Kenapa Car Seat Bayi Harus Menghadap Belakang?
ยทwaktu baca 1 menit

Car seat merupakan perlengkapan kendaraan yang sangat penting bila hendak bepergian bersama bayi. Ya, walaupun mungkin Anda lebih nyaman memangku bayi saat bepergian menggunakan mobil, namun hal tersebut tidak menjamin keselamatan si kecil, Moms.
Pemasangan car seat bayi juga harus dilakukan sesuai petunjuk pemasangannya. Misalnya saja, menurut American Academy of Pediatrics (AAP) dan National Highway Traffic Safety Administration, car seat bayi harus menghadap ke belakang bukan ke depan.
Tapi, kenapa ya car seat bayi harus menghadap ke belakang dan bukan menghadap ke depan? Berikut penjelasannya.
Penjelasan soal Kenapa Car Seat Bayi Harus Menghadap Belakang
Moms, bicara soal car seat, Anda sebaiknya meletakkan car seat di kursi belakang, bukan di kursi depan, ya. Hal tersebut dijelaskan oleh Wahyu Setyawan Minarto, inisiator komunitas SafeKids Indonesia atau yang juga akrab disapa Paman Billie.
Ini karena adanya fitur keselamatan di mobil, yaitu airbag (kantung udara) tidak dirancang untuk anak-anak.
Dalam panduan Online Discussion dari SafeKids Indonesia, kantung udara dapat keluar dengan kecepatan 200 kilometer per jam. Untuk Anak-anak yang bertubuh lebih kecil dari orang dewasa, maka kantung udara justru dikhawatirkan dapat membuat anak terluka. Terlebih, kantung udara yang keluar itu bisa mengenai bagian kepala anak.
Selain kantung udara, sabuk pengaman pun menjadi alasan anak sebaiknya tidak duduk di kursi depan.
"Karena seat belt bukan dibuat untuk anak-anak," tambah Paman Billie.
Setelah meletakkan car seat di kursi belakang, pastikan car seat bayi juga menghadap belakang, Moms. Mengutip Baby Centre, bayi sangat berisiko mengalami cedera kepala dan sumsum tulang belakang karena tulang dan ligamen mereka masih berkembang. Kepala bayi juga cenderung lebih besar dari tubuhnya, sehingga sistem pendukung struktural si kecil masih sedikit goyah.
Sehingga, car seat yang menghadap ke belakang dapat memberikan dukungan terbaik untuk kepala, leher, dan tulang belakang bayi Anda. Posisi ini juga dapat membantu mencegah kepala si kecil terlempar dengan keras ke depan jika terjadi kecelakaan mobil.
Car seat yang menghadap belakang juga bisa menyerap sebagian energi tabrakan, dan kemudian mendistribusikan energi yang tersisa ke kepala, leher, dan punggung bayi. Jadi jika car seat menghadap depan, car seat tidak dapat menyerap banyak energi, dan lebih banyak yang ditransfer ke bayi. AAP juga merekomendasikan supaya car seat untuk anak tetap menghadap belakang hingga berusia dua tahun atau bahkan lebih, sampai si kecil mencapai tinggi atau berat maksimum.
Bahkan di Swedia, car seat menghadap ke belakang hingga berusia 4 tahun, sebab lebih efektif untuk mengurangi risiko cedera.
