Kumparan Logo

Ciri-ciri Mata Minus pada Anak yang Sering Tak Disadari Orang Tua

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak pakai kacamata. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak pakai kacamata. Foto: Shutter Stock

Mata minus atau miopia kini semakin sering ditemukan pada anak-anak usia sekolah. Dikutip dari Healthline, miopia adalah kondisi ketika seseorang dapat melihat objek dekat dengan jelas, tetapi kesulitan melihat objek yang jauh. Kondisi ini biasanya mulai muncul di usia 6–14 tahun dan dapat memburuk seiring pertumbuhan anak, terutama bila tidak ditangani sejak dini.

Para ahli menilai meningkatnya kasus mata minus pada anak tak lepas dari kebiasaan modern seperti terlalu lama menatap layar gadget, kurangnya aktivitas luar ruangan, hingga pencahayaan yang tidak memadai saat belajar. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali gejalanya lebih awal sebelum kondisi anak semakin parah.

Ciri-ciri Mata Minus pada Anak

Ilustrasi anak pakai kacamata. Foto: Shutter Stock
  1. Anak sering menyipitkan mata

    Salah satu tanda paling umum dari mata minus adalah anak sering menyipitkan mata saat melihat objek jauh. Menurut laman Moa Eyes, ini dilakukan untuk memperjelas fokus dan membantu mata menangkap gambar dengan lebih tajam. Jika anak sering melakukan ini saat menonton televisi atau melihat papan tulis di sekolah, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan mata.

  2. Sering mengucek mata atau tampak lelah

    Anak dengan miopia cenderung cepat lelah saat beraktivitas yang membutuhkan fokus visual. Mereka mungkin mengucek mata, mengeluh pusing, atau mengedip berulang kali. Menurut KidsHealth, ini merupakan reaksi alami mata yang berusaha mengurangi ketegangan akibat penglihatan kabur.

  3. Memegang buku atau layar terlalu dekat

    Kebiasaan membaca buku, menulis, atau menonton video dengan jarak sangat dekat juga bisa menjadi sinyal awal mata minus. Laman MiSight, produsen lensa khusus anak dengan miopia, menjelaskan bahwa anak melakukan ini secara tidak sadar untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas.

  4. Sering duduk dekat dengan televisi atau papan tulis

    Jika anak selalu memilih duduk paling depan di kelas atau terlalu dekat ke televisi di rumah, hal ini juga patut dicurigai. Menurut Moa Eyes, anak dengan penglihatan normal biasanya tidak perlu mendekatkan diri sejauh itu untuk melihat jelas.

  5. Sering mengeluh sakit kepala

    Rasa tegang di area mata akibat berusaha fokus pada objek jauh bisa memicu sakit kepala. Healthline menyebut, gejala ini sering muncul tanpa disadari dan biasanya mereda setelah anak berhenti beraktivitas visual intens, seperti membaca atau menonton layar.

Kenapa Perlu Diperhatikan Sejak Dini?

Ilustrasi anak balita pakai kacamata. Foto: Shutterstock

Miopia pada anak tidak hanya membuat penglihatan menjadi kabur, tetapi juga berisiko memburuk seiring pertumbuhan bola mata. Healthline mencatat, miopia berat bisa meningkatkan risiko gangguan serius seperti robekan retina, glaukoma, atau bahkan kebutaan di usia dewasa.

Kabar baiknya, kondisi ini bisa dikendalikan meskipun tidak bisa sembuh total. Namun dalam beberapa kasus miopia bisa sembuh dengan sendirinya terutama selama masa kanak-kanak dan remaja. Hal ini karena bola mata tumbuh dan berkembang selama masa-masa ini.

Pemeriksaan mata rutin setiap tahun, penggunaan lensa korektif sesuai resep, dan membatasi waktu layar juga dapat memperlambat progres miopia. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa bermain di luar ruangan setidaknya dua jam per hari dapat membantu mencegah perkembangan mata minus karena paparan cahaya alami mendukung kesehatan retina.