Kumparan Logo

Kata Ahli soal Penyebab Kehamilan Mola atau Hamil Anggur

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
10
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasu kehamilan mola. Foto: Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasu kehamilan mola. Foto: Shutterstock.

Kehamilan mola atau hamil anggur terjadi sebagai akibat dari proses pembuahan sel telur yang tidak normal, sehingga menyebabkan janin di dalam rahim memiliki massa abnormal.

Lantas, apa pendapat ahli soal kondisi ini?

Penyebab Kehamilan Mola atau Hamil Anggur

Menurut dokter Spesialis Kedokteran Ibu dan Janin di Obstetrix of Colorado, Dr. Sasha Andrews, MD, kehamilan mola disebabkan ‘fenomena’ yang muncul pada masa awal pembuahan di dalam rahim.

“Kehamilan mola terjadi ketika sel-sel yang biasanya membentuk plasenta berkembang secara tidak normal,” jelas Dr. Sasha seperti dikutip dari Parents.

Saat ibu mengalami kehamilan mola, plasenta membentuk massa abnormal yang mengambil alih kehamilan. Massa ini adalah gelembung putih yang bisa berisi cairan hidatidosa, kista, atau tumor, sehingga sering kali dikaitkan dengan risiko tumor.

“Sebagian besar kehamilan mola bersifat jinak, tapi dalam beberapa kasus berkembang menjadi kanker. Itulah sebabnya kehamilan mola harus dihilangkan secara menyeluruh dari tubuh,” lanjut Dr. Sasha.

Ada dua jenis kehamilan mola yaitu, lengkap dan parsial. Pada kehamilan mola lengkap, plasenta abnormal terbentuk tanpa embrio. Sementara itu, kehamilan mola parsial plasenta abnormal terbentuk bersama embrio yang tidak berkembang sehingga tidak bisa bertahan hidup di dalam rahim.

Ilustrasi kehamilan mola. Foto: ANUCHIT MANMAI/Shutterstock

“Kehamilan mola parsial dan lengkap disebabkan oleh pembuahan abnormal, yang menyebabkan ketidakseimbangan materi genetik dari sel telur dan sperma,” ungkap Dr. Sasha.

Pada kehamilan mola lengkap, satu atau dua sperma membuahi sel telur yang kosong, sehingga hanya menghasilkan materi genetik dari pihak ayah. Sementara kehamilan mola parsial, sel telur mengandung materi genetik ibu namun dibuahi oleh dua sel telur, sehingga menghasilkan jumlah kromosom dari pihak ayah yang sangat tinggi yakni 69. Padahal, seharusnya jumlah kromosom yang normal dari pihak ayah adalah 46.

Kehamilan mola termasuk komplikasi yang jarang terjadi, hanya sekitar 1 dari 1000 ibu hamil yang mengalaminya. Namun, kondisi ini tetap perlu Anda waspadai, Moms. Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi pada komplikasi ini.

Gejala Kehamilan Mola

Tanda kehamilan mola. Foto: Thinkstock

Tanda atau gejala awal kehamilan mola menyerupai kehamilan normal termasuk, terlambat haid, mual, dan muntah. Namun menurut Direktur Ginekologi di Lenox Hill Hospital, Dr. Adi Katz, MD, gejala kehamilan mungkin lebih mengkhawatirkan seiring berjalannya waktu.

“Ini termasuk mual dan muntah hebat, pendarahan vagina, sakit perut bagian bawah atau tekanan dari rahim. Gejala ini biasanya disebabkan oleh jumlah hormon kehamilan hCG yang lebih tinggi,” jelas Dr. Adi.

Dalam beberapa kasus, ibu dengan kehamilan mola juga mengalami hipertensi yang merupakan tanda dari preeklamsia, pembengkakan ekstremitas, masalah tiroid seperti hipertiroidisme, anemia, serta ketidakmampuan untuk makan, sehingga mengalami dehidrasi parah.

kumparan post embed