Kejang Demam Bisa Ganggu Perkembangan Otak Anak, Benarkah?
ยทwaktu baca 3 menit

Hal yang paling diwaspadai orang tua saat anak demam adalah kejang. Sebab banyak yang menyebut bahwa kejang pada anak bisa berdampak fatal, seperti menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang hingga mengganggu perkembangan otak. Tapi, benarkah demikian?
Sebelum membahas lebih jauh, mari kita pahami apa itu kejang demam. Mengutip IDAI, kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih yang disebabkan proses di luar otak. Sebagian besar kejang demam terjadi pada usia 6 bulan sampai 5 tahun.
"Ciri khas kejang demam adalah demamnya mendahului kejang, pada saat kejang anak masih demam, dan setelah kejang anak langsung sadar kembali," kata dr. Amanda Soebadi, Sp.A, di laman IDAI.
Lantas, apa penyebab kejang demam dan dampaknya?
Penyebab Kejang Demam pada Anak
Penyebab kejang demam adalah demam yang terjadi secara mendadak. Demam dapat disebabkan infeksi bakteri atau virus, misalnya infeksi saluran napas atas. Tidak diketahui secara pasti mengapa demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada anak lainnya, namun diduga ada faktor genetik yang berperan. Setiap anak juga memiliki suhu ambang kejang yang berbeda: ada yang kejang pada suhu 38 derajat Celsius, ada pula yang baru mengalami kejang pada suhu 40 derajat Celsius.
"Kejang demam tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau kecerdasan anak. Biasanya kejang demam menghilang dengan sendirinya setelah anak berusia 5-6 tahun," ujar dr. Amanda.
Sebagian besar anak yang pernah mengalami kejang demam juga akan tumbuh dan berkembang secara normal tanpa adanya kelainan seperti epilepsi misalnya.
Angka terjadinya epilepsi pada anak yang pernah mengalami kejang demam hanya berkisar sekitar 5 persen, Moms. Itu pun biasanya terdapat faktor risiko lain pada anak-anak yang mengalaminya. Oleh karena itu, sebagian besar anak dengan kejang demam tidak memerlukan bermacam pemeriksaan seperti rekam otak atau elektroensefalografi (EEG) atau CT scan.
"Walau tampak menakutkan, umumnya kejang demam tidak berbahaya, tidak merusak otak, tidak mengganggu kecerdasan anak, dan akan menghilang sendiri seiring bertambahnya usia. Dengan demikian, tidak perlu terlalu khawatir apabila buah hatinya mengalami kejang demam," kata dr. Amanda.
Biasanya kejang demam menghilang dengan sendirinya setelah anak berusia 5-6 tahun. Meski begitu, sebagai orang tua Anda perlu mencegah hal ini agar tidak menimpa si kecil.
Cara Cegah Anak Kejang saat Demam
Langkah pertama adalah, menurunkan suhu tubuh anak terlebih dahulu saat demam terjadi. Caranya, yakni dengan memberikan obat penurun panas, misalnya parasetamol atau ibuprofen. Kompres anak dengan air hangat pada dahi, ketiak, dan lipatan siku juga dapat membantu.
Namun, apabila dengan cara-cara itu tidak berhasil mencegah kejang demam pada anak, Anda bisa melakukan beberapa hal di bawah ini:
Letakkan anak di tempat yang aman, jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti listrik dan pecah-belah.
Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada dalam mulut akan keluar sehingga anak terhindar dari bahaya tersedak.
Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut. Memasukkan sendok, jari orangtua, atau benda lainnya ke dalam mulut, atau memberi minum anak yang sedang kejang, berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas apabila luka.
Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena dapat menyebabkan patah tulang.
Amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena ini dapat menjadi informasi berharga bagi dokter. Tunggu sampai kejang berhenti, kemudian bawa anak ke unit gawat darurat terdekat.
Apabila anak sudah pernah kejang demam sebelumnya, dokter mungkin akan membekali orangtua dengan obat kejang yang dapat diberikan melalui dubur. Setelah melakukan langkah-langkah pertolongan pertama di atas, obat tersebut dapat diberikan sesuai instruksi dokter.
