Kenapa Bayi dan Balita Suka Membenturkan Kepalanya?
ยทwaktu baca 3 menit

Kenapa ya bayi hingga balita suka membenturkan kepalanya? Mungkin itu adalah pertanyaan yang terlintas di benak Anda saat melihat si kecil membenturkan kepala mereka ke mainan, lantai, atau bahkan dinding.
Ya Moms, aksi anak membenturkan kepala ini memang sering kali membuat orang tua khawatir. Namun, para pakar menyebut, anak membenturkan kepala ini bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Kenapa, ya?
Alasan Balita Suka Membenturkan Kepalanya
Dikutip dari Baby Center, membenturkan kepala adalah perilaku umum yang dilakukan beberapa anak untuk menenangkan diri. Sebanyak 20 persen bayi hingga balita membenturkan kepalanya dengan sengaja. Menurut data, anak laki-laki lebih sering membenturkan kepala.
Membenturkan kepala sering kali dimulai saat si kecil menginjak usia 6 bulan dan mencapai puncaknya antara usia 18 dan 24 bulan. Kendati demikian, kebiasaan membenturkan kepala mungkin berlangsung selama beberapa tahun dan sebagian besar akan hilang pada usia 5 tahun.
Membenturkan kepala biasanya terjadi saat bayi Anda tertidur di malam hari atau sesaat setelah bangun tidur. Hal itu merupakan caranya berkomunikasi dengan Anda bahwa ia sedang kesal atau kesakitan.
Selain itu, ada beberapa alasan lain mengapa bayi hingga balita kerap membenturkan kepala:
-Menemukan Rasa Nyaman
Meski terdengar aneh, sebagian besar balita yang melakukan perilaku ini melakukannya untuk bersantai. Mereka membenturkan kepala secara berirama saat hendak tertidur atau saat terbangun di tengah malam. Beberapa juga bergoyang dengan posisi merangkak. Pakar perkembangan percaya, bahwa gerakan ritmis, seperti mengayun di kursi, dapat membantu balita Anda menenangkan diri.
-Pereda Sakit
Membenturkan kepala diduga membantu anak-anak merasa lebih baik. Membenturkan kepala juga dijadikannya sebagai cara mengalihkan perhatian mereka dari rasa tidak nyaman di mulut atau telinga.
-Frustasi
Jika balita Anda membenturkan kepalanya saat tantrum, ia mungkin mencoba melampiaskan emosinya yang kuat. Mereka belum belajar mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata, jadi mereka menggunakan tindakan fisik.
-Masalah Perkembangan
Membenturkan kepala dapat dikaitkan dengan autisme dan gangguan perkembangan lainnya. Namun, dalam sebagian besar kasus, ini hanyalah salah satu dari banyak tanda bahaya perilaku. Jarang sekali membenturkan kepala saja menandakan adanya masalah serius.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua Jika Bayi atau Balita Membenturkan Kepalanya?
Kebanyakan anak akan berhenti membenturkan kepala seiring berjalannya waktu. Meski begitu, orang tua bisa melakukan beberapa cara agar anak bisa mengurangi kebiasaan tersebut, seperti:
-Berikan perhatian kepada anak Anda, tetapi jangan saat mereka membenturkan kepala.
-Hibur si kecil, salah satunya bisa dengan memandikan dengan air hangat, pijatan lembut atau luangkan waktu ekstra untuk mengayun-ayunkan sebelum menidurkannya.
-Bantu bayi atau balita menemukan cara lain untuk menyalurkan perasaannya.
-Pastikan juga si kecil cukup berolahraga sepanjang hari untuk membantu mereka membakar sebagian energi yang ada.
