Kumparan Logo

Dokter Obgyn: Jenis Kelamin Bayi Ditentukan dari Sperma Ayah

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi usg bayi. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi usg bayi. Foto: Getty Images

Banyak pasangan memiliki harapan tertentu mengenai jenis kelamin calon bayinya. Tak sedikit pula yang mencoba berbagai cara, mulai dari mengatur pola makan hingga menentukan waktu berhubungan intim, dengan harapan bisa mendapatkan bayi laki-laki atau perempuan. Namun, benarkah cara-cara tersebut terbukti secara ilmiah?

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Andrew Yurius Christian, SpOG, menjelaskan bahwa jenis kelamin bayi pada dasarnya memang ditentukan oleh sperma yang berasal dari ayah.

Jenis Kelamin Bayi Ditentukan oleh Sperma Ayah

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Andrew Yurius Christian, SpOG dalam podcast Ask the Expert kumparanMOM. Foto: kumparan

Menurut dr. Andrew, perempuan hanya memiliki kromosom seks XX sehingga seluruh sel telurnya selalu membawa kromosom X. Sementara itu, laki-laki memiliki kromosom XY sehingga spermanya dapat membawa kromosom X atau kromosom Y.

Saat proses pembuahan terjadi, kromosom dari sperma akan bertemu dengan kromosom X dari sel telur.

-Sperma berkromosom X + sel telur X = XX (bayi perempuan)

-Sperma berkromosom Y + sel telur X = XY (bayi laki-laki)

“Karakteristik sperma Y adalah yang bergerak cepat, namun lebih rentan sehingga lama hidupnya diperkirakan lebih pendek, tidak lebih daripada 24 jam,” ucap dr. Andrew kepada kumparanMOM.

ilustrasi jenis kelamin anak Foto: Shutterstock

Mitos: Makanan dan Waktu Berhubungan Bisa Menentukan Jenis Kelamin Bayi

Di masyarakat beredar berbagai mitos tentang cara mendapatkan bayi dengan jenis kelamin tertentu. Misalnya, mengonsumsi makanan tertentu, mengubah pola hidup, atau memilih waktu khusus untuk berhubungan intim.

Namun, menurut dr. Andrew, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa makanan, gaya hidup, maupun waktu berhubungan intim dapat memengaruhi jenis kelamin bayi.

Beberapa pasangan juga masih mempercayai teori bahwa berhubungan intim tepat saat ovulasi akan meningkatkan peluang memiliki anak laki-laki. Teori ini didasarkan pada anggapan bahwa kondisi vagina yang lebih basa lebih mendukung sperma berkromosom Y.

Ilustrasi USG bayi. Foto: ANUCHIT MANMAI/Shutterstock

Sebaliknya, ada pula anggapan bahwa berhubungan intim satu atau dua hari sebelum ovulasi dapat meningkatkan peluang memiliki anak perempuan karena kondisi vagina dianggap lebih asam dan lebih mendukung sperma berkromosom X.

“Namun hanya sedikit bukti ilmiah yang mendukung teori ini sehingga persentase berhasilnya tidak tinggi,” ujar dr. Andrew.

Adakah Cara Memilih Jenis Kelamin Bayi?

Menurut dr. Andrew, apabila pasangan ingin meningkatkan peluang mendapatkan jenis kelamin tertentu, salah satu metode yang memiliki peluang lebih tinggi adalah sperm sorting yang dilakukan dalam program inseminasi intrauterin (IUI).

Ilustrasi ibu hamil melakukan pemeriksaan di dokter. Foto: Shutterstock

Sementara itu, metode dengan tingkat kepastian paling tinggi adalah program bayi tabung (IVF) yang dikombinasikan dengan Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A). Melalui pemeriksaan tersebut, kromosom embrio dapat dianalisis sebelum dipindahkan ke dalam rahim sehingga jenis kelamin embrio sudah diketahui.

Meski demikian, prosedur tersebut dilakukan berdasarkan indikasi medis maupun pertimbangan tertentu sesuai rekomendasi dokter, bukan semata-mata untuk memenuhi preferensi jenis kelamin bayi ya, Moms.

kumparan post embed