Kumparan Logo

Kenapa Ada yang Memilih Bertahan Dalam Pernikahan yang Tidak Bahagia?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kenapa Ada yang Memilih Bertahan Dalam Pernikahan yang Tidak Bahagia? Foto: Shutter stock
zoom-in-whitePerbesar
Kenapa Ada yang Memilih Bertahan Dalam Pernikahan yang Tidak Bahagia? Foto: Shutter stock

Kehidupan pernikahan tidak selamanya berjalan mulus dan terkadang ada waktunya pasangan berselisih paham. Saat sudah terlalu sering konflik, beberapa pasangan mungkin merasa perpisahan adalah jalan keluarnya. Namun ada juga yang memutuskan untuk bertahan meski tidak bahagia menjalani pernikahan, karena terlalu sering bertengkar misalnya.

Ya Moms, ada banyak alasan kenapa seseorang memutuskan tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak membahagiakan. Selain faktor anak, ada beberapa hal lain yang membuat pasangan memutuskan untuk bertahan dalam pernikahan, Moms.

Alasan Pasangan Tetap Bertahan dalam Pernikahan yang Tidak Bahagia

1. Demi Anak

Dikutip dari laman Marriage, alasan paling umum seseorang bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia adalah karena anak-anak. Ya Moms, selama ini berkembang kesalahpahaman yang menyatakan bahwa anak-anak akan lebih baik bersama orang tuanya, meski sebenarnya ayah dan ibunya tidak bahagia.

Ilustrasi anak dengan orang tua yang pernikahannya tidak bahagia. Foto: TORWAISTUDIO/Shutterstock

Memang benar bahwa perceraian akan memengaruhi anak-anak. Namun, anggapan anak-anak akan tetap baik-baik saja di saat orang tua mereka tidak bahagia adalah sebuah kesalahan. Sebab, kondisi psikologis orang tua juga bisa berpengaruh pada anak, Moms.

2. Takut Menyakiti Pasangan

Mungkin saja, perasaan Anda sudah tidak baik-baik saja, namun terkadang muncul perasaan tidak ingin mengakhiri hubungan karena takut menyakiti pasangan. Sebuah penelitian yang diterbitkan Journal of Personality and Social Psychology pada tahun 2018 menemukan sering kali seseorang tidak ingin bercerai demi pasangan yang selama ini sudah bekerja keras. Hal inilah yang membuat segalanya menjadi rumit, karena pada akhirnya keinginan berpisah jadi lebih sulit diputuskan.

3. Keyakinan Agama

Ya Moms, ada juga pasangan yang memilih bertahan karena tidak sejalan dengan agama yang melarang ada perceraian. Karena alasan agama maupun budaya itulah yang membuat seseorang memutuskan bertahan sekali pun tidak bahagia dengan pernikahannya.

4. Takut Dihakimi

Ilustrasi perempuan tidak bahagia dengan pernikahannya. Foto: Shutterstock

Selain tidak sejalan dengan ajaran agama, beberapa orang pun juga takut dihakimi oleh sekelilingnya, seperti keluarga maupun teman. Sering kali apa pun alasan perceraian bisa menuai berbagai kritikan. Sehingga cukup dapat dimengerti bahwa banyak orang yang sudah tidak bahagia namun tetap mempertahankan pernikahan karena takut dinilai negatif.

5. Alasan Keuangan

Moms, proses perceraian juga bisa menguras energi, tenaga, dan uang. Anda juga mungkin memiliki ketergantungan finansial tunggal pada pasangan, sehingga menimbulkan ketakutan dan kecemasan tidak ada yang bisa menanggung keuangan lagi.

6. Rasa Identitas

Saat sudah menikah berarti ada identitas sebagai istri atau suami. Saat tidak lagi menjalani pernikahan, ada beberapa orang yang mungkin tidak yakin dengan status barunya. Ini bisa menyebabkan ketakutan tersendiri yang akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan.

7. Cemas dengan Hal-hal yang Tidak Diketahui

Alasan lain dan sering kali paling menakutkan adalah ketakutan dengan apa yang mungkin akan terjadi, bagaimana perasaan pasangan dan anak-anak, hingga bagaimana keadaan di masa depan apabila memilih untuk bercerai. Jadi yang ditakutkan tidak hanya proses perceraian, tetapi kehidupan setelah itu.

kumparan post embed

Nah Moms, bila Anda pernah mengalami keinginan untuk berpisah karena sudah tidak bahagia dengan pernikahan, cobalah mengambil jeda untuk berpikir. Sebab, memutuskan akan bercerai atau tetap bertahan memang bukan pilihan mudah, sehingga perlu dipikirkan matang-matang.

Bila masih ragu dengan keinginan berpisah, cobalah untuk bertanya kepada diri sendiri tentang kesiapan untuk perceraian. Bila perlu Anda bisa berkonsultasi dengan konselor pernikahan sebelum memutuskan bercerai atau bertahan. Perlu diingat bahwa perpisahan mungkin bisa menjadi jalan terbaik, daripada bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia.