kumparan
10 Januari 2018 18:51

Buat Apa Balita Masuk PAUD? Ini Jawabannya!

Ilustrasi PAUD. (Foto: Thinkstock)
Baru-baru ini dunia maya dibuat gempar dengan cuitan seorang pria bersama Jiemi Ardian. Jiem Ardian yang berprofesi sebagai Hypnotherapist, Mindfulness Practitioner, National Hypnotherapy Instructor, NLP'er, Psychiatric Resident, Half Doctor-Half Shaman ini menuliskan kalimat-kalimat yang menuai kontroversi di jagat maya.
ADVERTISEMENT
"PAUD itu bukan pendidikan anak, PAUD itu bisnis atas nama pendidikan anak," begitulah cuitan pertama dari kultweet yang dibuat @jiemiardian.
Cuitan dari akun @jiemiardian yang dituliskan pada Jumat (5/1) telah menjadi perbincangan dan perdebatan menarik di jagat maya terutama di kalangan orang tua. Seperti yang dikomentari oleh akun @salmonju “Apakah ini berlaku untuk semua PAUD/TK? Sebab rasanya tempat istri saya kerja, menggunakan konsep paiget tersebut. yang maksa agar supaya anaknya segera ini, segera itu, adalah para orang tuanya. Karena membayar,”
Namun, ada juga netizen yang setuju dengan pendapat Jiem seperti akun @dni705 “setuju gt sma thread ini dok, skrg ini anak-anak urutan pendidikannya pos PAUD, PAUD,bru TK. Sdih bgt kan :( ”
ADVERTISEMENT
Selain kedua netizen tersebut di atas, beberapa orang tua lain yang berkomentar mengaku menjadi bingung dan mempertanyakan apakah tujuan dari PAUD itu sendiri.
Dikutip dari laman resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud), tujuan umum pembangunan PAUD itu sendiri adalah untuk menguatkan peran PAUD sebagai fundamen pembangunan pendidikan nasional.
Tidak hanya tujuan umum, pembangunan PAUD juga memiliki tujuan khusus yaitu pertama, untuk memperluas layanan PAUD yang menjangkau semua lokasi dan komunitas anak usia dini.
Kedua, meningkatkan pemerataan layanan hingga menjangkau wilayah terisolir, tertinggal,dan atau perbatasan. Ketiga, menyediakan layanan PAUD yang bermutu, akuntabel, dan selaras dengan tahap perkembangan anak.
Keempat, mewujudkan layanan PAUD yang non-diskriminatif, inklusif dan berkeadilan. Dan yang terakhir adalah untuk mewujudkan sistem layanan PAUD yang menjamin semua anak usia dini dan berkesempatan memperoleh layanan PAUD itu sendiri.
Ilustrasi PAUD. (Foto: Thinkstock)
Nah, untuk para ibu yang mungkin belum tahu, pada tahun 2016 Kemendikbud sendiri menganjurkan untuk anak mengiktui PAUD dengan alasan agar adanya pembelajaran sebelum memasuki tingkat Sekolah Dasar.
ADVERTISEMENT
Fungsi PAUD sendiri adalah sebagai wadah penyiapan perumusan kebijakan di bidang kurikulum, peserta didik, sarana dan prasarana, pendanaan dan tata kelola pendidikan anak usia dini. PAUD juga menjadi ‘fasilitator’ di mana anak bisa meningkatkan kualitas pendidikan karakternya sebelum memasuki sekolah dasar.
Fungsi lainnya adalah sebagai penyusun norma, standar, prosedur, dan sebagai kriteria di bidang kurikulum. Hal ini disampaikan langsung di dalam laman resmi kemdikbud.
Namun, keputusan untuk memasukan anak ke PAUD itu sendiri kembali pada Anda dan bukan merupakan keharusan. Seperti yang disampaikan oleh Alzena Masykouri selaku psikolog anak saat dijumpai kumparan (kumparan.com) di Klinik KANCIL, Duren Tiga Jakarta Selatan, Rabu (10/1). Alzena menyebut, PAUD diperlukan sesuai dengan kondisi yang ada, utamanya kondisi dari masing-masing orang tua dan anak. Menurutnya, orang tua bisa menilai kemampuan mereka ketika memutuskan akan melibatkan PAUD atau tidak dalam mendidik anaknya.
ADVERTISEMENT
Kemampuan itu meliputi keterampilan orang tua dalam mendidik anaknya sesuai dengan perkembangan usianya. Tak terkecuali kemampuan dalam penyediaan waktu untuk mendidik anak. “Idealnya, orangtua mampu mendampingi, mengamati, memberikan aktivitas yang beragam,” kata Alzena. Itu sebabnya, PAUD dapat berguna sebagai dasar untuk belajar lebih lanjut bagi orang tua. “PAUD adalah partnernya orang tua, kecuali jika orang tua bisa melakukan sendiri,” tambah Alzena ketika ditemui kumparan di klinik KANCIL, Duren Tiga Jakarta Selatan, Rabu (10/1).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan