Kumparan Logo

Memahami Fenomena Ayah yang Hadir Secara Fisik Namun Absen Secara Emosional

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Ayah yang cuek terhadap anaknya. Foto: imtmphoto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ayah yang cuek terhadap anaknya. Foto: imtmphoto/Shutterstock

Tidak semua anak yang tumbuh bersama ayah memiliki kedekatan emosional dengannya. Ada kalanya seorang ayah tinggal serumah, memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan selalu hadir dalam berbagai momen penting, tetapi anak tetap merasa sendirian.

Fenomena ini dikenal sebagai present-but-absent father, yaitu ayah yang hadir secara fisik, tetapi sulit dijangkau secara emosional. Menurut psikolog Bridgette Peteet, kondisi ini sering kali meninggalkan luka yang tidak terlihat.

Ayah yang baik bukan berarti harus sempurna. Yang terpenting mampu memberikan rasa aman, konsisten, bertanggung jawab, serta hadir secara emosional ketika anak membutuhkan. Sebaliknya, ketika koneksi emosional itu tidak terbangun, anak bisa merasa tidak benar-benar dilihat maupun dipahami, meski tinggal di bawah atap yang sama.

Empat Tipe Ayah yang Hadir Secara Fisik, tetapi Tidak Hadir Secara Emosional

Menurut Peteet, seperti dilansir Psychology Today, ada beberapa pola perilaku yang membuat seorang ayah tampak hadir secara fisik, tetapi sebenarnya jauh dari kebutuhan emosional anak.

1. Ayah yang menjaga jarak

Tipe ini biasanya menjalankan peran sebagai pencari nafkah dan memenuhi berbagai tanggung jawab keluarga. Namun, hubungan dengan anak berhenti pada interaksi yang bersifat praktis.

Mereka jarang mengajak anak mengobrol dari hati ke hati, menunjukkan afeksi, atau benar-benar mengetahui apa yang sedang dirasakan anak. Waktu luang lebih banyak dihabiskan untuk bekerja, bermain HP, atau melakukan aktivitas sendiri dibanding membangun kedekatan dengan keluarga.

2. Ayah yang mudah meledak secara emosional

Pada tipe ini, suasana rumah sering bergantung pada kondisi emosinya. Anak dan pasangan mungkin merasa harus berhati-hati agar tidak memicu kemarahan. Ketika emosi meledak, sang ayah bisa saja melimpahkan tanggung jawab emosional kepada orang lain dan menganggap ledakan emosi yang muncul karena kelelahan dan stres pekerjaan adalah hal biasa.

Akibatnya, anak belajar menahan perasaan dan lebih fokus membaca suasana hati ayah daripada mengekspresikan emosinya sendiri.

Ilustrasi ayah marah. Foto: Shutterstock

3. Ayah yang terlalu mengontrol

Sekilas, ayah tipe ini tampak sangat peduli. Namun, perhatian tersebut diwujudkan melalui kontrol yang berlebihan.

Mereka cenderung mengatur pilihan anak, menentukan keputusan penting, atau sulit menerima ketika anak memiliki pendapat yang berbeda. Aturan sering kali dibuat tanpa memberi ruang untuk berdiskusi.

Dalam jangka panjang, anak bisa tumbuh dengan rasa takut melakukan kesalahan, kesulitan mengambil keputusan sendiri, atau merasa harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain.

4. Ayah yang berpusat pada diri sendiri

Ini adalah tipe ayah yang mungkin tanpa ia sadari, selalu menempatkan dirinya sebagai poros dari segala hal; kebutuhan emosinya, egonya, citra dirinya, dan kenyamanannya.

Percakapan sering kembali membahas dirinya, pencapaiannya, atau masalah yang sedang dihadapinya. Ketika anak mencoba bercerita, respons yang diberikan bisa minim empati atau justru mengalihkan perhatian kepada pengalaman sang ayah sendiri dibandingkan memvalidasi kebutuhan emosi sang anak.

Lama-kelamaan, anak dapat merasa bahwa perasaannya tidak penting sehingga memilih memendam emosi daripada mencari dukungan dari orang tua.

Dampaknya Tidak Selalu Langsung Terlihat

Hubungan yang minim koneksi emosional tidak selalu menimbulkan konflik terbuka. Justru karena berlangsung secara halus, dampaknya sering baru disadari ketika anak beranjak dewasa.

Kondisi di atas membuat sebagian orang tumbuh dengan kesulitan mempercayai orang lain, merasa harus selalu menyenangkan orang di sekitarnya, atau sulit mengenali dan mengungkapkan emosi sendiri.

Namun, pengalaman tersebut bukan berarti akan menentukan masa depan seseorang sepenuhnya. Memahami pola hubungan yang pernah dialami merupakan langkah awal untuk membangun relasi yang lebih sehat dengan pasangan maupun anak di kemudian hari.

Kehadiran Emosional Sama Pentingnya dengan Kehadiran Fisik

Menjadi ayah bukan hanya soal menyediakan kebutuhan finansial atau hadir di rumah setiap hari. Anak juga membutuhkan sosok yang mau mendengarkan, memvalidasi perasaannya, meminta maaf ketika berbuat salah, dan membuatnya merasa aman untuk menjadi diri sendiri.

Kehadiran emosional memang tidak selalu terlihat, tetapi justru menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak dan kualitas hubungan keluarga dalam jangka panjang.