China Kembangkan Robot dengan Rahim Buatan, Bisa Mengandung dan Melahirkan Bayi
·waktu baca 3 menit

China dilaporkan sedang merancang robot kehamilan pertama di dunia yang dirancang memiliki rahim buatan di perutnya. Dengan adanya rahim buatan, maka memungkinkan robot tersebut mengandung janin sekitar 10 bulan sebelum melahirkan. Kok bisa?
Dr. Zhang Qifeng, seorang doktor dari Nanyang Technological University, Singapura, yang juga pendiri Kaiwa Technology di Guangzhou, China, merupakan pemimpin dari proyek ini.
Dr. Qifeng menjelaskan, berbeda dengan inkubator yang digunakan untuk merawat bayi prematur, robot berbentuk humanoid ini akan mereplikasi seluruh proses kehamilan, mulai dari konsepsi atau pembuahan hingga proses persalinannya.
"Teknologi rahim buatan ini sudah dalam tahap yang matang. Dan sekarang perlu ditanamkan ke dalam perut robot agar seperti manusia sungguhan. Dan robot ini dapat 'berinteraksi' untuk mencapai kehamilan, yang memungkinkan janin tumbuh di dalamnya," ujar Qifeng kepada media China, Chosun Biz.
Nantinya, robot ini akan memiliki rahim buatan yang diisi dengan cairan ketuban, sehingga memungkinkan janin untuk tumbuh. Kemudian asupan nutrisi akan mengalir melalui selang, yang disebut fungsinya akan sama seperti tali pusar. Robot ini juga dirancang untuk bisa berinteraksi dengan manusia, serta menjalani kehamilan secara real time.
Dr. Qifeng merujuk sebuah percobaan pada hewan sebelumnya pada tahun 2017. Kala itu, para peneliti dari Children’s Hospital of Philadelphia berhasil membiarkan seekor domba prematur berkembang di dalam rahim buatan yang disebut biobag. Selama empat minggu, domba tersebut mulai tumbuh bulu, yang menunjukkan kehamilan di luar tubuh induknya ternyata memungkinkan.
Robot dengan Rahim Buatan Banyak Dipertanyakan, Ini Jawaban Penciptanya!
Inovasi ini menimbulkan banyak pertanyaan, termasuk bagaimana sel telur dan sperma akan dibuahi lalu dimasukkan ke dalam rahim buatan. Serta, bagaimana robot tersebut akan melahirkan bayinya. Belum lagi menghadapi masalah etika dan hukum. Namun, Qifeng berusaha menjawab kekhawatiran masyarakat.
"Kami telah mengadakan forum diskusi dengan pihak berwenang di Provinsi Guangdong (China) dan mengajukan proposal terkait pembahasan kebijakan dan undang-undang," tutur Qifeng.
Jika rencana berjalan lancar, maka prototipe robot ini diperkirakan akan dirilis pada tahun 2026 mendatang dengan harga berkisar 100.000 yuan atau sekitar Rp 226 juta.
Kemajuan teknologi khususnya pada teknologi reproduksi dianggap bisa menciptakan peluang baru bagi pasangan yang menghadapi masalah infertilitas. Bagi beberapa orang, kehadiran robot ini bisa menjadi harapan bagi mereka yang memiliki hambatan fisik dan emosional, yang kerap menjadi faktor penyulit pembuahan.
Di saat yang bersamaan, hadirnya inovasi ini menjadi pertanyaan besar tentang bagaimana hubungan antarmanusia, peran sebagai ibu, dan proses kehamilan yang dijalani. Karena ikatan unik yang terbentuk antara ibu dan bayi selama kehamilan merupakan pengalaman yang sangat manusiawi, dan tidak dapat ditiru oleh mesin mana pun.
Bagaimana pendapat Anda soal inovasi teknologi reproduksi ini, Moms?
