Cara Atasi Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Tanpa Operasi

Ada beberapa kondisi terkait masalah kesehatan yang bisa terjadi pada anak, bahkan sejaklahir. Salah satunya, penyakit jantung bawaan (PJB). Penyakit ini, merupakan kelainan bawaan paling sering ditemui di antara kelainan-kelainan bawaan lainnya.
Demikian disampaikan ahli jantung anak dari RSAB Harapan Kita serta Ketua Kelompok Kerja Kardiovaskular Ikatan Dokter Anak Jakarta Raya (IDAI Jaya), dr. Winda Azwani, Sp.A(K), pada forum diskusi Philips 'Atasi Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak Sejak Dini', di Jakarta, (17/7).
"Meski telah disebutkan (diketahui) sejak lahir, PJB padahal sudah ada sejak janin," kata dr. Winda. Karenanya, kasus PJB pada bayi baru lahir yang terlambat terdeteksi menjadi penyebab utama kematian bayi baru lahir. Sementara bila mendapat pengananan lebih cepat, maka hasilnya akan lebih baik.
dr Winda menekankan, PJB pada anak dapat diketahui saat ibu masih hamil dengan melakukan pemeriksaan USG, yang kemudian menangkap beberapa gejala sebagai indikasi PJB. Seperti janin berukuran cenderung kecil, terdapat cairan, bibir bayi sumbing, dan sebagainya.
"Bila dokter kandungan mendapati tanda tersebut, ia akan merujuk ibu hamil ke dokter jantung," tambahnya.
Data IDAI (2014) menyebut, 7 hingga 8 bayi per 1000 kelahiran hidup dilahirkan dengan PJB.
Kepala Subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, dr. Asik Surya, MPPM, mengungkap, adapun angka tersebut tidak seimbang dengan ketersediaannya dokter jantung anak di Indonesia. Sehingga pasien PJB yang harus mendapat tindakan operasi kerap terjadi waiting list.
Tindakan operasi sebagai upaya mengatasi PJB, dilakukan saat bayi telah lahir. Tapi orang tua tak perlu khawatir, sebab dr Winda menegaskan tindakan untuk PJB tak melulu lewat operasi. Tapi juga intervensi non-bedah. Hal ini tergantung tingkat kegawatannya.
"Apapun itu tindakannya, tujuannya demi keselamatan dan kesejahteraan masa depan anak. Bila anak Anda terdeteksi, jangan lantas menunda untuk membawanya ke dokter, karena misalnya tidak tega. Kasihan nanti anaknya sudah membiru," tambah dr. Winda.
Lantas apa sih, sebenarnya yang jadi penyebab Penyakit Jantung Bawaan atau PJB pada anak?
Ternyata hingga saat ini belum diketahui secara pasti, Moms. Namun, orang-orang yang berisiko mengalami penyakit ini adalah ibu hamil dengan diabetes yang melakukan pengobatan dengan suntik insulin, atau ibu hamil dengan epilepsi yang mengkonsumsi obat anti-kejang.
Pada bayi, PJB dapat memiliki dampak jangka panjang jika tidak ditangani dengan benar, mulai dari cacat, stunting, hingga kelumpuhan.
“Philips percaya bahwa setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dengan sehat,” kata Presiden Direktur Philips Indonesia, Dick Bunschoten. “Melalui Forum Diskusi ini, Philips berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai berbagai isu kesehatan yang mempengaruhi kehidupan banyak orang di Indonesia, salah satunya adalah PJB.
Karenanya, Philips mendorong masyarakat untuk mulai megadopsi gaya hidup sehat serta membiasakan deteksi dini untuk mengantisipasi penyakit seperti PJB ini. Lewat inovasi teknologi seperti USG, deteksi PJB sejak dini dapat dilakukan. Selain itu, solusi Cath Lab Azurion kami juga membantu intervensi non-bedah yang lebih tidak menakutkan dan tidak meninggalkan luka pada anak.”
Untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan di Indonesia tidaklah mudah. Perlu kolaborasi setiap pihak yang terlibat, seperti pemerintah, pihak swasta, profesional kesehatan, dan masyarakat untuk mengatasinya. Sektor swasta seperti Philips bisa menjadi pemain penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat untuk layanan kesehatan melalui teknologi dan inovasi.
