Masa MPASI Ternyata Rentan Sebabkan Anemia Defisiensi Besi pada Anak, Kenapa Ya?
ยทwaktu baca 3 menit

Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tumbuh kembang anak tidak maksimal. Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyakit ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh anak.
Prevalensi kasus anemia defisiensi besi rentan dialami pada akhir usia bayi hingga awal masa kanak-kanak. Beberapa penyebabnya bisa dipengaruhi karena kurangnya asupan zat besi pada ibu selama kehamilan, hingga kurangnya asupan besi dari makanan yang dikonsumsi si kecil.
Ya Moms, menurut Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Tumbuh Kembang, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), masa-masa pemberian MPASI ternyata menjadi usia rentan terjadinya anemia defisiensi besi pada anak. Apa alasannya?
"Usia rentan anemia defisiensi besi pada anak di usia 6-23 bulan. Krusial di pemberian MPASI pertama, di mana ibu=ibu kurang tepat memilih sumber zat besi pada bahan makanan MPASI," ucap Prof. Rini dalam acara media gathering 'Peluncuran Inisiatif Kolaborasi Rekomendasi Skrining dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi pada Ibu dan Anak Indonesia' di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (26/11).
Prof. Rini menyoroti banyaknya ibu-ibu yang sebenarnya kini sudah kritis dalam mencari tahu bahan makanan untuk anak-anaknya. Namun, sayangnya belum cukup tepat dalam memilih nutrisi terbaik (termasuk zat besi) untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
"Sekarang ibu-ibu cukup kritis, cukup rajin, punya buku MPASI banyak. Tapi, tetap enggak benar menyajikannya. Jadi mungkin harus diedukasi lagi," tutur dia.
Kondisi ini banyak terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan anemia defisiensi besi pada anak di Indonesia, antara lain:
Tantangan penerapan suplementasi zat besi pada ibu hamil
Rendahnya kandungan zat besi pada ASI
Tingginya prevalensi infeksi cacing di Indonesia (dengan kondisi negara tropis, sosio-ekonomi rendah)
Pendidikan ibu yang buruk mengenai gizi dan layanan kesehatan terkait kehamilan
Kurangnya zat gizi mikro dan konsumsi makanan kaya zat besi
Tidak ada pedoman atau peraturan untuk skrining rutin status zat besi, terutama pada anak
Rekomendasi Ahli untuk Mencegah Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Nah Moms, mungkin Anda masih bingung apa saja sumber makanan kaya zat besi yang bisa membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Prof. Rini menjelaskan, zat besi terbagi dalam dua bentuk, yaitu heme dan non-heme. Besi heme bersumber dari hewani, sementara besi non-heme bersumber dari nabati.
Berikut beberapa makanan dengan zat besi yang cocok diberikan kepada keluarga:
Daging (sapi, domba, rusa) dan unggas (ayam, itik, bebek, burung)
Hati sapi atau hati ayam
Seafood (berbagai jenis ikan dan kerang)
Sayuran hijau terutama berwarna pekat (bayam, sawi hijau, brokoli)
Tahu dan tempe
Kacang-kacangan (kacang merah, kacang kedelai, almond, kacang polong, buncis)
Biji-bijian (kacang mete, pistachio, biji bunga matahari, biji labu)
Anda juga bisa menambah vitamin C yang dapat membantu penyerapan zat besi di dalam tubuh, terutama yang bentuknya non-heme. Sumber vitamin C yang bisa dikonsumsi:
Buah sitrus (jeruk, lemon, jeruk nipis)
Stroberi
Melon
Paprika
Sayur-sayuran hijau pekat
"Namun, ibu perlu menghindari makanan penghambat zat besi, di antaranya asam fitat, tanin atau polifenol, kalsium dan asam oksalat. Jadi, jangan kasih anak teh, kopi, yang bisa menghambat penyerapan zat besi," ujar Prof. Rini.
Selain itu, ia juga merekomendasikan suplementasi besi bisa diberikan kepada anak-anak mulai usia balita, terutama usia 0-2 tahun.
"Pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dilakukan mulai usia dua tahun. Dan selanjutnya setiap tahun sampai usia remaja. Bila dari hasil pemeriksaan ditemukan anemia, dicari penyebab dan bila perlu dirujuk," pungkasnya.
