Kumparan Logo

Catat, Moms! Ini Tahap Perkembangan Moral Anak Sesuai Usia

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Ibu dan anak laki-laki. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu dan anak laki-laki. Foto: Shutter Stock

Perkembangan moral di masa kanak-kanak dapat dianggap sebagai salah satu aspek sentral sosialisasi. Sebab, moralitas adalah kemampuan untuk melihat perbedaan antara benar dan salah dalam niat, pikiran, tindakan dan perilaku yang dinilai berdasarkan hukum, norma sosial, dan budaya masyarakat.

Mengajarkan moral sejak dini juga membantu anak menjadi bertanggungjawab. Hanya saja, pemahaman dan implementasi nilai-nilai moral pada anak bergantung pada lingkungan tempat tinggal, serta keterampilan fisik, sosial, emosional, dan kognitif anak.

Tahap Perkembangan Moral pada Anak

Perkembangan moral pada anak terjadi secara bertahap yang dimulai sejak bayi hingga dewasa. Berikut penjelasannya seperti mengutip Mom Junction.

1. Bayi

Ilustrasi bayi menyanyi. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Secara umum bayi belum bisa mengembangkan moralitasnya. Rasa benar dan salah mereka tergantung pada perasaan dan keinginannya. Setelah dikandung selama sembilan bulan dalam rahim ibu, bayi mengharapkan pengasuhan itu terus berlanjut. Akibatnya, rasa benar mereka tergantung pada kebutuhannya terpenuhi atau tidak.

2. Balita

Ilustrasi anak balita bermain bersama. Foto: Shutter Stock

Balita usia 2 hingga 3 tahun mungkin menunjukkan rasa bersalah dan perilaku moral berbasis empati. Tergantung pada tindakan yang disampaikan oleh orang tua, balita memahami kepatuhan adalah norma. Misalnya, balita Anda tahu bahwa mengambil mainan dari saudara kandungnya adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Contoh lainnya, meskipun anak tidak mengerti kenapa memukul orang itu salah, tetapi dia tahu bahwa ia akan dihukum karena melakukan hal tersebut.

3. Prasekolah

Ilustrasi anak balita menangis dan minta digendong. Foto: Shutterstock

Anak usia prasekolah, yakni 3 hingga 5 tahun, mulai bisa menginternalisasi nilai-nilai dalam keluarga. Mereka mulai memahami peran ‘anak’ dan ‘orang dewasa’, serta mengharapkan kedewasaan diarahkan kepada mereka. Selain itu, anak dengan usia ini mulai menyadari bahwa setiap tindakan yang dilakukan memiliki konsekuensi.

4. Anak-anak

Ilustrasi anak dan ibu. Foto: Shutter Stock

Setelah usia 7 tahun, anak mulai mempertanyakan apakah orang-orang yang memegang posisi otoritatif, seperti guru dan orang tua adalah orang yang sempurna. Selain itu, ia mulai menunjukkan keinginannya untuk berpartisipasi dalam membuat aturan dan memahami perlunya aturan.

5. Remaja

Ilustrasi ibu dan anak remaja. Foto: myboys.me/Shutterstock

Mendekati usia dewasa, si kecil mulai mengembangkan nilai-nilai moral masing-masing. Mereka juga mempertanyakan dan menganalisis nilai-nilai yang ditetapkan orang tuanya. Anak remaja usia 11 sampai 16 tahun mungkin akan memperluas wawasan moralnya dan melihat aturan sebagai seperangkat pedoman sosial yang bermanfaat untuk semua orang. Mereka juga akan menghargai aturan, tetapi juga bernegosiasi. Selain itu, anak remaja akan mulai menyadari bahwa keputusan yang diambilnya mempengaruhi orang lain di sekitarnya.

kumparan post embed