Kumparan Logo

Lemas Ekstrem Usai Melahirkan, Apakah Tanda Bahaya?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lemas Ekstrem Usai Melahirkan, Apakah Tanda Bahaya?
 Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Lemas Ekstrem Usai Melahirkan, Apakah Tanda Bahaya? Foto: Shutterstock

Seorang ibu pemilik akun TikTok @shellynlrnd membagikan momen perjuangan setelah melahirkan. Dalam video tersebut, ia tampak menangis sambil mengungkapkan kondisi tubuhnya yang sangat lemas usai proses persalinan usai. Bahkan, ia mengaku merasa takut untuk tidur karena khawatir tidak akan terbangun lagi.

embed from external kumparan

Unggahan itu pun memicu banyak respons dari warganet, terutama dari ibu yang pernah mengalami hal serupa. Tak sedikit yang mengaku merasakan kelelahan ekstrem usai melahirkan, hingga membuat mereka merasa tidak sanggup melakukan aktivitas apa pun.

Apakah Lemas Ekstrem setelah Melahirkan Normal?

Menanggapi kondisi itu, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Andrew Yurius Christian, SpOG menyebut, kondisi lemas ekstrem pascamelahirkan sebenarnya termasuk hal yang normal, terutama setelah proses persalinan yang panjang dan melelahkan. Rasa lelah ini bisa disebabkan oleh:

Ilustrasi ibu yang baru melahirkan. Foto: Shutterstock

-Kelelahan fisik dari awal kontraksi hingga proses persalinan selesai.

-Kurangnya istirahat, terutama jika kontraksi muncul sejak dini.

-Perubahan hormon yang signifikan setelah melahirkan.

Meski begitu, kondisi ini bisa menjadi tanda bahaya jika disertai dengan:

1. Gangguan tanda-tanda vital, seperti tekanan darah atau denyut jantung tidak normal.

2. Penurunan kesadaran.

3. Gangguan fungsi dasar tubuh, misalnya tidak mampu makan, bicara, atau merespons.

Lalu, Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

Ilustrasi ibu baru melahirkan. Foto: Shutterstock

Untuk membedakan kondisi yang masih dalam batas normal dan yang sudah perlu penanganan serius, tenaga medis akan menilai beberapa aspek.

“Cara membedakan dengan kondisi serius adalah dengan menilai kondisi keadaan umum,” ucap dr. Andrew kepada kumparanMOM, Rabu (1/10).

Beberapa faktor itu di antaranya:

-Keadaan umum ibu

-Tanda-tanda vital

-Perdarahan pasca persalinan

-Hasil pemeriksaan laboratorium bila diperlukan

“Itu sebabnya pada fase persalinan ada kala 4. Di mana merupakan saat ibu di observasi pasca persalinan,” imbuh dr. Andrew.

kumparan post embed