Ketua IDAI Soroti MBG: Boleh Dilanjutkan, tapi Jangan Ada Korban Keracunan Lagi
ยทwaktu baca 3 menit

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menyampaikan keprihatinannya atas kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah dengan ribuan anak sekolah menjadi korbannya. IDAI berharap jangan ada lagi korban keracunan akibat program ini, dan mendorong seluruh penyelenggara MBG melakukan evaluasi menyeluruh.
"Sudah cukup, enough is enough. Berhenti sampai di sini keracunannya. Kalau program MBG-nya mau dilanjutkan silakan, tapi jangan ada jatuh korban keracunan lagi," ujar dr. Piprim dalam webinar yang diselenggarakan IDAI, Kamis (25/9).
Ia menekankan, program Makan Bergizi Gratis di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan program yang mulia, yaitu bertujuan membantu meningkatkan kebutuhan nutrisi anak-anak di Indonesia.
"Karena pada dasarnya MBG ini kan sebenarnya program yang mulia untuk meningkatkan nutrisi pada anak-anak sekolah. Tapi yang kami pesankan adalah sudah cukup jangan jatuh lagi [korban] keracunan," kata dia.
Kasus MBG di Berbagai Daerah, Keracunan atau Alergi Makanan?
dr. Piprim turut merespons anggapan fenomena yang terjadi di berbagai daerah adalah karena anak-anak yang mengonsumsi MBG mengalami alergi makanan. Namun, ia menegaskan alergi makanan dan keracunan adalah dua hal yang berbeda.
Ia menjelaskan, alergi merupakan reaksi sistem imun tubuh terhadap protein tertentu dalam makanan. Ya Moms, ini dikarenakan setiap anak memiliki riwayat sensitivitas terhadap makanan atau protein tertentu.
Jika hanya 1-2 anak yang mengalami gejala seperti gatal, bengkak di wajah, bibir, atau mata, itu berarti mereka mengalami alergi. Namun, fenomena yang terjadi di berbagai daerah adalah korbannya banyak dalam satu kali sesi makan, itu berarti mereka mengalami keracunan.
"Kalau yang makan banyak anak dan reaksinya hanya pada 1-2 anak, gejala-gejala alerginya jelas, mungkin itu memang alergi makanan. Tetapi kalau terjadi korbannya serentak dan massal sesudah makan makanan yang sama, ini bisa kita pastikan bahwa ini adalah sebuah suatu fenomena keracunan makanan. Karena terjadi dalam satu waktu dan mengenai ribuan anak," jelas dr. Piprim.
IDAI Dorong Tidak Ada Lagi Kasus Anak-anak Keracunan Makanan Akibat MBG
dr. Piprim berkaca kepada negara tetangga Malaysia yang juga memiliki program makan gratis untuk anak-anak, yaitu Program Pemberian Makanan Tambahan (Supplementary Feeding Program). Ia menyebut program ini diperuntukkan khusus bagi pelajar miskin yang secara perekonomian keluarganya kurang dan anak-anak difabel. Di tahun 2019, program ini diperluas menjadi untuk pelajar yang sangat miskin, anak difafel, dan siswa dari masyarakat adat.
"Jadi, memang tidak semua untuk anak-anak. Dan dampaknya sukses untuk meningkatkan kemampuan akademik dan nutrisi siswa penerima. Juga berhasil mendorong partisipasi publik dalam meningkatkan kesejahteraan sekolah dan memperkuat program nutrisi sekolah," tuturnya.
Belajar dari pengalaman di Malaysia, dr. Piprim menilai MBG bisa mengikuti cara yang sama, yaitu bisa menginspirasi perusahaan-perusahaan untuk program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam bentuk pemberian makan bergizi gratis. Terutama untuk anak-anak di daerah 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal).
"Sebenarnya, IDAI ingin agar keracunan bisa dicegah semaksimal mungkin. Bagi kami, satu korban anak keracunan aja itu sudah sesuatu yang besar, ya. Apalagi ribuan. Oleh karena itu, butuh penanganan yang sistematis untuk mencegah bagaimana supaya keracunan ini tidak terjadi lagi," tegas dr. Piprim.
dr. Piprim mengingatkan pemerintah agar tidak abai dalam pencegahan keracunan pada anak-anak sekolah yang mengikuti program MBG. Agar ke depannya, tidak ada lagi kejadian luar biasa (KLB) keracunan akibat MBG hingga jatuhnya korban jiwa.
"Program yang niatnya baik, niatnya tulus. MBG itu kan niatnya bagus, sebetulnya. Tapi karena kemudian ada satu dan lain hal, pelaksanaannya membuat anak kesakitan, dalam hal ini keracunan makanan, bahkan disebutkan ini menjadi kejadian luar biasa," tutup dia.
