknya sekolah. Hal ini wajar banget, Moms. Tapi hati-hati, jangan sampai langsung memaksakan anak sekolah sebelum usianya siap.

“Rasa ingin sekolah ini bisa diarahkan ke kegiatan yang lebih sesuai, seperti main-belajar di rumah atau ikut kelompok bermain. Dengan begitu, rasa penasarannya tetap terwadahi, tapi tanpa terburu-buru melewati fase usianya.” tambah Vera

Tapi di balik sisi positif, ada juga tantangannya seperti:

  1. Cepat lelah

    Karena ikut ritme yang lebih padat, anak kedua kadang bisa merasa cepat lelah

  2. Kehilangan waktu bermain bebas bermain

    Padahal, waktu main bebas sesuai usia itu penting banget untuk tumbuh kembang emosional dan kreativitasnya. Sehingga, meskipun anak terlihat senang saat menjalani rutinitasnya tetap pastikan anak merasa nyaman saat menjalaninya, ya, Moms.

Empat Fakta Unik Anak Kedua

Dikutip dari laman Motherly terdapat empat sifat unik yang dimiliki oleh anak kedua, seperti:

  1. Anak kedua jago bernegosiasi

  2. Tahan banting

  3. Tidak mau kalah

  4. Lebih suka bersosialisasi