Cerita Ibu: Suami Saya Meninggal Mendadak saat Menanti Kelahiran Anak Keempat

23 Maret 2023 19:08
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kebersamaan Ilas Shaliha dan keluarganya sebelum suami meninggal. Foto: Dok. Pribadi
ADVERTISEMENT
Tidak ada yang tahu kapan maut memisahkan sepasang suami istri. Ketika pasangan meninggal secara mendadak, hati siapa yang tidak hancur. Hal ini jugalah yang dirasakan Ilas Astuti atau Ilas Shaliha, yang harus mengetahui sang suami, Solihudin, meninggal secara mendadak saat dirinya tengah hamil dengan usia kandungan sembilan bulan.
ADVERTISEMENT
Ya Moms, di tengah kebahagiaan menanti kelahiran anak keempat yang tinggal menghitung hari, Ilas harus ditinggal selama-lamanya oleh suaminya. Kepada kumparanMOM, Ilas bercerita tentang kepergian sang suami, bagaimana ia berusaha menerima kenyataan, dan apa yang membuatnya kuat menjalani kehidupan sebagai single mom.

Kepergian Suami yang Mendadak

Usia kandungan Ilas sudah menginjak 35 minggu dan harus dirawat di rumah sakit karena demam akibat hipertiroid yang diidapnya. Saat itu, Solihudinlah yang menemaninya selama dirawat di rumah sakit.
Hari itu, 4 Juni 2022, menjadi hal yang tidak akan pernah dilupakannya. Bermula ketika waktu Subuh, sang suami membangunkan Ilas untuk izin mengambil air wudu. Saat wudu, almarhum mengalami kejang lalu pingsan. Ilas langsung memanggil tim medis, dan suaminya pun sempat sadar.
ADVERTISEMENT
"Mau dibawa ke UGD menolak karena ingin ibadah salat dulu. Terus habis itu keluar, pakai baju yang rapi, salat. Abis salat, ngobrol sama saya sebentar. Karena nunggu pihak keluarga untuk ngantar nanti antar ke UGD. Pada saat nungguin orang datang, di atas sajadah, saya di ranjang, dia pegang tangan saya, tangannya jatuh. Saya lihat ada kejang lagi terus tim medis datang," cerita Ilas.
Setelah dibawa, ia hanya mengetahui bahwa suaminya sedang ditindak oleh tim medis. Waktu pun berlalu tanpa ada jawaban apa pun tentang apa yang dialami suami. Saat pukul 10.00, Ilas mendapat kabar dari mertua laki-kakinya bahwa sang suami sudah meninggal dunia.
"Karena dokter enggak mau kasih tahu saya, keluarga juga enggak ada yang berani karena posisinya sudah pembukaan satu. Nah kebetulan jam 10 pagi saya dikasih tahu beliau sudah di ruang jenazah. Saya yang sakit, beliau yang meninggal saat itu," tutur dia.
ADVERTISEMENT
Bak petir di siang bolong. Ilas tidak percaya ketika diberi kabar tersebut. Ia tak kuasa menahan tangisannya, di sisi lain Ilas tengah berusaha menguatkan diri karena sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.
Dengan memakai kursi roda dan oksigen, Ilas pun dibawa ke ruang jenazah untuk melihat suaminya untuk terakhir kalinya. Karena masih syok, Ilas sampai tidak tahu harus berdoa apa, karena ia berharap pasangan hidupnya akan bangun lagi.
"Saya sampai bilang, "Ayah kenapa? Tadi enggak kenapa-napa". Saya sampai enggak bisa berdoa di situ, saya lupa harus doa apa. Sampai banyak yang bilang istigfar, berdoa. Enggak bisa, karena belum terima. Jadi cuma anak saya yang paling pertama kan datang pagi-pagi. Dia bisa baca ayat kursi di kepalanya, saya enggak. Saya benar-benar, lagi hamil besar, bentar lagi mau melahirkan. Terus suami saya terbujur kaku, ya saya enggak terima saat itu sebenarnya," ungkap Ilas.
ADVERTISEMENT
Menurut keterangan dokter, Solihudin meninggal akibat jantung dan pecah pembuluh darah di kepala. Padahal, sebelumnya almarhum tidak pernah menunjukkan tanda-tanda sakit parah.

