Kumparan Logo

Gadget Jadi Bagian dari Belajar Anak, Bagaimana Menjaga Kesehatan Matanya?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Menggunakan Gadget. Foto: Odua Images/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Menggunakan Gadget. Foto: Odua Images/Shutterstock

Gadget kini tidak hanya digunakan anak untuk bermain game atau menonton video. Dalam kesehariannya, gawai juga menjadi bagian dari proses belajar, mulai dari mencari informasi, mengerjakan tugas, hingga mengikuti kegiatan pembelajaran.

Kondisi tersebut membuat penggunaan gadget sulit sepenuhnya dihindari. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan kebiasaan anak saat menggunakan gawai, terutama karena sebagian besar aktivitas tersebut dilakukan dalam jarak dekat.

Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus, dr. Devina Nur Annisa, Sp.M (K), mengatakan penggunaan gadget memang dapat menjadi salah satu stimulus terhadap progresivitas atau pertambahan ukuran minus pada anak.

Acara konferensi pers pusat operasi mata juling bersama Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/8/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

"Terutama apabila anak kita memang berbakat atau sedari kecil sudah menggunakan kacamata dengan ukuran minus ya,” ucapnya kepada kumparanMOM di Jakarta Pusat, Senin (10/8).

Menurutnya, semakin banyak aktivitas yang dilakukan anak dalam jarak dekat, semakin banyak pula stimulus terhadap pemanjangan bola mata. Hal tersebut pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap bertambahnya ukuran minus pada anak.

Bukan Hanya Gadget yang Perlu Diperhatikan

Dr. Devina pun menegaskan bahwa orang tua tidak hanya perlu memperhatikan durasi anak menggunakan gadget. Berbagai aktivitas jarak dekat lainnya juga perlu diperhatikan.

Ilustrasi orang tua dan anak main gadget. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock

Misalnya, belajar dalam waktu lama, membaca buku, menggambar, atau aktivitas lain yang membuat mata terus-menerus fokus pada objek yang dekat.

"Jadi kegiatan-kegiatan yang anak-anak kita kerjakan di dalam ruangan itu harus ada cedera istirahat,” ungkapnya.

Menurutnya, tidak ada satu batas waktu yang dapat menjadi patokan aman untuk semua anak. Namun, orang tua sebaiknya membatasi aktivitas jarak dekat yang tidak diperlukan dan memberikan kesempatan bagi mata anak untuk beristirahat.

Ilustrasi anak balita belajar dengan gadget. Foto: Shutterstock

Jika gadget memang dibutuhkan untuk kegiatan belajar, penggunaannya dapat diprioritaskan untuk kebutuhan pendidikan. Sementara saat memiliki waktu luang, anak dapat diarahkan melakukan aktivitas lain yang tidak selalu membutuhkan fokus pada jarak dekat.

Ajak Anak Beraktivitas di Luar Ruangan

Salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua adalah memberikan waktu bagi anak untuk bermain di luar ruangan atau berolahraga.

"kalau ada waktu istirahat atau waktu cedera di antara sekolah mereka bisa banyak bermain outdoor atau melakukan tindakan olahraga,” tutur dr. Devina.

Dengan begitu, keseharian anak tidak hanya diisi dengan aktivitas jarak dekat di dalam ruangan. Ketika gadget sudah menjadi bagian dari kebutuhan belajar anak, bukan berarti penggunaannya harus dihindari sepenuhnya. Jadi, tetaplah bijak dalam mengawasi anak menggunakan gadget ya, Moms.

kumparan post embed