Kumparan Logo

Bolehkah Berhubungan Seks Saat Janin Sudah Masuk Panggul? Begini Penjelasannya

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ilustrasi kehamilan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kehamilan. Foto: Shutterstock

Saat kehamilan sudah menjelang akhir trimester ketiga, biasanya janin mulai bergerak menuju panggul. Namun, bolehkah berhubungan seks saat janin sudah masuk panggul?

Trimester tiga memang menjadi momen yang kerap membuat ibu was-was karena persalinan sudah di depan mata. Tidak sedikit pula yang ragu berhubungan badan di usia kehamilan ini karena khawatir membahayakan si kecil.

Namun, sebenarnya berhubungan badan di masa kehamilan itu aman, kok, Moms, termasuk di trimester akhir. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ibu dan bayi merasa nyaman dan aman. Apa saja? Simak selengkapnya dalam pembahasan berikut.

Bolehkah Berhubungan Seks Saat Janin Sudah Masuk Panggul?

Ilustrasi kehamilan. Foto: Shutter Stock

Pada umumnya, janin akan masuk ke panggul ketika usia kehamilan sudah sekitar 32-36 minggu. Menurut ginekolog asal Amerika Serikat, Mary Jane Minkin, MD, dalam laman Parents, ibu hamil bisa berhubungan badan di usia kehamilan tersebut.

Tenang saja, hubungan badan tidak akan menyebabkan persalinan dini, kok, Moms. Rasa seperti kontraksi yang dialami saat orgasme juga wajar dan tidak akan menginduksi persalinan.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah studi pada 90 ibu hamil yang dikutip dari laman Vinmec. Penelitian ini menemukan bahwa kelompok ibu hamil yang aktif secara seksual, melahirkan saat usia kandungannya sekitar 39,6 minggu. Sedangkan kelompok yang jarang berhubungan seksual, melahirkan pada usia kehamilan sekitar 39,2 minggu.

Meskipun perbedaannya tidak signifikan, tapi ini membuktikan bahwa hubungan badan di masa kehamilan itu aman, termasuk di trimester akhir.

Ingat Moms, bayi berada di dalam tempat yang sangat terlindungi, jadi tidak akan ada masalah serius hanya karena orang tuanya berhubungan seks.

Namun, saat hendak melakukan hubungan intim tersebut, pastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat dan dokter kandungan Anda telah mengizinkannya. Bagaimanapun, kondisi tubuh setiap ibu hamil berbeda-beda, jadi ada baiknya untuk konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Merujuk Baby Center, dokter mungkin tidak akan mengizinkan Anda untuk berhubungan seks jika memiliki kondisi medis berikut:

  • Plasenta previa, kondisi ketika plasenta bayi menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir bayi atau mulut rahim.

  • Tanda-tanda persalinan prematur atau pernah melakukan persalinan prematur.

  • Pendarahan vagina yang tidak dapat dijelaskan atau keputihan yang tidak normal.

  • Insufisiensi serviks, artinya serviks mulai melunak, terbuka, atau memendek sebelum janin cukup umur untuk dilahirkan.

  • Terserang wabah herpes genital atau IMS (infeksi menular seksual) lainnya.

Posisi Bercinta yang Aman Saat Hamil

Ilustrasi Hubungan Suami Istri. Foto: Shutter Stock

Selama masa kehamilan, penting untuk menemukan posisi bercinta yang nyaman bagi ibu hamil dan aman untuk janin dalam kandungan. Berikut beberapa posisi yang direkomendasikan.

  • Woman on Top (Wanita di Atas): Posisi ini memungkinkan ibu hamil memegang kontrol terhadap kedalaman penetrasi penis dan gerakan yang harus dilakukan, jadi bisa disesuaikan dengan kenyamanan.

  • Spooning (Menyendok): Posisi di mana suami memeluk istri dari belakang, kemudian menempatkan penis di antara kedua paha istri dan melakukan penetrasi. Posisi ini tidak memberikan tekanan pada perut ibu hamil sehingga aman dilakukan.

  • Hands and Knees (Tangan dan Lutut): Ini merupakan posisi yang cocok untuk ibu hamil karena tidak menekan perut. Caranya dengan bertumpu pada tangan dan lutut, kemudian suami berlutut dan melakukan penetrasi dari belakang.

Baca Juga: Efek Sering Berhubungan Badan Saat Hamil, Benarkah Membahayakan Janin?