Kumparan Logo

Cara Mencegah Anak Jadi Pelaku Bullying: Ajari Empati

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perundungan atau bullying. Foto: panadda design/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perundungan atau bullying. Foto: panadda design/Shutterstock

Banyak orang tua merasa terkejut saat mendapat laporan bahwa anaknya menjadi pelaku bullying di sekolah. Sebab, di rumah anak terlihat baik, penurut, dan tidak menunjukkan perilaku agresif.

Padahal, menurut psikolog klinis, Olphi Disya Arinda, M.Psi., Psikolog, perilaku bullying tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhinya, mulai dari kebutuhan untuk merasa berkuasa, kurangnya empati, hingga meniru pola interaksi yang dilihat anak di lingkungan terdekat, termasuk di rumah.

Lantas, apa yang bisa dilakukan orang tua agar anak tidak tumbuh menjadi pelaku bullying?

Ajari Empati Sejak Dini

Anak membantu ibu membungkus kado. Foto: Shutter Stock

Olphi menjelaskan, empati merupakan salah satu penangkal utama perilaku bullying. Karena itu, kemampuan memahami perasaan orang lain perlu dilatih sejak anak masih kecil.

Orang tua bisa mengajarkan empati melalui percakapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan bertanya, "Menurutmu bagaimana perasaan temanmu kalau mainannya diambil tanpa izin?" atau "Bagaimana ya perasaan temanmu kalau didorong sampai jatuh?"

Dengan cara ini, anak belajar melihat suatu situasi dari sudut pandang orang lain sebelum bertindak.

Orang Tua Perlu Menjadi Contoh

Anak adalah peniru yang ulung. Mereka tidak hanya mendengarkan nasihat orang tua, tetapi juga mencontoh cara orang tua berbicara, menyelesaikan konflik, hingga mengelola emosi.

Karena itu, Olphi mengingatkan agar orang tua mengevaluasi pola komunikasi di rumah.

"Hindari kekerasan verbal, kebiasaan menyalahkan korban (victim blaming), maupun manipulasi emosi seperti silent treatment," kata Disya Arinda, pada kumparanMOM, Senin (20/7).

Sebaliknya, tunjukkan bahwa seseorang tetap bisa dihormati tanpa harus berteriak, memaki, atau bersikap agresif.

"Anak akan belajar bahwa kita bisa tetap dihargai tanpa harus marah-marah atau merendahkan orang lain," jelasnya.

Hindari Hukuman yang Merendahkan, tapi Tetap Beri Konsekuensi

Ilustrasi ibu marah pada anak. Foto: Shutter Stock

Jika anak terbukti melakukan bullying, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan hukuman fisik atau mempermalukannya.

Olphi menyarankan agar anak diberikan konsekuensi yang bersifat mendidik. Misalnya dengan cara:

1. Meminta maaf secara tulus

2. Memperbaiki kerugian yang ditimbulkan

3. Kehilangan sementara hak istimewa tertentu.

Menurutnya, tujuan utama konsekuensi adalah mengajarkan tanggung jawab, bukan membuat anak merasa terhina.

"Kalau anak merasa direndahkan, bukan tidak mungkin ia justru ingin mengompensasi perasaan itu dengan merendahkan orang lain," ujarnya.

Awasi Aktivitas Anak di Dunia Digital

Bullying kini tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga di media sosial atau melalui pesan digital.

Karena itu, orang tua juga perlu memantau aktivitas digital anak dan berdiskusi mengenai etika berkomunikasi di internet.

“Anak perlu memahami bahwa kata-kata yang ditulis di balik layar tetap dapat melukai perasaan orang lain dan meninggalkan dampak psikologis yang serius. Pencegahan bullying sebaiknya dimulai dari rumah. Dengan membangun empati, memberikan teladan yang baik, mengajarkan cara mengelola emosi, serta menerapkan konsekuensi yang mendidik, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang menghargai orang lain dan tidak melakukan perundungan,” pesannya.