Kumparan Logo

Kemenkes: Hampir 10 Persen Anak Tunjukkan Gejala Depresi dan Kecemasan

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak depresi. Foto: Studio Romantic/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak depresi. Foto: Studio Romantic/Shutterstock

Kesehatan mental anak di Indonesia menjadi perhatian setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan hampir 10 persen anak yang mengikuti skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa.

Temuan tersebut berasal dari skrining terhadap sekitar 7 juta anak pada periode 2025–2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder). Sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan temuan ini menunjukkan persoalan kesehatan jiwa pada anak perlu mendapat perhatian serius.

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3).

Kesehatan Mental Anak Dipengaruhi Lingkungan

Ilustrasi anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock

Menurut Budi, masalah kesehatan mental anak tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi dalam diri anak. Lingkungan keluarga, pertemanan, dan pendidikan juga memiliki peran.

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar,” katanya.

Ia menambahkan, anak perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi tekanan, termasuk melalui edukasi mengenai life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP).

Perhatian terhadap kesehatan mental anak juga penting karena masalah kesehatan jiwa dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan persentase anak yang pernah mencoba bunuh diri meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Kemenkes Perluas Skrining Kesehatan Mental Anak

Sebagai tindak lanjut, Kemenkes menargetkan skrining CKG dapat menjangkau 25 juta anak. Hasil skrining nantinya akan ditindaklanjuti melalui Puskesmas.

Pemerintah juga mendorong guru BK dan guru kelas untuk ikut mendampingi siswa yang terdeteksi memiliki gejala masalah kesehatan jiwa. Selain itu, layanan krisis kesehatan jiwa Healing119.id disiapkan untuk mendukung intervensi cepat.

Upaya tersebut diperkuat melalui kerja sama sembilan kementerian dan lembaga untuk membangun sistem penanganan kesehatan jiwa anak yang terintegrasi, mulai dari pencegahan hingga pengobatan.