Mom
·
27 April 2019 12:57

Memahami KIPI, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Memahami KIPI, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (149995)
Bayi mendapat imunisasi. Foto: Shutterstock
Setiap anak perlu mendapat imunisasi lengkap agar terlindung dari beberapa penyakit berbahaya. Imunisasi akan meningkatkan kekebalan tubuh si kecil, sehingga ia mampu melawan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin tersebut.
ADVERTISEMENT
Anda tak perlu ragu memberikan imunisasi untuk anak, Moms. Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA (K), Msi., menegaskan, vaksin aman digunakan. "Tidak benar bahwa vaksin berbahaya, dibuat dari janin bayi, mengandung bahan berbahaya, mengakibatkan autisme atau kematian. Teknologi pembuatan dan isi vaksin jaman sekarang sangat jauh berbeda dengan vaksin-vaksin jaman dahulu," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima kumparanMOM.
Meski begitu, terkadang pada beberapa kasus, ada anak-anak yang setelah diimunisasi mengalami beberapa masalah kesehatan, seperti demam, bengkak, atau timbul kemerahan di kulit. Mengutip laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hal tersebut sebenarnya wajar dan disebut dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Memahami KIPI, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (149996)
Orang tua perlu memberi imunisasi lengkap pada anak Foto: Shutterstock
Reaksi pasca imunisasi itu biasanya berlangsung selama 3-4 hari, walaupun beberapa anak bisa saja mengalaminya lebih lama. Anda tak perlu khawatir berlebihan dengan KIPI, karena IDAI memastikan KIPI berat sangat jarang terjadi. Kemungkinan KIPI berat 1 kejadian dalam 2 juta dosis. Sehingga jika ada 22 juta balita, kemungkinan terjadinya KIPI berat sekitar 11 anak.
ADVERTISEMENT
"Lebih banyak korban kecelakaan lalu lintas akibat sepeda motor, bus, mobil, pesawat terbang dibanding KIPI berat karena imunisasi. Oleh karena itu masyarakat harusnya lebih takut pada kecelakaan lalu lintas ketimbang karena imunisasi," jelas Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA (K), Msi., yang juga Staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dalam laman IDAI.
KIPI berat pernah dikabarkan terjadi, ketika ada wabah polio di Jawa Barat. Saat itu, beberapa anak dilaporkan lumpuh setelah mendapat vaksin polio. Namun setelah pemeriksaan virus (virologi) terbukti bahwa kelumpuhan tersebut bukan diakibatkan oleh vaksin polio, melainkan virus polio liar yang sudah menyerang anak-anak tersebut sebelum ia mendapat imunisasi polio.
Memahami KIPI, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (149997)
Ilustrasi anak sakit demam Foto: Shutterstock
Banyak beberapa kejadian yang diduga KIPI berat lainnya, setelah diperiksa oleh ahli-ahli di bidangnya terbukti bahwa bukan diakibatkan oleh imunisasi, tapi dari wabah atau virus yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu, setiap berita KIPI harus di kaji secara ilmiah oleh ahli-ahlinya, antara lain di Komisariat Daerah (Komda) KIPI yang ada di Provinsi atau Komisariat Nasional (Komnas) KIPI di Jakarta.
ADVERTISEMENT
Lantas, jika pada imunisasi terdahulu seorang anak mengalami KIPI, bagaimana jadwal imunisasi selanjutnya ?
"Jika kejadian ikutan pasca imunisasi hanya ringan, vaksinasi berikutnya dilanjutkan sesuai jadwal. Jika mengalami KIPI berat sebaiknya dosis berikutnya tidak dilanjutkan. Jika kejadian ikutan pasca imunisasi DTP cukup berat, dosis berikutnya menggunakan vaksin DT," jelas Prof. Soedjatmiko dalam laman IDAI.
Mengurangi dosis vaksin menjadi setengahnya atau membagi dosis vaksin juga sangat tidak dibenarkan. Hal itu tidak mengurangi kemungkinan terjadinya KIPI dan kekebalan yang ditimbulkan hasilnya justru tidak memadai.
Memahami KIPI, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (149998)
Ilustrasi Imunisasi Foto: Shutterstock
Ya Moms, perlindungan imunisasi memang tidak 100 persen. Artinya setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit-penyakit tersebut, tetapi kemungkinannya jauh lebih ringan yaitu 5-15 persen dan tidak berbahaya. Jangan mengartikan kalau imunisasi itu gagal atau tidak berguna, karena perlindungan imunisasi memang sekitar 80 - 95 persen.
ADVERTISEMENT
Penelitian epidemiologi di Indonesia dan negara-negara lain menunjukkan, ketika ada wabah campak, difteri atau polio, anak yang sudah mendapat imunisasi dasar lengkap sangat jarang tertular, bila tertular umumnya hanya ringan, sebentar dan tidak berbahaya.
Tetapi anak yang tidak mendapat imunisasi, ketika ada wabah, lebih banyak yang sakit berat, cacat atauu bahkan meninggal. Hal itu membuktikan kalau imunisasi terbukti efektif mencegah penyakit berat, kematian atau cacat akibat virus tersebut.
-------------
kumparanMOM mendukung penuh Pekan Imunisasi Dunia dengan menyiapkan puluhan artikel tentang imunisasi sepanjang minggu ini khusus untuk Anda, Moms.
Baca semuanya dengan mengikuti topik Pekan Imunisasi Dunia dan jangan lupa sebarkan pada seluruh keluarga dan teman-teman Anda, ya.