Kumparan Logo

Beras Merah vs Beras Putih, Mana yang Lebih Baik untuk MPASI?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sesi media talk bersama Frisian Flag, Rabu (26/8/2026). Foto: Dok. Frisian Flag
zoom-in-whitePerbesar
Sesi media talk bersama Frisian Flag, Rabu (26/8/2026). Foto: Dok. Frisian Flag

Banyak orang menganggap beras merah lebih sehat ketimbang beras putih, sehingga mereka memilih beras merah untuk diberikan saat MPASI bayi. Tapi benarkah kandungan gizi beras merah lebih tinggi dan lebih baik untuk MPASI?

Menurut ahli gizi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc., beras merah maupun beras putih sama-sama boleh diberikan kepada anak. Beras merah bahkan bisa menjadi salah satu pilihan untuk memberikan variasi makanan, selama anak menyukai tekstur dan rasanya.

“Jadi, harus tetap disesuaikan dengan porsinya dan cara pengolahannya harus benar. Jangan sampai misalnya setengah matang,” ujar Tara saat sesi media talk bersama Frisian flag, Rabu (26/8).

Beras Merah Tinggi Serat, tapi Kebutuhan Serat Anak Sedikit

Ilustrasi beras merah. Foto: koosen/Shutterstock

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan serat pada beras merah yang lebih tinggi dibandingkan beras putih. Serat dapat membuat anak merasa kenyang lebih cepat.

Padahal, kebutuhan serat anak tidak sebanyak orang dewasa. Karena itu, pemberian beras merah tetap perlu disesuaikan dengan porsi dan kebutuhan anak.

Terutama bagi anak yang sedang membutuhkan peningkatan berat badan, makanan yang terlalu tinggi serat berisiko membuatnya cepat kenyang sebelum kebutuhan energi dan zat gizinya terpenuhi.

Artinya, bukan berarti beras merah lebih baik dan nasi putih lebih buruk. Keduanya dapat menjadi bagian dari menu MPASI dengan porsi dan pengolahan yang sesuai.

Jangan Lupakan Protein Hewani

com-Ilustrasi berbagai macam sumber protein hewani. Foto: Shutterstock

Selain sumber karbohidrat, orang tua juga perlu memastikan MPASI mengandung protein yang cukup. Pilihan protein hewani pun tidak harus selalu berupa daging sapi.

Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana mengatakan, tekanan ekonomi membuat keluarga perlu memilih sumber pangan yang sesuai dengan kemampuan.

“Protein hewani tidak selalu mahal. Telur dan ikan seperti tongkol dapat menjadi pilihan protein hewani yang lebih terjangkau. Sementara itu, susu juga dapat membantu memenuhi kebutuhan protein dan kalsium," ujarnya.

Data yang dipaparkan menunjukkan kualitas protein susu berada di kisaran 123–141, sementara telur berada di atas 100 dan tahu sekitar 97. Ini menjadi pengingat bahwa memenuhi kebutuhan gizi anak tidak harus selalu dengan bahan pangan yang mahal.