Kumparan Logo

Kamus Kehamilan: Induksi saat Proses Persalinan, Apa Maksudnya?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kamus Kehamilan: Induksi saat Proses Persalinan, Apa Maksudnya? Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kamus Kehamilan: Induksi saat Proses Persalinan, Apa Maksudnya? Foto: Shutterstock

Ibu hamil tentu ingin bisa melewati proses persalinan dengan lancar. Salah satu caranya adalah dengan menjaga kondisi kesehatan dan mencukupi kebutuhan nutrisi selama kehamilan.

Meski begitu, beberapa ibu hamil mungkin saja akan mengalami kendala dalam proses persalinan, sehingga membutuhkan tindakan yang disebut induksi. Sudah tahu apa arti induksi, Moms?

Istilah Kehamilan Induksi saat Proses Persalinan

Ilustrasi ibu melahirkan. Foto: Shutterstock

Induksi merupakan salah satu cara yang digunakan tenaga medis untuk mempercepat proses persalinan. Induksi persalinan dilakukan dengan alat atau obat tertentu untuk menstimulasi kontraksi rahim pada ibu hamil. Hal ini dijelaskan oleh Dokter Kandungan dan Kebidanan di American Board of Obstetrics and Gynecology, Valinda Riggins Nwadike, MD, MPH seperti dikutip dari Healthline.

Umumnya, persalinan sering kali dimulai secara alami pada usia kehamilan 37-42 minggu. Ini ditandai dengan ibu hamil mengalami kontraksi, pecah ketuban, hingga serviks yang mulai melunak dan terbuka. Namun, dalam beberapa kasus, hal tersebut justru tidak terjadi sehingga dokter menyarankan untuk melakukan tindakan induksi.

Dikutip dari Mayo Clinic, ada beberapa alasan yang membuat tenaga kesehatan memutuskan untuk menginduksi persalinan seperti berikut ini:

  • Kehamilan yang berjalan lebih dari tanggal HPL atau lebih dari 42 minggu, namun belum ada tanda-tanda kelahiran.

  • Air ketuban yang pecah sebelum proses persalinan dimulai sering kali membutuhkan tindakan induksi.

  • Infeksi pada rahim ibu yang disebut dengan korioamnionitis.

  • Bayi di dalam kandungan mengalami hambatan pertumbuhan.

  • Jumlah air ketuban yang terlalu sedikit di dalam rahim atau disebut dengan Oligohidramnion.

  • Ibu hamil dengan diabetes gestasional.

  • Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi yang berisiko mengalami preeklamsia.

  • Kondisi medis seperti masalah plasenta, obesitas, hingga penyakit ginjal.