Kumparan Logo

Dongeng, Puisi dan Salawat untuk Kenalkan Sosok Nabi Muhammad pada Anak

kumparanMOMverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Apakah kita sudah mendidik anak dengan baik seperti yang ditelandankan oleh Sang Nabi? Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Apakah kita sudah mendidik anak dengan baik seperti yang ditelandankan oleh Sang Nabi? Foto: Shutterstock

Kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi diperingati hari ini, Kamis (29/10). Maulid Nabi, juga bisa kita jadikan momen refleksi diri. Apakah kita sudah mendidik anak dengan baik seperti yang ditelandankan oleh Sang Nabi?

Hal ini dipesankan juga oleh Pemimpin Pondok Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Menurut KH.Husein Muhammad, mendidik anak seyogyanya tidak dengan model indoktrinasi. Sebab cara ini tidak menciptakan kesadaran diri pada si kecil.

Ia berpesan, didiklah anak dengan mengajak mereka berpikir sehat, tanpa memaksakan kebenaran diri dan tanpa emosi atau marah.

Caranya? Antara lain dengan mengajak jalan-jalan melihat realitas maupun mendongeng. Misalnya, bercerita pada anak tentang momen kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dongengkan Anak Kisah Kelahiran Nabi Muhammad

Ilustrasi bercerita pada anak tentang Nabi Muhammad Foto: Shutterstock

Dalam acara Peringatan Maulud Akbar yang diselenggarakan oleh PP DDI (Darud Dakwah wal Irsyad Dakwah Islam), Sulawesi Selatan (24/10), KH.Husein menyampaikan bahwa ketika Nabi Muhammad lahir, Malaikat di langit menyiarkan beritanya dengan suara riuh rendah. Jibril datang dengan suara gembira. Arasy bergetar. Para bidadari (dan bidadara) surga keluar menebarkan aroma wewangian.

Ketika Muhammad lahir, Aminah, ibunya, melihat cahaya menyinari istana Bosra. Malaikat mengelilinginya dan membentangkan sayap-sayapnya sambil menyenandungkan puja puji kepada Tuhan”.

Malam kelahiran Nabi adalah malam yang bertaburan cahaya yang memancar dari langit biru bening.

Nah Moms, kita bisa menyampaikan hal ini pada anak dan mengajak mereka membayangkannya. Seperti dongeng pengantar tidur yang indah!

Senandung Salawat untuk Nabi Muhammad

Ilustrasi anak muslim Foto: Shutterstock

Selain dongeng, kita juga bisa menyenandungkan kidung-kidung madah dan puisi-puisi Na’tiyah (pujian) terkait kelahiran Nabi Muhammad. KH.Husein mencatat salah satunya dari Syeikh Al-Barzanji, berikut ini:

يَا نَبِى سَلَامٌ عَلَيكَ يَا رَسُول سَلَام عَلَيكَ

يَا حَبِيبُ سَلَام عَلَيكَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيكَ

أَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَينَا فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُورُ

مِثْلَ حُسْنِك مَا رَأَيْنَا قَطُّ يا وَجْهَ السُّرُورِ

أَنْتَ شَمْسٌ أَنْتَ بَدْرٌ أنْتَ نُورٌ فَوْقَ نُورٍ

أَنْتَ إِكْسِيرٌ وَغاَلىِ أَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُورِ

يَا حَبِيب يَا مُحَمَّد يَا عَرُوسَ الخَافِقَينِ

يَا مُؤَيَّد يَا مُمَجَّد يَا إِمَامَ الْقِبْلَتَينِ

Artinya:

Aduhai Nabi, Selamat dan Damailah Engkau

Aduhai Rasul, Selamat dan Damailah Engkau

Aduhai kekasih, Selamat dan Damailah Engkau

Sejahteralah Engkau

Telah terbit purnama di tengah kita

Maka tenggelam semua purnama

Seperti cantikmu tak pernah kupandang

Aduhai wajah ceria

Engkaulah matahari,

Engkaulah purnama

Engkaulah cahaya di atas cahaya

Engkaulah permata tak terkira

Engkaulah lampu di setiap hati

Aduhai kekasih, aduhai Muhammad

Aduhai pengantin rupawan

Aduhai yang kokoh, yang terpuji

Aduhai imam dua kiblat

kumparan post embed

Mengutip KH.Husein, masyarakat muslim hampir di seluruh dunia muslim telah mengenal, menyanyikan dan mengahapal salawat atau puisi-puisi ini. Hanya sebagian saja yang tidak menyanyikannya. Arab Saudi termasuk yang tidak.

Umumnya pada saat puisi-puisi ini dibacakan orang-orang yang hadir bangkit berdiri dalam sikap penuh penghormatan terhadap Nabi Muhammad. Mereka membayangkan seakan-akan sang Nabi datang dan hadir di tengah-tengah mereka.

Salawat Wulidal Huda

Ilustrasi ibu ajarkan anak salawat nabi Foto: Shutter Stock

Puisi madah untuk menghormati Nabi sang kekasih Tuhan juga datang dari Raja penyair Arab; Ahmad Syauqi Beik. Puisi tersebut lantas dibawakan dengan indah oleh penyanyi legendaris dari Mesir, Umi Kulsum dan dikenal dengan salawat Wulidal Huda:

وُلِدَ الْهُدَى فَالْكَائِنَاتُ ضِيَآءُ ،

وَفَمُ الزَّمَانِ تَبَسُّمٌ وَسَنآءُ

الرُّوحُ وَالْمَلَأُ الْمَلَائِكَ حَوْلَهُ ،

لِلدِّينِ وَالدُّنْيَا بِهِ بُشْرَاءُ

وَالْعَرْشُ يَزْهُو وَالْحَظِيرةُتَزْدَهِي

وَالْمُنْتَهَى وَالسّدْرَةُ الْعَصْمآءُ

Dijelaskan pada laman Husein Muhammad, artinya:

Telah lahir Sang Pembawa obor

Alam Raya pun berpendar cahaya

Zaman tak henti-hentinya menebar senyum

Dan puja-puji dan kekaguman kepadanya

Jibril dan para Malaikat mengelilinginya

Dunia hari ini dan masa depan kemanusiaan bersuka-cita

Singgasana Kerajaan Tuhan (‘Arasy) berdiri begitu megah

Puncak alam semesta (Sidrah Al-Muntaha)

Memancarkan cahaya bening berkilau-kilau

kumparan post embed

Menyenandungkan salawat untuk Nabi Muhammad saat menimang atau meninabobokan si kecil? Tentu baik sekali, Moms!

Membacakan arti dari salawat atau puisi madah seperti ini juga dapat menjadi cara kita sebagai orang tua mengenalkan anak dengan sosok Rasullah yang begitu terpuji dan patut jadi teladannya.