Kumparan Logo

Cerita Pejuang IVF yang Memilih Bangkit Lagi Setelah Programnya Belum Berhasil

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cerita Mira, yang memilih bangkit lagi meski belum berhasil IVF. Foto: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Cerita Mira, yang memilih bangkit lagi meski belum berhasil IVF. Foto: Pribadi

Menikah bukan berarti harus segera memiliki anak. Setidaknya, itulah yang diyakini Mira, seorang perempuan yang telah menjalani 10 tahun pernikahan bersama suaminya.

Di tahun-tahun awal pernikahan, Mira dan pasangan memilih menikmati waktu berdua. Menikah pada usia 26 tahun membuatnya merasa masih memiliki banyak waktu untuk memikirkan kehadiran buah hati.

"Kita sangat santai, cenderung menunda waktu baru menikah. Ternyata makin dijalani berdua, kok enjoy-enjoy aja ya," ujar Mira kepada kumparanMOM.

Namun, memasuki usia 30-an, percakapan tentang anak mulai muncul. Terlebih saat pandemi, ketika ia dan suami menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Melihat koleksi buku dan berbagai barang yang selama ini mereka kumpulkan bersama, muncul pertanyaan sederhana yang ternyata begitu membekas.

"Nantinya diwariskan ke siapa ya?"

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan mereka untuk memiliki anak.

Menemukan Kendala yang Tak Pernah Disadari

Ilustrasi kista. Foto: Shutterstock

Pada 2019, ia mulai merasakan nyeri hebat saat menstruasi. Kondisi tersebut membuatnya memutuskan memeriksakan diri ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

Dari pemeriksaan itulah diketahui adanya beberapa kendala, salah satunya kista.

Meski dokter menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan penghalang mutlak untuk hamil, keberadaannya membuat perjalanan menuju kehamilan menjadi lebih menantang.

Saat itu, fokus utama masih pada penanganan rasa sakit yang dialaminya. Hingga akhirnya, pada 2024, ia dan suami memutuskan untuk benar-benar serius menjalani program kehamilan.

Pilihan mereka jatuh pada program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).

Keputusan tersebut tidak diambil secara terburu-buru. Mereka menghabiskan waktu untuk mencari informasi, membaca berbagai pengalaman pejuang IVF, berdiskusi dengan teman-teman yang pernah menjalani program serupa, hingga mempertimbangkan kesiapan finansial.

"Yang paling dipertimbangkan sebelum memulai IVF adalah riset tentang rumah sakit, dokter, pengalaman orang-orang yang berhasil maupun yang belum berhasil, dan tentunya kesiapan dana," ujarnya.

Bukan Suntikan yang Paling Menegangkan

Ilustrasi Bayi Tabung. Foto: Shutterstock

Banyak orang membayangkan IVF sebagai proses yang berat secara fisik dan emosional. Namun pengalaman yang Mira rasakan sedikit berbeda.

Baginya, suntikan hormon harian yang sering menjadi momok bagi sebagian perempuan justru bukan bagian yang paling sulit.

Ia bahkan bisa melakukan suntikan sendiri di rumah.

Yang justru membuatnya terus diliputi rasa cemas adalah banyaknya tahapan yang harus dilewati selama program berlangsung.

Setiap tahap terasa seperti sebuah checkpoint yang menentukan apakah perjalanan bisa berlanjut atau harus berhenti.

Mulai dari pemeriksaan hormon, stimulasi ovarium, pemantauan perkembangan sel telur, hingga proses pengambilan sel telur.

"IVF itu program yang checkpoint-nya banyak banget. Di setiap fase ada kemungkinan gagal," katanya.

Dan kekhawatiran itu ternyata menjadi kenyataan.

Saat Perjalanan Harus Berhenti

Ilustrasi perjalanan pasangan di program IVF. Foto: New Africa/Shutterstock

Setelah melalui berbagai tahapan, tibalah saat pengambilan sel telur atau ovum pick up (OPU).

Dari seluruh proses stimulasi yang dijalani, hanya satu sel telur yang memenuhi syarat untuk diambil.

Meski sempat mencoba tetap optimistis, ia menyadari peluang yang dimiliki memang tidak besar. Harapan yang tersisa akhirnya pupus ketika tim laboratorium menghubunginya sekitar 24 jam setelah prosedur dilakukan.

Saat itu ia sedang berada di tengah-tengah rapat kerja.

Kabar yang diterima cukup singkat: kualitas sel telur yang berhasil diambil tidak cukup baik untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Artinya, proses IVF mereka harus berhenti sampai di sana.

Sel telur tersebut tidak dapat dibuahi, tidak berkembang menjadi embrio, dan tidak pernah sampai pada tahap transfer ke rahim.

"Saat OPU, telur yang diambil kualitasnya tidak bagus. Jadi proses IVF kami berhenti sampai di situ," ujarnya.

Sesaat setelah menerima kabar itu, ia langsung menghubungi suaminya. Tak ada tangisan panjang atau luapan emosi yang besar. Yang ada hanyalah momen hening untuk mencerna kenyataan bahwa usaha yang telah dijalani belum membuahkan hasil.

Memilih Bersyukur dan Mencoba Lagi

Ilustrasi perjalanan pasangan di program IVF. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock

Malam harinya, ia dan suami berbincang lebih banyak mengenai perjalanan yang baru saja mereka lalui. Mereka sepakat untuk melihat kegagalan tersebut sebagai bagian dari proses, bukan akhir dari segalanya.

Alih-alih saling menyalahkan atau terpuruk dalam kesedihan, keduanya memilih fokus pada hal-hal yang masih bisa mereka kendalikan.

Memperbaiki pola hidup. Lebih rutin berolahraga. Menyiapkan kondisi tubuh yang lebih baik. Dan tentu saja, menabung kembali untuk kesempatan berikutnya.

Pengalaman IVF pertama ini juga tidak mengubah hubungan mereka sebagai pasangan. Justru sebaliknya, perjalanan tersebut semakin mengingatkan mereka pentingnya berjalan bersama dan saling mendukung.

"Kita malah saling ingetin, ayo nabung lagi buat nyoba. Aku juga jadi lebih aktif olahraga dan memperbaiki pola makan," katanya.

Kini, ia dan suami telah memiliki rencana untuk kembali mencoba IVF, baik tahun ini maupun tahun depan. Meski hasil pertama belum sesuai harapan, pengalaman tersebut tidak membuatnya kapok.

Sebaliknya, ia merasa semakin yakin untuk terus berusaha.

Untuk Sesama Pejuang Dua Garis

Ilustrasi perjalanan pasangan di program IVF. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Dari seluruh perjalanan yang dilalui, ada satu pesan yang ingin ia bagikan kepada perempuan lain yang sedang berjuang mendapatkan buah hati.

Menurutnya, penting untuk memiliki harapan dan optimisme selama menjalani program kehamilan. Namun di saat yang sama, perlu disadari bahwa perjalanan menuju kehamilan tidak selalu berjalan mulus.

Kegagalan bukanlah sesuatu yang hanya dialami oleh segelintir orang.

Ia bahkan bertemu banyak perempuan lain yang tetap berjuang meski telah menjalani IVF berkali-kali.

"Kalau gagal jangan takut mencoba lagi. Karena di setiap prosesnya pasti ada pembelajaran," ujarnya.

Baginya, setiap usaha yang dilakukan tetap memiliki makna, apa pun hasil akhirnya.

Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju kehadiran anak bukan hanya tentang hasil yang ingin dicapai, tetapi juga tentang bagaimana pasangan belajar saling menguatkan, menjaga harapan, dan terus melangkah bersama.