Kumparan Logo

Max Alexander, Designer Termuda yang Tampil di Paris Fashion Week 2026

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perancang busana AS Max Alexander berpose di akhir peragaan busana koleksi Max Alexander Women's Ready to Wear Fall/Winter 2026-2027 sebagai bagian dari Paris Women Fashion Week, di Palais Garnier, Paris, pada 3 Maret 2026. Foto: Blanca CRUZ / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Perancang busana AS Max Alexander berpose di akhir peragaan busana koleksi Max Alexander Women's Ready to Wear Fall/Winter 2026-2027 sebagai bagian dari Paris Women Fashion Week, di Palais Garnier, Paris, pada 3 Maret 2026. Foto: Blanca CRUZ / AFP

Moms, setiap anak memiliki bakat dan minat yang berbeda. Ketika bakat tersebut dikenali dan didukung sejak dini, bukan tidak mungkin anak dapat berkembang menjadi pribadi yang luar biasa di bidang yang mereka sukai.

Hal ini terbukti dari kisah Max Alexander, seorang anak yang sudah menunjukkan minat besar pada dunia fashion sejak usia 4 tahun. Berkat dukungan orang-orang di sekitarnya serta ketekunannya mengasah bakat, Max berhasil menorehkan prestasi di usia belia.

Kisah Max Alexander, Desainer Termuda di Paris Fashion Week 2026

Perancang busana AS Max Alexander menyapa penonton di akhir peragaan busana koleksi Max Alexander Women's Ready to Wear Fall/Winter 2026-2027 sebagai bagian dari Paris Women Fashion Week, di Palais Garnier, Paris, pada 3 Maret 2026. Foto: Blanca CRUZ / AFP

Dikutip dari CBS News, Max Alexander, Asal Los Angeles, California, Amerika Serikat mulai belajar menjahit dan mendesain sejak usia 4 tahun. Ketertarikannya pada dunia fashion membuatnya terus bereksperimen dengan berbagai kain, tekstur, dan bentuk busana.

Kini, di usia 10 tahun, Max mengukir sejarah dengan menampilkan koleksi rancangannya di panggung Paris Fashion Week melalui label miliknya, Couture to the Max. Koleksi yang ia tampilkan berfokus pada konsep sustainability atau keberlanjutan, dengan memanfaatkan berbagai bahan daur ulang menjadi karya couture yang unik.

"Koleksi saya terdiri dari 15 gaun dan semuanya, 90% (bajunya) bisa terurai secara hayati, dapat didaur ulang, berkelanjutan, terbuat dari stok mati dan surplus," jelas Max, dikutip dari CBS News.

Karya-karya Max dikenal memiliki karakter playful, penuh warna, serta detail dramatis. Ia juga kerap mengubah berbagai bahan tak terduga menjadi busana couture yang unik dan artistik.

Beberapa koleksi yang ia tampilkan di antaranya dibuat dari bahan-bahan tidak biasa, seperti:

  • Gaun dari remade wedding dress tahun 1980-an

  • Gaun yang dibuat dari 28 tas Free People

  • Upcycled Indian sari

  • 20 yards deadstock chiffon

  • Italian surplus silk

  • Upcycled Tiffany’s bags

  • Plant-based biodegradable fiber

  • Chirimen silk yang alami dan biodegradable

  • Rescued fabric remnants dari Madrid

  • 100% recycled faux fur

  • Deadstock chiffon dengan natural stones

  • Korset dari tas Hermès yang dipadukan dengan vintage French military parachute

Dalam shownya tersebut, ia juga mendedikasikan koleksinya untuk mentor sekaligus “godmother of fashion”-nya, Fern Mallis.

Selain itu, jauh sebelum prestasi ini, Max juga pernah tercatat dalam Guinness World Records pada 2023 sebagai runway fashion designer termuda di dunia, Moms. Sangat mengispirasi, ya.