Cerita Ibu: Hamil dengan Diabetes dan Preeklamsia, Bayi Saya Lahir Prematur

9 Juni 2022 18:59
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi preeklamsia pada ibu hamil. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi preeklamsia pada ibu hamil. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Bisa hamil dan melahirkan dengan lancar adalah harapan setiap wanita yang sedang menanti buah hatinya. Meski begitu, masalah kesehatan yang dialami ibu saat hamil bisa turut menimbulkan risiko pada bayi di dalam kandungan, seperti cerita yang dibagikan oleh Riana berikut ini.
ADVERTISEMENT
Riana memiliki gangguan kesehatan diabetes, sehingga ia perlu menjalani kehamilan dengan membatasi makanan manis dan terapi suntik insulin. Namun, kondisi kesehatannya semakin rumit ketika memasuki trimester kedua. Ya Moms, ia mulai merasakan gatal-gatal di seluruh tubuh serta nyeri pada telapak kaki dan punggung. Tidur malamnya pun tidak bisa nyenyak karena harus menahan rasa sakit yang begitu hebat.
Di usia kehamilan 29 minggu, dokter menyatakan dirinya mengalami preeklamsia atau kondisi kelebihan protein pada urine yang terjadi di usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Karena kondisi itu, Riana harus melahirkan bayi secara prematur untuk menyelamatkan si kecil dan ibunya, agar tidak sampai terjadi komplikasi.
Setelah bayinya lahir, ia tidak bisa melihat putri kecilnya karena langsung dibawa ke ruang NICU untuk perawatan intensif dengan menggunakan alat bantu pernapasan. Setelah dua bulan lahir, bayinya sempat dirujuk ke salah satu rumah sakit karena kondisi kesehatannya memburuk. Putri kecilnya pun tidak bisa terselamatkan dan meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Nah Moms, cerita Ibu Riana yang dibagikan lewat akun Instagram @kumparanMOM mendapat respons dari followers. Banyak yang memberikan peluk virtual untuk Riana agar tetap semangat.
"Peluk erat utk ibu riana dan ibu2 lainnya yg pernah kehilangan, turut berduka cita sedlm2nya ya bu.... *hugs*," tulis pemilik akun @disaster_angelic.
"Peluk Ibu Riana pasti hari-hari berat untuk dilalui. Tetap kuat bersama suami," kata akun @ria_purnamasari.
"Peluk hangat untuk si ibu dan keluarga❤️," tulis pengguna akun @hydendseeek.
Menjalani kehamilan yang sehat memang jadi hal yang sangat diinginkan oleh para ibu hamil. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bisa terjadi komplikasi dan penyakit yang mengganggu proses kehamilan. Bahkan, beberapa di antaranya bisa berujung fatal pada kesehatan ibu dan bayi apabila tidak mendapatkan penanganan sejak awal.
ADVERTISEMENT

