Dongeng Anak Nabi Ibrahim yang Penuh Hikmah
·waktu baca 4 menit

Menanamkan nilai keagamaan pada si kecil bisa dilakukan dengan membacakan kisah-kisah nabi, salah satunya dongeng anak Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim memiliki banyak keistimewaan yang harus diketahui setiap umat Muslim, termasuk anak-anak.
Salah satu keistimewaannya adalah sebagian besar keturunannya menjadi nabi juga. Inilah kenapa beliau mendapatkan julukan bapak para nabi atau Abul Anbiya.
Nabi Muhammad SAW juga termasuk keturunan langsung dari Nabi Ibrahim. Oleh karena itu, kisah hidup Nabi Ibrahim yang penuh liku bisa diajarkan kepada anak sejak dini agar mereka bisa memetik pelajaran yang bermanfaat, Moms.
Allah SWT juga berfirman dalam surat An-Nahl bahwa Nabi Ibrahim adalah sosok panutan yang harus diikuti semua orang. “Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok panutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik.” (Q.S An-Nahl: 120)
Dongeng Anak Nabi Ibrahim
Bagi Anda yang ingin mengajarkan kisah Nabi Ibrahim kepada si kecil, berikut ini referensi kisahnya dikutip dari laman Cendikia Kemenag.
Nabi Ibrahim adalah putra dari Azar (Tharih bin Tahur) yang lahir di Fadam A’ram, sebuah wilayah dalam kerajaan Babilonia. Ia tumbuh di bawah kekuasaan Raja Namrud bin Kan’an yang seluruh rakyatnya menyembah berhala.
Ayahnya yang berprofesi sebagai pembuat patung juga mengikuti arus kepercayaan setempat. Ia sering memerintahkan Ibrahim untuk menjajakan patung buatannya ke pasar.
Saat berjualan, Ibrahim muda selalu berteriak, “Siapa yang mau membeli patung yang tidak bisa bicara, tidak bisa memberi rezeki dan tidak bisa mendatangkan manfaat ini?”
Ketika Ibrahim beranjak dewasa, ia menolak perilaku masyarakat di wilayahnya yang menyembah berhala. Sampai pada suatu hari, Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang kecil, dan menyisakan berhala yang paling besar. Kemudian ia mengalungkan kapak di leher berhala besar itu.
Mengetahui berhala sesembahannya hancur, sontak saja masyarakat marah dan menduga-duga siapa pelakunya. Mereka pun menyimpulkan bahwa Ibrahim-lah pelakunya.
Ibrahim membantah. “Mungkin patung besar itu yang melakukannya. Bukankah ada kapak di lehernya?”
Tentu saja penduduk tidak percaya dengan jawaban Ibrahim. “Tidak mungkin patung itu yang melakukannya,” seru mereka. Kemudian Ibrahim dibawa ke hadapan Raja Namrud.
Di hadapan raja dan para penduduk, Ibrahim berseru, “Jika kalian ingin tahu yang sebenarnya, coba tanyakan kepada patung besar itu.”
“Bagaimana mungkin patung bisa berbicara menjelaskan semua ini?” bantah mereka.
“Nah, kalian tahu sendiri, patung ini tidak berdaya apa-apa. Jangankan memberi pertolongan, berbicara saja ia tak mampu. Mengapa kalian terus saja memujanya?” tanya Ibrahim.
Mendengar jawaban Ibrahim, Raja Namrud malah semakin murka. Ia menyuruh rakyatnya mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Nabi Ibrahim. Namun, Nabi Ibrahim tidak gentar sebab ia yakin dengan pertolongan Allah SWT.
Benar saja, kobaran api itu tidak berhasil membakar Ibrahim berkat kuasa Allah SWT. Akhirnya, ini menjadi salah satu mukjizat Nabi Ibrahim; tidak habis terbakar api.
Kisah Nabi Ibrahim Membangun Kakbah
Pada suatu hari, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa istrinya Hajar dan anaknya Ismail ke sebuah tempat yang kering dan tandus. Meskipun tidak tega, tapi Nabi Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya dengan perbekalan ala kadarnya di sana.
Awalnya Siti Hajar merasa keberatan ditinggalkan di sana, tapi saat mengetahui bahwa itu perintah dari Allah SWT, akhirnya beliau menerima keadaan itu.
Saat perbekalan mulai habis, Siti Hajar berlari ke sana dan ke mari untuk mencari air. Ia mengitari bukit Shafa dan Marwah sambil berharap menemukan air. Namun, sampai pada puncak kelelahannya, ia tidak menemukan satu tetes air pun.
Akhirnya, Siti Hajar kembali ke tempat di mana bayinya diletakkan. Di tengah situasi yang hampir membuatnya putus asa, ia menemukan sesuatu yang tak terduga. Gerakan kaki Ismail yang meronta ke tanah ternyata memancarkan air. Tempat itu akhirnya dinamakan sumur zam-zam.
Ketika Allah memerintahkan membangun ka'bah, Ibrahim pun bergegas untuk datang ke Makkah. Makkah yang dulunya gersang dan tandus telah berubah menjadi subur berkat air zamzam.
Ismail pun sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang cerdas dan tangkas. Kepada anaknya tersebut, Ibrahim berkata “Allah memerintahkan aku agar membangun Baitullah untuk-Nya.”
Ismail kecil menjawab, “Laksanakanlah perintah-Nya, aku akan membantu urusan ayah”. Dengan demikian, berdirilah ka'bah yang menjadi kiblat seluruh umat Muslim di dunia.
Baca Juga: Manfaat Sering Bacakan Anak Dongeng Sebelum Tidur
