Cerita Ibu: Anak Kami Dibilang Menjijikkan oleh Babysitter yang Mengasuhnya
·waktu baca 6 menit

Selasa pukul 02.00 WIB, anak bungsu Emma Helianthi, Niko (3), tak kunjung tidur lagi setelah terbangun. TF, babysitter yang mengasuh Niko, mulai kesal dan marah-marah. Emma meminta TF kembali ke kamarnya dan tak perlu memusingkan Niko. Ia akan menemani putra kecilnya itu sambil bercerita hingga terlelap lagi.
Namun TF tak mau kembali ke kamar dan justru semakin marah. Emma menyebut kemarahannya sangat mengerikan hingga membuatnya harus mengamankan semua benda tajam di rumah itu.
“Saya sampai mengamankan semua benda berbahaya di rumah. Pisau-pisau saya ambil, saya simpan semua. Hari itu saya langsung puasa,” kata Emma kepada kumparanMOM dalam program Cerita Ibu.
Emma memilih diam malam itu, karena justru akan sangat berbahaya merespons kemarahan yang tak terkontrol dengan amarah. Esok paginya ia memecat TF.
Tak disangka, pemecatan itu membongkar perilaku buruk TF lainnya. Sopir Emma memberikan rekaman perundungan yang dilakukan oleh TF dan babysitter yang lain, NA, kepada anak keduanya, Kea (5 tahun). NA adalah babysitter Kea yang kini telah mengundurkan diri dan berpengalaman mengasuh anak berkebutuhan khusus. Sebab Kea memiliki gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Perundungan itu terjadi sekitar bulan November 2022. Namun Supri, sopir Emma, baru berani menyerahkan setelah TF dipecat.
Dalam rekaman terdengar TF dan NA membentak Kea berkali-kali. Mereka juga menghardik Kea, menyebut jijik dengan Kea saat ia menangis-nangis, hingga menjelek-jelekkan orang tua Kea.
“Mama sama Papa nggak ada. Syukur kalau nggak disayang sama Kakak Sophie sama Niko! Sana Kea sendiri! Kayak gitu terus!"
"Kamu nggak ada baiknya!" "Mau ditegur lagi sama Allah?" "Kea marah, marah aja!"
Rekaman itu membuat Emma pingsan dan suaminya syok.
“Saya syok, suami saya syok. Saya menangis, pingsan lebih tepatnya, karena kami sangat tidak menyangka bahwa mereka sangat membenci anak kami yang kedua. Bahkan kami enggak punya keberanian untuk menghadapi anak-anak kami saat itu,” ujar ibu yang juga dokter spesialis akupunktur ini.
Esok harinya, Emma bertanya pada Kea dan Niko terkait perilaku kedua babysitter itu. Hatinya makin teriris saat mendengar jawaban dari Kea. Kea tak marah dengan TF dan NA, tapi sedih dan merasa tidak disayang karena sering dimarahi dua babysitter itu. Sementara itu, Niko bahkan tak mau tidur di kamarnya karena trauma dengan TF.
“Semenjak ganti suster, dia (Niko) happy, bebas, merdeka. Dia pelukin kakak-kakaknya seperti enggak mau lepas. Ke mana kakaknya pergi dia ikut. Saya kasih foto dia dan Sus TF, diremek sama dia, dibuang. terus lalu dia nangis,” kata Emma sambil terisak.
Sakit hati saya anak saya diperlakukan seperti ini, saya enggak tahu sampai kapan luka saya bisa sembuh," -Emma Helianthi.
"Saya cuma manusia biasa. Pastinya saya ada rasa ingin memaafkan supaya saya bisa lega, tetapi ini sangat, buat kami sangat sulit,” imbuhnya.
Terlebih ini merupakan kali kedua Kea mendapat perlakuan tak menyenangkan dari orang lain. Bahkan sebelumnya pelakunya adalah kerabat dekat. “Sebelumnya oleh tante saya sendiri. Kea dibekap pakai bantal,” kata pemilik nama lengkap dr. Dwi Rachma Helianthi, Sp.Ak ini.
Saat perundungan pertama terjadi, Emma bahkan memutuskan untuk rehat dari pekerjaan sebagai dokter dan dosen. Ia yang kala itu mengajar di Fakultas Kedokteran UI, memutuskan mundur. Kali ini, ia didukung penuh oleh suami dan ibu mertuanya untuk tetap bertahan dari pekerjaan yang menjadi passion-nya, yakni sebagai dokter spesialis akupunktur.
