Jangan Terpancing Emosi! Ini Tips Hadapi Anak Tantrum

Moms, tantrum menjadi salah satu tantangan yang hampir dialami setiap orang tua, terutama saat anak memasuki usia balita. Di fase ini, anak masih belajar mengenali dan mengelola emosinya, tetapi belum mampu mengungkapkan apa yang dirasakan dengan kata-kata. Akibatnya, ledakan emosi seringkali menjadi cara anak menyampaikan keinginan, rasa frustrasi, atau ketidaknyamanannya.
Karena itu, cara orang tua merespons tantrum sangat berpengaruh terhadap perkembangan regulasi emosi anak. Alih-alih fokus membuat anak segera berhenti menangis, orang tua justru perlu membantu si kecil melewati emosinya dengan cara yang tepat.
Hindari Respons Ini saat Anak Tantrum
Psikolog Pendidikan Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa ada beberapa respons yang sebaiknya tidak dilakukan saat anak sedang tantrum.
"Hindari ikut marah atau membentak anak, mempermalukan atau mengancam anak, mengabaikan anak sepenuhnya, maupun langsung menuruti permintaannya hanya agar ia cepat diam," ujar Orissa pada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
Menurutnya, respons-respons tersebut justru tidak membantu anak belajar mengenali emosinya. Bahkan, anak bisa semakin kesulitan mengelola perasaannya apabila orang tua ikut terbawa emosi atau hanya berusaha menghentikan tantrum secepat mungkin.
Dampingi Anak hingga Emosinya Mereda
Sebaliknya, Orissa menyarankan orang tua tetap tenang ketika menghadapi anak yang sedang tantrum.
Gunakan suara yang lembut
Dampingi anak dengan penuh kehadiran
Validasi apa yang sedang ia rasakan.
Setelah anak mulai tenang, barulah orang tua dapat mengajaknya berbicara.
"Perlu diingat, jangan buru-buru memberi nasihat karena nasihat akan lebih mudah diterima setelah emosi anak mereda. Tugas kita bukan membuat anak cepat berhenti tantrum. Proses ini justru membantu anak belajar mengelola emosi sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih cerdas secara emosional," jelas Orissa.
Dengan pendampingan yang tepat, tantrum bukan hanya menjadi fase yang harus dilewati, tetapi juga kesempatan bagi anak untuk belajar mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan lebih baik.
