Kumparan Logo

Benarkah Terlalu Sering Berhubungan Seks Bisa Bahayakan Janin?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi berhubungan seksual. Foto: Aloha Hawaii/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berhubungan seksual. Foto: Aloha Hawaii/Shutterstock

Saat hamil, sebagian perempuan mengalami peningkatan gairah seks, terutama di trimester pertama dan kedua. Kondisi ini sering kali membuat pasangan suami-istri jadi dilema, karena khawatir hubungan seks saat hamil bisa mengganggu janin.

Moms, sebetulnya jika Anda tidak mengalami komplikasi kehamilan, berhubungan seks saat hamil cenderung aman dan tidak membahayakan diri Anda maupun janin. Sebab, janin di dalam rahim dilindungi oleh cairan ketuban.

Meski begitu, penting untuk tetap perlu berhati-hati saat berhubungan seks, Moms. Pastikan posisinya nyaman untuk Anda dan tidak membahayakan janin.

Namun yang mungkin membuat Anda bertanya-tanya adalah frekuensinya. Apakah aman jika dilakukan berulang kali?

Risiko Berhubungan Seks saat Hamil

Ilustrasi berhubungan seks atau bercinta. Foto: Shutterstock

Cleveland Clinic melansir, dalam kondisi kehamilan yang sehat tanpa komplikasi, hubungan seks bisa dilakukan sebanyak apa pun. Ya Moms, seks tidak akan memengaruhi kondisi bayi sebab mereka berada di dalam cairan ketuban yang dikelilingi otot rahim. Tidak hanya itu, di bagian leher rahim juga terdapat lendir yang akan menangkal segala jenis kuman dan benda asing yang berusaha masuk.

Berhubungan seks saat hamil juga tidak menyebabkan keguguran. Dikutip dari Mayo Clinic, kebanyakan keguguran terjadi karena janin tidak tumbuh sebagaimana mestinya, bisa karena kelainan rahim atau penyakit lainnya.

Adapun kram atau bercak yang muncul setelah orgasme adalah hal wajar, Moms. Itu karena aktivitas ini memang dapat menyebabkan rahim berkontraksi.

Namun, jika Anda mengalami kram parah yang tidak kunjung hilang, atau pendarahan hebat seperti saat menstruasi, sebaiknya segera cari bantuan profesional.

Dalam berhubungan badan juga penting untuk mencari posisi yang tepat. Menurut Medical News Today, posisi yang menekan perut ibu hamil tidak begitu disarankan.

Contohnya, posisi misionaris yang mengharuskan ibu hamil berbaring telentang. Hal ini dapat membuat organ dalamnya mendapatkan tekanan ekstra dari berat bayi. Oleh karena itu, sebaiknya pilih posisi yang memungkinkan ibu hamil tidak telentang.

Selain itu, pastikan ibu hamil tidak merasa terlalu kelelahan saat melakukan hubungan intim. Jalin komunikasi yang sehat untuk saling mengetahui apa yang tengah dirasakan pasangan.

Penting pula untuk dicatat bahwa kondisi tubuh setiap ibu dapat berbeda-beda. Sebagian mungkin bisa sering berhubungan badan tanpa efek tertentu, sedangkan sebagian lainnya tidak bisa. Jadi, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kandungan masing-masing terkait frekuensi yang aman untuk berhubungan badan.

Kondisi Kehamilan yang Tidak Disarankan untuk Berhubungan Badan

Meskipun secara umum berhubungan badan itu boleh, tapi Cleveland Clinic memberi pengecualian terhadap ibu hamil dengan kondisi tertentu. Berikut ini sejumlah kondisi yang mesti diperhatikan:

1. Riwayat Persalinan Prematur atau Keguguran

Biasanya dokter akan meminta ibu hamil yang memiliki riwayat keguguran atau persalinan prematur untuk tidak melakukan hubungan intim. Pasalnya, air mani mengandung prostaglandin, dan saat orgasme, otak akan melepaskan hormon oksitosin. Nah, kedua hormon itu dapat memicu kontraksi.

2. Plasenta Previa

Plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta bayi menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (mulut rahim). Aktivitas seksual tidak disarankan dalam kondisi ini karena dapat mengakibatkan terganggunya plasenta dan perdarahan.

3. Perubahan Serviks

Pada umumnya, serviks menciptakan penghalang antara vagina dan rahim. Jika terjadi perubahan, seperti pelebaran dini, maka berhubungan badan tidak disarankan karena dapat meningkatkan risiko terjadinya persalinan prematur.