Mengenal Apnea Prematuritas, Masalah Pernapasan pada Bayi Prematur

8 Oktober 2021 10:55 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Bayi prematur. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Bayi prematur. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Bayi prematur terkadang lahir dengan kondisi yang kurang stabil. Ya Moms, salah satunya bisa saja mengalami apnea prematuritas. Apnea berarti jeda sementara pernapasan selama lebih dari 20 detik.
ADVERTISEMENT
Meskipun apnea juga dapat terjadi pada bayi cukup bulan, kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi prematur. Semakin prematur kelahiran bayi, semakin tinggi kemungkinan memiliki apnea prematuritas.

Penyebab Apnea Prematuritas pada Bayi Prematur

Bayi prematur. Foto: Shutter Stock
Pada bayi prematur, sumsum tulang belakang dan bagian otak yang bertanggung jawab untuk bernapas belum berkembang dengan matang. Sehingga, tidak heran jika pernapasannya bisa terhenti. Apalagi bayi prematur memiliki pernapasan berat dan dangkal, sehingga berisiko berhenti.
Beberapa kondisi dan masalah lain juga dapat menyebabkan apnea prematuritas. Berikut beberapa kondisi tersebut--yang bisa juga terjadi pada bayi cukup bulan, seperti dikutip dari Stanford Children’s Health:
ADVERTISEMENT

Gejala Apnea Prematuritas pada Bayi Prematur

Bayi prematur. Foto: Shutter Stock
Gejala umum dari apnea prematuritas adalah napas terhenti selama 20 detik atau lebih. Lalu, apnea juga mulai muncul selama minggu pertama kehidupan, atau bahkan setelahnya.
Selain itu, ada juga gejala apnea yang lebih parah, seperti napas terhenti sangat lama, tubuh berubah menjadi biru, dan denyut jantung lambat. Kemudian, apnea dibilang sudah parah jika gejala mulai terlihat segera setelah lahir atau setelah minggu kedua kehidupan.
Mengutip Mom Junction, gejala apnea prematuritas juga mungkin menyerupai kondisi medis lain, seperti periodic breathing atau napas periodik. Nah Moms, jika bayi cukup bulan mengalami apnea saat tidur, maka hal itu biasanya disebut sleep apnea.

Cara Merawat Bayi Prematur yang Memiliki Apnea

Bayi prematur. Foto: Shutter Stock
Sebagian besar bayi yang memiliki apnea prematuritas, akan tinggal di unit perawatan intensif neonatal (NICU) sampai semua masalah kesehatannya teratasi. Namun, bayi yang tidak memiliki masalah kardiopulmoner yang signifikan secara klinis, biasanya akan dipulangkan oleh dokter.
ADVERTISEMENT
Jika bayi dipulangkan dan diizinkan untuk tinggal di rumah, orang tua mungkin perlu melakukan perawatan intens. Salah satunya dengan menggunakan pemantau kardiorespirasi atau kafein oral yang diresepkan dokter, jika bayi memiliki kardiopulmoner sesekali.
Dokter juga mungkin akan memberikan monitor apnea, sehingga orang tua perlu belajar cara menggunakannya. Kemudian perlu diingat bahwa bayi harus selalu tidur telentang. Kepala bayi juga harus tetap berada di tengah, dan leher harus dijaga dalam posisi lurus untuk mencegah obstruksi jalan napas.