Buta Warna pada Anak, Kenali Gejala dan Penanganannya!

20 September 2023 11:25
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Buta Warna. Foto: chomplearn/Shutterstock.
ADVERTISEMENT
Buta warna (Color Vision Deficiency atau CVD) adalah gangguan penglihatan yang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pada anak-anak. Bagi seseorang yang mengalaminya bisa kesulitan untuk membedakan warna tertentu (buta warna sebagian) atau bahkan seluruh warna (buta warna total).
ADVERTISEMENT
Namun, terkadang orang tua tidak langsung mengetahui bila anaknya ternyata mengalami buta warna. Anak-anak juga cenderung belum memahami dan tidak menyadari apa yang dilihatnya mungkin saja tidak sempurna. Sehingga, terkadang Anda pun terlambat untuk mengetahuinya.
Gangguan penglihatan warna ini dapat bersifat bawaan sejak lahir (kongenital) atau didapat setelah lahir. Ada beberapa penyebab anak mengalami buta warna, seperti faktor genetik, kondisi medis yang dialami seperti penyakit atau cedera mata yang mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf optik, hingga efek samping dari obat yang dikonsumsi.
Dikutip dari laman Ditjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), faktor genetik atau keturunan merupakan penyebab utama buta warna. Kelainan genetik yang diturunkan dari orang tua ke anak lebih rentan dialami oleh anak laki-laki. Dijelaskan bahwa kromosom X yang diwariskan dari seorang ibu kepada anak laki-laki maka dapat menyebabkan ia buta warna. Sementara bila diwariskan kepada anak perempuan, maka ia akan menjadi pembawa (carrier).
ADVERTISEMENT
Hal ini juga dibenarkan oleh dokter mata dari Children's National Hospital, Dr. Mohamed Jaafar, yang mengungkapkan gen buta warna ini cenderung diturunkan melalui garis ibu. Jadi, misalnya kakek dari pihak ibu mengalami buta warna, sang ibu biasanya tidak akan memilikinya. Namun, kemudian bisa saja muncul pada cucunya.
Ilustrasi anak buta warna Foto: Shutterstock
Seperti apa kondisi buta warna yang dimaksud? Dikutip dari Romper, Dokter Spesialis Mata Dr. Patrick Burke menggambarkan buta warna sebagai defisiensi warna, karena kebanyakan orang yang mengalaminya masih bisa melihat beberapa warna. Seseorang yang mengalaminya akan kesulitan atau tidak dapat membedakan warna-warna tertentu.
Paling sering warna yang terlihat sama adalah merah dan hijau. Dan dapat juga kesulitan antara warna seperti ungu dan cokelat, yang mengandung sedikit warna merah dan hijau.
ADVERTISEMENT

Buta Warna Lebih Rentan Dialami Anak Laki-laki

Nah Moms, sudah tahu belum bahwa buta warna lebih sering terjadi pada laki-laki ketimbang perempuan? Menurut data yang diungkap ahli optometri anak dari All About Vision, buta warna dialami oleh sekitar 8 persen laki-laki dan 'hanya' 0,5 persen perempuan yang mengalaminya.
Sementara Chief Medical Officer of Hazel Health, Dr. Rob Darzynkiewicz, menjelaskan mengapa laki-laki berkemungkinan lebih tinggi terkena buta warna.
"Gen untuk penglihatan merah-hijau dan biru dapat ditemukan pada kromosom X. Perlu dipahami, perempuan memiliki kromosom XX dan laki-laki XY. Jika salah satu X memiliki gen yang tidak bekerja dengan baik, namun X lainnya berfungsi, Anda [perempuan] mungkin akan baik-baik saja. Itu sebabnya anak perempuan jarang sekali buta warna," ungkap Darzynkiewicz.
ADVERTISEMENT
"Untuk anak laki-laki, mereka hanya mendapatkan satu gen X dari ibu mereka. Dan jika gen tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka mereka berisiko mengalami kekurangan dalam penglihatan warna," lanjutnya.

Gejala Buta Warna pada Anak dan Cara Penanganannya

Ilustrasi Anak Buta Warna. Foto: chomplearn/Shutterstock.
Seperti sudah disebutkan sebelumnya, terkadang tidak mudah untuk mengidentifikasi apakah si kecil mengalami buta warna atau tidak. Namun, Anda bisa memperhatikan tanda-tanda berikut ini pada anak:
ADVERTISEMENT
Saat anak menunjukkan tanda-tanda di atas, tidak ada salahnya Anda membawa si kecil melakukan pemeriksaan kepada dokter. Nantinya, dokter mata akan melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti tes buta warna yang mulai bisa dilakukan pada sekitar usia 4 hingga 6 tahun. Salah satunya Tes Warna Ishihara yang paling umum dilakukan pada buta warna merah-hijau.
Kondisi buta warna dalam jangka panjang tidak akan berpengaruh pada kesehatan mereka. Pun tidak berarti si kecil juga memerlukan kacamata, lensa kontak, atau tindakan perbaikan kecuali memiliki masalah mata lainnya.
Meski begitu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak lebih siap menjalani kondisi kesehatan matanya tersebut. Ini antara lain:
1. Beri label pada spidol atau krayon dengan warna tertentu
ADVERTISEMENT
2. Buat semua orang dewasa yang terlibat dalam pengasuhan anak sadar dengan situasi tersebut
3. Bicarakan dengan guru di sekolah tentang kondisi buta warna yang dialami anak
4. Menganggap anak sama seperti anak-anak lainnya, dan bantu mengubah pandangan mereka bahwa kekurangannya tidak memengaruhi banyak aspek kehidupannya