Kumparan Logo

BGN Ungkap Alasan Makan Bergizi Gratis Masih Akan Pakai Makanan Ultra Proses

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Murid UPTD SDN 5 Margadadi Kabupaten Indramayu saat mendapat paket Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (9/1/2025). Foto: Panji Asmara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Murid UPTD SDN 5 Margadadi Kabupaten Indramayu saat mendapat paket Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (9/1/2025). Foto: Panji Asmara/kumparan

Badan Gizi Nasional (BGN) dalam surat edaran yang terbit pada 26 September 2025 menyatakan masih akan menggunakan makanan ultra proses (ultra processed food/UPF) pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, UPF yang digunakan fokus pada yang diproduksi UMKM lokal.

Dalam surat yang ditandatangani Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Dr. Ir. Tigor Pangaribuan, beberapa poin yang ditekankan terkait penggunaan UPF adalah:

1. Penggunaan produk (biskuit, roti, sereal, sosis, nugget, dll) mengutamakan produk lokal. Kecuali susu di wilayah yang belum memiliki peternakan lokal, dengan tidak terbatas pada satu merek.

2. Roti dan pangan sejenis mengutamakan dipasok dari UMKM atau produk lokal setempat.

3. Olahan daging (sosis, nugget, burger, dll) mengutamakan produk lokal atau dari UMKM yang memiliki sertifikasi halal, SNI, terdaftar BPOM, serta masa edar maksimal 1 minggu dari tanggal edar.

instagram embed

Makanan ultra proses merupakan makanan yang telah melalui beberapa tahap pengolahan dan ditambahkan zat aditif seperti gula, garam, dan lemak yang tinggi agar lezat, tahan lama, dan mudah disajikan. Sebagian produk juga mengandung pewarna dan perasa buatan, serta bahan pengawet.

Lantas, apa alasan BGN memutuskan masih menggunakan makanan ultra proses dalam menu MBG?

Kepala BGN Ungkap Alasan Makanan Ultra Proses Masih Digunakan sebagai Menu MBG

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI menyampaikan pendapatnya. Menurut Dadan, makanan ultra proses merupakan bagian dari teknologi pangan (food technology) untuk bisa menghasilkan makanan yang aman dan higienis. Dan ia menilai makanan ultra proses menjadi salah satu hasil perkembangan keilmuan di bidang teknologi pangan yang patut diapresiasi.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, menanyakan komitmen BGN agar tidak menggunakan makanan ultra proses untuk menu MBG.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dalam gelaran Talkshow Potret 1 Tahun BGN di Kantor Berita Antara, Jakarta, Selasa (19/8/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Dadan menjawab, BGN akan berkomitmen menghindarkan produk-produk makanan ultra proses yang mengandung tinggi gula.

"Memang kritiknya terutama, terlalu banyak makanan yang mengandung gula. Tetapi, jika kita menggunakan produk UPF seperti misalnya susu UHT yang rasanya plain, tidak mengandung gula, saya kira kita tidak akan membatasi itu," jelas Dadan.

Lebih lanjut, Dadan menyebut produk seperti susu UHT lebih aman karena bisa dikonsumsi tidak dalam jangka waktu pendek.

"Kami tentu saja akan mengutamakan produk UMKM dan apalagi kalau diproduksi secara higienis," ucap dia.

Risiko Makanan Ultra Proses Bagi Kesehatan Anak

Makanan ultra proses seperti sosis, nugget, sereal, permen, hingga makanan siap saji menjadi salah satu penyebab penyakit kronis pada anak-anak dalam beberapa tahun terakhir.

Ilustrasi Junk Food Foto: JeniFoto/Shutterstock

Ya Moms, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) beberapa waktu lalu menyoroti konsumsi makanan ultra proses yang minim nutrisi dan membuat ketagihan berisiko memengaruhi tumbuh kembang anak menjadi tidak optimal.

Tidak hanya itu, kini sejumlah anak telah menderita penyakit akibat terlalu banyak konsumsi UPF, seperti diabetes, ginjal, dan hipertensi. Penyakit yang dulu lebih banyak dialami orang dewasa, kini justru mulai banyak menyerang anak.

"Dan faktanya, 80-90 persen anak yang mengalami diabetes tipe 2, mereka banyak yang berkaitan dengan obesitas," tutur dokter spesialis anak sekaligus expert kumparanMOM, dr. Aisya Fikritama.

Meski begitu, makanan olahan sebenarnya masih bisa dikonsumsi, tetapi ada syaratnya.

"Makanan olahan yang dapat dikonsumsi anak adalah makanan olahan dengan zat gizi tambahan, ataupun susu formula untuk anak-anak yang mengalami gizi kurang," kata dr. Aisya.

"Prinsipnya adalah anak-anak harus mendapatkan kecukupan kalori untuk perkembangannya. Dan khusus untuk anak-anak yang mengalami gizi kurang ataupun gizi buruk, tentunya asupan kalori harus ditambah," lanjutnya.

Beberapa contoh makanan olahan yang bisa dikonsumsi seperti sayuran kaleng, keju, ikan dan daging kaleng, dan sejenisnya.

Jadi, bagaimana menurut Anda soal penggunaan UPF di menu MBG anak-anak, Moms?