Untuk mengatasi trauma itu, Emma telah berkonsultasi ke psikiater yang biasa menangani Kea. Mereka disarankan untuk mempererat bonding. “Ada beberapa masukan untuk kami lakukan, salah satunya adalah tidur bersama semua. Tanpa harus mempedulikan ini anak tidur berapa jam, tidur atau enggak, yang penting kita membangun bonding dulu satu keluarga,” tutur Emma.
Protes ke Penyalur, Kecurigaan Terhadap TF dan NA
Setelah semua peristiwa itu, Emma menduga TF memiliki gangguan mental. Ia mengaku kecolongan karena selama 3 tahun TF bekerja dengannya, ia dan suami sama sekali tak dapat mendeteksi itu. Ia juga sudah memprotes yayasan penyalur karena tidak melakukan tes psikologi pada pekerja yang disalurkan. Padahal ini adalah yayasan penyalur terkenal, dan babysitter yang disalurkan juga digaji tinggi, yakni Rp 5 juta dan Rp 6 juta.
Sebetulnya selama 3 tahun itu, ada beberapa kali kecurigaan terhadap TF. Seperti misalnya, setahun yang lalu saat TF menghalangi suaminya yang hendak memberi tahu Niko bahwa apa yang dilakukannya tidak baik. Saat itu, suami Emma memarahi TF. Kemudian, di tahun yang sama, sopir Emma juga pernah mengadu bahwa Kea ditarik tangannya oleh TF. Namun kala itu saat dicek oleh suaminya yang merupakan dokter spesialis ortopedi, tak ada jejas maupun trauma di tubuh Kea. Sopir Emma juga sempat meminta mobilnya dipasang CCTV. Tapi Emma tak yakin CCTV akan efektif. Sebab menurutnya jika seseorang memang berniat jahat, ia tentu tak akan bertindak tercela di depan CCTV.
Sementara terkait dengan NA, Emma mengaku kerap merasa tidak sejalan dalam pengasuhan terhadap Kea. Padahal sejak awal Emma telah memberi tahu pihak penyalur bahwa NA akan mengasuh anak berkebutuhan khusus. Namun dalam perjalanannya NA cenderung tidak kooperatif, sehingga saat ia mengundurkan diri, Emma tak keberatan.
Belakangan setelah ia mengundurkan diri, Emma baru tahu bahwa NA membuat grup WhatsApp dengan babysitter-babysitter lain di sekolah Kea. Isi dalam grup itu saling menjelekkan masing-masing majikan tempat mereka bekerja.
Belajar dari pengalaman itu, Emma dan suami memutuskan akan memberikan tes psikologi pada semua babysitter yang akan ia pekerjakan. Selain itu, dia juga akan mengkombinasikan pengasuhan babysitter dan daycare. Ia juga akan mengganti babysitter secara berkala tiap setahun sekali.
“Saya sudah menjadwalkan tes skrining psikologis terhadap yang megang anak-anak saya ini. Skrining psikologis dan personality. Karena memang dari rekaman-rekaman yang kemarin, setelah kami analisa, ini sepertinya, terutama sus TF, ini ada gangguan mental,” tuturnya.
Pentingnya Validasi Feeling sebagai Ibu
Berkaca dari kasus ini, Emma mengaku akan lebih sering bertemu dengan semua anak-anaknya. Selain itu, menurutnya penting untuk memvalidasi feeling-nya sebagai ibu.
Memang kita sebagai ibu harus peka terhadap feeling kita. Feeling seorang ibu, saya percaya tidak pernah salah,” Emma Helianthi.
Meski punya pengalaman buruk dengan 2 orang babysitter yang ia pekerjakan, Emma dan suami memiliki sopir yang sangat loyal. Ia sangat berterima kasih pada Pak Supri, sopir yang sudah 6 tahun bekerja di keluarganya itu.
“Saya sungguh berterima kasih bahwa sopir kami ini sangat meresapi kata-kata yang saya ucapkan setiap saya mau berangkat kerja. “Pak, saya titip ya, anak-anak saya”. Itu kenapa waktu dia kasih rekaman itu ke saya dia bilang, karena ibu setiap saat selalu bilang “saya titip anak-anak saya.” Jadi saya terima kasih. Ini adalah suatu yang tidak ternilai dengan uang yang sudah kami berikan ke Pak Supri,” bebernya, dengan air mata terbendung.
