Kumparan Logo

Gerakan Janin Berkurang di Trimester Akhir Kehamilan, Bahayakah?

kumparanMOMverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi janin dalam kandungan. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi janin dalam kandungan. (Foto: Thinkstock)

Gerakan janin memang menjadi salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap ibu hamil. Biasanya, ibu hamil mulai merasakan gerakan janin di trimester kedua kehamilan atau ketika usia janin sudah menyentuh 16 hingga 25 minggu. Tendangan pertama janin memang begitu mendebarkan ya, Moms. Tapi, menjelang berakhirnya masa kehamilan, Anda merasakan gerakan janin berangsur melambat. Apakah kondisi tersebut berbahaya?

Jangan cemas dulu, Moms. Kondisi tersebut adalah hal yang wajar, karena janin berkembang semakin besar, sehingga ia kehabisan ruang untuk bergerak. Mungkin saja bayi tetap aktif di dalam rahim, namun ia sama sekali tidak punya ruang untuk menendang saat usia kehamilan semakin besar. Menjelang masa melahirkan, idealnya kepala bayi telah berada di bawah rahim.

Menjelang trimester ketiga, janin dapat membuat gerakan sebanyak 30-40 kali per jam. Gerakannya mulai lebih rutin dan umumnya terjadi saat ibu dalam kondisi tenang. Apabila Anda sibuk beraktivitas, gerakan janin pun akan berkurang. Untuk memancing gerakannya, Anda bisa melakukan beberapa hal, seperti makan atau minum.

Ya, kadar gula yang Anda konsumsi bisa mempengaruhi gerakan janin. Selain itu, jangan lupa untuk beristirahat yang cukup, Moms. Saat istirahat, cobalah untuk berbaring ke sisi kiri, agar rahim tidak menekan aorta dan pembuluh darah yang berada di atas rahim. Kondisi ibu yang rileks bisa memancing gerakan si kecil.

Jika Anda bisa merasakan gerakan janin satu kali saja dalam waktu 10 menit, itu berarti kondisinya masih baik-baik saja, Moms. Jika janin yang biasanya banyak bergerak kemudian diam dalam kurun waktu yang lama, segera pergi ke dokter untuk memastikan kondisinya.