Kumparan Logo

Kehamilan Sudah Lewat dari 40 Minggu, Langsung Induksi atau Tunggu Dulu?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
14
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kehamilan Sudah Lewat dari 40 Minggu, Langsung Induksi atau Tunggu Dulu? Foto: christinarosepix/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kehamilan Sudah Lewat dari 40 Minggu, Langsung Induksi atau Tunggu Dulu? Foto: christinarosepix/Shutterstock

Beberapa ibu hamil ada yang tidak kunjung mulas dan mengalami kontraksi saat hari perkiraan lahir (HPL) tiba, atau saat usia kehamilan sudah mencapai 40 minggu. Saat berkonsultasi dengan dokter, mungkin Anda akan ditanya apakah ingin langsung melakukan induksi untuk mempercepat persalinan atau masih mau menunggu beberapa hari.

Tapi, adakah bahaya apabila bayi belum kunjung dilahirkan meski sudah melewati 40 minggu?

Risiko Bayi Terlambat Dikeluarkan Bisa Lahir Mati

Sebenarnya, setelah 40 minggu, masih ada rentang dua minggu sebelum akhirnya dokter mengkategorikan sebagai kehamilan postmatur atau bayi harus segera dilahirkan. Jika sudah melebihi 42 minggu, maka dikhawatirkan akan meningkatkan risiko komplikasi bagi sang ibu maupun bayi di dalam kandungan. Salah satunya, bayi bisa lahir mati.

Penelitian yang dilakukan Queen Mary University of London pada 15 juta kehamilan di berbagai negara menemukan wanita yang hamil lebih dari 37 minggu sebenarnya sudah membawa risiko kelahiran mati lebih tinggi. Dan risiko ini akan meningkat setiap minggunya sampai akhirnya bayi lahir. Tetapi, selama kehamilan berisiko rendah maka kemungkinan tersebut tetap rendah, Moms.

Ilustrasi ibu hamil menjelang persalinan Foto: Thinkstock

Nah, dilansir Mayo Clinic, selain lahir mati, kehamilan yang melebihi 40 minggu juga bisa meningkatkan risiko lain seperti: ukuran bayi lebih besar dari rata-rata, sindrom pascamaturitas dengan ditandai penurunan kadar lemak, dan semakin berkurangnya cairan ketuban secara signifikan yang memengaruhi detak jantung bayi.

Jadi, Perlukah Langsung Induksi Bila Kehamilan Sudah Lewat 40 Minggu?

Sebuah penelitian yang dikeluarkan The British Medical Journal (BMJ) menemukan, dengan menginduksi ibu yang usia kandungan sudah mencapai 41 minggu dan kehamilan berisiko rendah dapat secara signifikan mengurangi risiko kematian bayi. Pendekatan ini disebut juga manajemen hamil, yakni ketika dokter berusaha menunggu dan melihat apakah sampai usia kehamilan 42 minggu sang ibu sudah bisa melahirkan atau belum.

Dilansir Healthline, para peneliti di Swedia membandingkan induksi persalinan pada ibu hamil dengan usia kandungan 41 minggu yang termasuk kehamilan berisiko rendah. Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah induksi lebih awal dari kehamilan 42 minggu bisa mengurangi risiko yang merugikan.

Kehamilan Sudah Lewat dari 40 Minggu, Langsung Induksi atau Tunggu Dulu? Foto: Shutter Stock

Tidak lupa, peneliti juga menilai kesiapan serviks sebelum dilakukan induksi. Setelah serviks matang, para ibu yang menjadi objek penelitian diberikan obat yang mengandung oksitosin yang dapat menyebabkan kontraksi. Hasilnya, tidak ada kematian pada kelompok yang diinduksi.

"Jika Anda melahirkan bayinya, maka bayi tidak lagi berisiko lahir mati. Namun setelah melahirkan ada juga risiko bayi meninggal yang mungkin disebabkan oleh komplikasi yang terjadi selama kehamilan, seperti asfiksia lahir, infeksi, atau trauma," tutur Profesor Kebidanan dan Ginekolog, Ulla-Britt Wennerholm, dari Departemen Kebidanan dan Ginekolog, Institute of Clinical Sciences, Sahlgrenska Academy, Swedia.

Sementara itu, penelitian lain yang diterbitkan New England Journal of Medicine (NEJM) merekomendasikan ibu hamil bisa mendapatkan induksi persalinan saat usia kandungannya 39 minggu.

Jadi, Anda bisa memilih induksi bila usia kehamilan sudah melewati HPL namun kontraksi alami tidak kunjung muncul ya, Moms. Tetapi tentunya harus atas rekomendasi dari dokter kandungan demi mempertimbangkan kesehatan ibu dan janin. Selain itu, sebelum dilakukan induksi oleh dokter, cobalah mengoptimalkan induksi alami terlebih dahulu seperti menggoyang-goyangkan pinggul dengan gymball, berhubungan seks, akupunktur, dan masih banyak lagi.