Menangani Trauma Anak saat Orang Tua Bercerai

Melihat perceraian orang tua adalah pengalaman yang buruk bagi anak. Apapun alasannya, usia sekecil itu masih sulit untuk menerima pertengkaran yang terjadi antara ayah dan ibu dalam bentuk apapun.
Padahal, di saat mengetahui bahwa kedua orangtuanya sudah tidak bisa bersama lagi, anak sangat mungkin menjadi trauma. Hal ini semakin buruk ketika pasangan suami dan istri justru terkadang terlalu ego dan terbawa emosi dengan menunjukkan pertengkaran secara vulgar. Kondisi psikis anak mereka kemudian menjadi korban.
Psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli, M. Psi menjelaskan lebih lanjut mengenai perceraian yang terjadi pada pasangan suami dan istri. "Perceraian rumah tangga itu ada dua macamnya, yaitu bercerai secara emosional atau psikologis, dan bercerai secara hukum. Umumnya, bercerai secara emosional akan terjadi lebih dahulu daripada bercerai secara hukum," ungkapnya saat ditemui secara langsung oleh kumparan (kumparan.com) di Plataran Dharmawangsa, beberapa waktu yang lalu.
Perempuan yang akrab disapa Vera ini mengatakan bahwa ketika pasangan sudah mengalami perceraian secara emosional, maka sebaiknya sang anak pun sudah diberi tahu terlebih dahulu. Sampaikan permohonan maaf dan pengertian kepada anak sampai mereka benar-benar bisa menerima kenyataan.
Sayangnya, tidak mudah bagi anak untuk mengerti situasi orang tuanya. "Terkadang hingga perceraian secara hukum pun, seorang anak masih belum bisa menerima, dan bertanya-tanya mengenai perpisahan kedua orangtuanya," tuturnya.

Menghadapi kenyataan bahwa keluarga tidak lagi utuh merupakan hal yang tidak mudah untuk anak. Anak akan mengalami trauma.
Trauma anak juga memiliki berbagai macam jenis. Ada yang dapat terselesaikan, ada juga yang tidak dapat terselesaikan. Semua hal itu ditentukan oleh kemampuan dan pemahaman sang anak. Sehingga, setiap anak memiliki caranya tersendiri untuk bangkit dan menerima kenyataan.
Menanggapi hal ini, Vera memberikan saran yang bisa dilakukan untuk anak. "Bantu anak untuk memahami situasi yang sedang terjadi, dan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Sehingga, emosi-emosi negatif yang dirasakan tidak akan terlalu menjadi trauma bagi mereka," tutupnya.