Kembali Bangkit Demi Anak-anak

Beberapa hari setelah suami meninggal, sang putri kecil sekaligus anak keempatnya lahir dan diberi nama Cyra. Namun, sebelum Cyra lahir, Ilas sempat merasa tidak sanggup untuk mengurus anak-anaknya kelak.
"Tapi pas lihat Cyra lahir, yaallah ini enggak sempat ketemu bapaknya. Saya harus hidup saya harus kuat," ucap dia.
Di bulan-bulan awal setelah melahirkan, Ilas merasa hidupnya hampa dan bahkan tidak bisa fokus mengurus keluarganya.
Meski begitu, tantangan lain juga dihadapi Ilas. Ia harus menghadapi kondisi baby blues dan selalu sedih setiap mengingat kini ia harus menyusui dan begadang sendirian tanpa suami di sampingnya.
ADVERTISEMENT
Namun setelah empat bulan, ia mulai memiliki kekuatan dan menegaskan dirinya harus maju dan kuat.
"Kalau dibilang mah banyak keajaiban sih karena 8 bulan ini dipikir-pikir saya enggak kerja. Ya ada, lah, tangan-tangan yang nolongin gitu. Yang dulunya suami saya suka ngasih, sekarang saya yang dikasih," ujar Ilas.
Setelah suami berpulang, ibunda lah yang menemani Ilas menjalani kehidupan. Sang Mama-lah yang membantunya dan menemani di saat pikirannya tengah kacau. Lalu ada keluarga dari almarhum suami yang banyak membantunya, begitu juga tetangga di sekitar rumahnya.
Bagaimana dengan rencana masa depan keempat anaknya setelah ia kini menjadi single mom? Ilas belum berencana sejauh itu. Namun prinsipnya, ia perlu merencanakan hal-hal terdekat terlebih dahulu. Meski begitu, Ilas pernah mengkhawatirkan bagaimana ia harus membesarkan keempat anaknya. Karena biasanya, mendidik anak lebih banyak dilakukan oleh suaminya.
ADVERTISEMENT

Sosok Suami yang Tidak Akan Tergantikan

Sampai saat ini setelah 8 bulan kepergian suami, Ilas selalu mengenang sosoknya yang begitu baik, saleh, dan bertanggung jawab.
"Meninggalnya pun semua orang enggak bisa lupa. Sampai sekarang sudah mau 8 bulan kok kayak masih ada aja gitu. Terus sabar, sabarnya kan susah seperti beliau sabar tuh enggak bisa. karena saya dulu manja ya, saya termasuk tipikal manja. Apa pun, suami yang turun tangan," cerita Ilas.
Tidak ada pikiran negatif yang terlintas di benak Ilas sebelum suami meninggal. Tetapi sebelum hari itu, suami pernah mengingatkannya agar jangan melupakan salat dan lebih sering membaca Al-Quran.
"Kalau sebelum-sebelumnya mah lebih ke baju, baju kan saya biasa digantung. minta diturunin. Minta diturunin trus bilangnya biar gampang bagiinnya, mau dikasihin. Terus bilang, ibu, kalau ayah pergi katanya ayah yakin ibu pasti bisa. Kirain saya ya pergi ke mana gitu, ternyata maksudnya ini," ucap Ilas.
ADVERTISEMENT
Dan terakhir, ada satu pesan suami yang selalu diingat dan akan terus menjadi pegangannya juga. Yaitu setiap lagi kondisi sedih atau terpuruk, ia harus tetap mengingat Allah SWT.
"Setiap saya lagi down, lagi susah nggak bisa mikir apa-apa. Beliau suka bilang, ingat sama Allah. Itu aja pegangan kita. Dan jangan berharap sama manusia, selalu itu. Dan memang benar gitu pas sekarang saya praktikin. Sesulit apa pun saya, wah kalau saya nggak punya iman rasanya saya pengin mati aja," tutur dia.

Pesan untuk Pasangan Lain Agar Tidak Ada Penyesalan

Tidak ada yang ingin ditinggalkan pasangan begitu cepat dan mendadak. Meski sempat terpuruk, Ilas yakin kehidupan bersama pasangan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya agar tidak ada penyesalan.
ADVERTISEMENT
Menurut Ilas, sampai saat ini ia berusaha bangkit dan kuat karena ingin membalas kebaikan suaminya, yang belum sempat dibalasnya saat masih hidup.
"Dan saya belum balas jadi pada saat suami meninggal saya bisa kuat seperti ini karena saya belum balas kebaikannya," tegas dia.
Ia pun mengingatkan para istri maupun pasangan lainnya agar terus mengingat siapa lagi yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan Anda. Begitu juga kalau semisal Anda sedang kesal dengan suami, Ilas pun memberikan pesan khususnya.
"Jadi yang untuk masih punya pasangan. Kita kalau lihat baiknya pasangan kayaknya sedikit gitu. Buruknya kok banyak terus pasangan orang lain kok lebih bagus. Karena hati kita masih ketutup, coba kita lihat pasangan kita yang paling nerima kita, paling sabar kalau anak kita rewel. Apakah ada yang seperti itu? Kayaknya sulit," ungkap Ilas.
ADVERTISEMENT
"Ya harus kuat, tetapi jangan memaksakan kuat karena dengan bisa melewati hari-hari setiap hari itu sudah luar biasa," pungkasnya.
-----
Dapatkan informasi terupdate seputar dunia parenting dan motherhood setiap hari hanya di Moms Update! Cari tahu informasi lengkapnya di sosial media kumparanMOM! Klik di sini