Komplikasi Kesehatan pada Ibu Hamil, Penyebab dan Bagaimana Mengatasinya

Ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada ibu hamil selama menjalani kehamilannya. Ada yang hanya terjadi pada trimester awal, tapi ada juga yang berlanjut hingga trimester akhir hingga menjelang persalinan. Apa saja, ya?
Ibu hamil alami morning sickness. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ibu hamil alami morning sickness. Foto: Shutter Stock
1. Hyperemesis Gravidarum
Banyak wanita yang mengalami morning sickness (mual dan muntah) yang intens terutama pada trimester pertama kehamilan. Mengutip Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, penyebab mual dan muntah terjadi karena meningkatnya kadar hormon hCG yang dilepaskan oleh plasenta. Namun, pada kondisi hiperemesis gravidarum, mual dan muntah yang terjadi lebih parah serta berlangsung terus menerus selama kehamilan. Gangguan ini dapat menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi, bahkan mungkin memerlukan perawatan intensif.
ADVERTISEMENT
Beberapa faktor penyebabnya karena hamil pada usia sangat muda, kehamilan pertama, obesitas, hingga hamil anak kembar. Untuk mengobati komplikasi ini, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan, yakni makan dalam porsi sedikit namun sering, menjaga asupan cairan, pemberian cairan intravena apabila ibu hamil terus muntah, atau pemberian obat-obatan tertentu sesuai dengan resep dari dokter.
2. Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional adalah salah satu jenis diabetes yang terjadi selama masa kehamilan hingga proses persalinan. Bahkan, kondisi ini bisa terjadi sekali pun Anda tidak menderita diabetes sebelum hamil. Dilansir Mayo Clinic, apabila saat kehamilan Anda mengalami gangguan kesehatan ini, maka lebih berpeluang terkena lagi pada kehamilan berikutnya. Salah satu risiko terbesar apabila ibu hamil dengan kondisi diabetes gestasional adalah janin tumbuh lebih besar dari biasanya.
ADVERTISEMENT
Hal-hal yang membuat ibu hamil mungkin terkena penyakit ini antara lain obesitas, berat badan bertambah sangat cepat saat kehamilan, keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2, kadar gula tinggi, hingga kondisi sindrom ovarium polikistik (PCOS). Untuk mengatasi komplikasi diabetes ini, ibu hamil perlu berkonsultasi dengan dokter terkait perlukah melakukan diet dan jenis-jenis olahraga apa yang bisa dilakukan. Namun, tidak dipungkiri beberapa ibu hamil juga akan diberikan obat atau terapi insulin untuk mengontrol kadar gula darahnya.
Ilustrasi hipertensi saat hamil atau preeklamsia. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hipertensi saat hamil atau preeklamsia. Foto: Shutter Stock
3. Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi ketika arteri yang membawa darah dari jantung ke organ tubuh menyempit. Pada kehamilan, komplikasi ini bisa mempersulit aliran darah menuju plasenta yang berperan memberikan nutrisi dan oksigen ke janin. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko memperlambat pertumbuhan janin, persalinan prematur, hingga preeklamsia.
ADVERTISEMENT
Ibu hamil dengan kondisi hipertensi perlu mendapatkan pemantauan rutin dari dokter. Selain dikhawatirkan berkembang jadi preeklamsia, kondisi ini bisa berkembang juga menjadi hipertensi gestasional selama kehamilan.
4. Preeklamsia
Preeklamsia seperti yang dialami Riana memang bisa menyebabkan komplikasi kehamilan, bahkan jadi salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia. Preeklamsia adalah suatu kondisi ketika ibu hamil mengalami peningkatan tekanan darah dan kelebihan protein dalam urine. Gejala yang dialami seperti sakit kepala parah, nyeri pada tulang, hingga perubahan pada penglihatan.
Ibu hamil dengan riwayat tekanan darah tinggi, obesitas, hamil dengan usia sangat muda atau lebih dari 40 tahun, serta hamil anak kembar lebih berisiko terkena preeklamsia. Apabila Anda mengalami kondisi yang satu ini, biasanya dokter akan melakukan persalinan dini agar kondisi preeklamsia tidak semakin parah, dan bisa mencegah kematian pada ibu serta bayinya. Selain itu, konsultasikan ke dokter untuk membantu mengurangi risiko komplikasi ke depannya.
Ilustrasi plasenta previa pada ibu hamil. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi plasenta previa pada ibu hamil. Foto: Shutter Stock
5. Plasenta Previa
ADVERTISEMENT
Plasenta Previa adalah kondisi ketika ibu hamil dengan plasentanya berada di bawah rahim dan menghalangi jalan lahir bayi. Kondisi ini berisiko tinggi terjadi pada ibu hamil yang memiliki memiliki jaringan parut di rahim Anda dari kehamilan sebelumnya atau pernah melakukan operasi rahim.
Tidak ada cara yang bisa mencegah terjadinya plasenta previa. Kondisi ini bisa menyebabkan beberapa bumil mengalami pendarahan. Jika terjadi pendarahan hebat, mungkin dokter akan meminta Anda dirawat di rumah sakit atau menyarankan persalinan lebih cepat 2-4 minggu sebelum hari perkiraan lahirnya dengan operasi caesar.
6. Anemia
Penyakit yang satu ini cukup sering dialami oleh ibu hamil, yakni saat jumlah sel darah merah lebih sedikit dari kondisi normal. Wanita dengan anemia mungkin akan lebih cepat lelah dan lemah selama kehamilannya. Hal ini terjadi karena Anda kekurangan zat besi dan folat. Sehingga, sangat disarankan untuk meningkatkan asupan makanan yang tinggi zat besi dan asam folat selama kehamilan.
ADVERTISEMENT
7. Infeksi Saluran Kemih
Ilustrasi Ibu Hamil Infeksi Saluran Kemih. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu Hamil Infeksi Saluran Kemih. Foto: Shutter Stock
Ibu hamil juga rentan terkena infeksi saluran kemih. Hal ini terjadi ketika posisi rahim berada tepat di atas saluran kemih, dan ketika rahim membesar bisa menekan kandung kemih. Sehingga akhirnya menghalangi aliran urine dari kandung kemih, dan membuat bakteri menempel pada saluran kencing tersebut. Jika bumil mengalami kondisi ini, dokter biasanya akan meresepkan obat antibiotik sebagai pengobatannya.
8. Hamil Ektopik
Kehamilan ektopik adalah kondisi saat janin berkembang di luar rahim. Terkadang, gejala hamil ektopik tidak dirasakan oleh ibu hamil. Namun, waspadai apabila Anda merasakan rasa nyeri pada bagian perut bawah yang disertai dengan keluarnya flek berwarna cokelat pekat. Ada baiknya langsung konsultasikan ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Kejadian hamil di luar kandungan ini memang tak bisa dicegah, Moms. Sehingga, pastikan Anda rutin memantau perkembangan kehamilan ke dokter kandungan.
ADVERTISEMENT
9. Lahir Mati (Stillbirth)
Berbeda dengan keguguran, lahir mati terjadi ketika kondisi kehamilan sudah di atas 20 minggu. Setelah dari kasus lahir mati melaporkan tidak dapat menemukan penyebab pastinya terjadi komplikasi ini. Namun, beberapa kondisi kesehatan bisa meningkatkan risiko lahir mati, seperti kelainan kromosom, masalah plasenta, janin tidak tumbuh dengan baik, hingga masalah kesehatan kronis pada ibu.
=====
Yuk, baca lebih banyak #CeritaIbu yang inspiratif di Instagram @kumparanmom. Atau ingin ikut berbagi cerita? Bisa, Moms! Kirimkan saja cerita Anda lewat DM Instagram @kumparanmom.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020