Mengenal Fase Threenager pada Anak dan Cara Menghadapinya
·waktu baca 6 menit

Moms, apakah saat ini anak Anda berusia 3 tahun dan mempunyai pendirian yang sangat kuat? Si kecil juga mungkin sudah tak mau lagi dipakaikan baju, punya selera fashion sendiri, dan sering membuat argumen yang bertentangan dengan orang tuanya?
Jika ya, tenang Moms, Anda tidak sendiri, kok. Dalam istilah parenting, anak Anda sedang memasuki masa threenager. Yakni ketika anak berusia 3 tahun, tapi bertindak seolah seperti anak sudah remaja atau teenager.
"Istilah threenager mewakili perilaku oposisi dan pembangkangan yang dilakukan anak usia 3 tahun sebagai cara untuk menegaskan kemandirian," kata Cindy Hovington, PhD, pendiri Curious Neuron, sebuah konsultan parenting yang didukung sains, seperti dikutip dari The Bump.
Kenapa Fase Threenager Membuat Anak Begitu Emosional?
Dokter spesialis anak di Memorial Hermann Medical Group Pediatrics Atascocita di Texas, Alexis Phillips-Walker, menjelaskan pada usia 18-24 bulan balita mulai menunjukkan kemandirian. Kemudian pada usia 3 tahun, mereka lebih mampu memahami dan mengekspresikan ide, kepribadian, dan emosi mereka—tetapi mereka masih memiliki sedikit kendali terhadap hal-hal tersebut.
"Hal ini ada hubungannya dengan perkembangan korteks prefrontal, bagian otak di belakang dahi yang membantu penalaran, pemikiran rasional, pemecahan masalah, penundaan kepuasan, dan pengaturan emosi," jelas Hovington.
Menurutnya, ini semua adalah keterampilan kognitif yang diperlukan untuk mengelola perasaan dan perilaku kita. Konon, korteks prefrontal belum berkembang sepenuhnya sampai seseorang berusia 20-an tahun.
Berbeda dengan remaja, balita tidak mengalami perubahan hormonal signifikan yang mempengaruhi perilakunya. Phillips-Walker mengatakan, lonjakan hormon yang menyebabkan perubahan perilaku biasanya baru terjadi pada seorang anak saat berusia 7 atau 8 tahun. Amukan, pembangkangan, dan penegasan kemandirian adalah bagian normal dari perkembangan anak, karena anak-anak pada tahap ini masih mengembangkan keterampilan mengatur yang memungkinkan mereka mengelola dan mengatasi perasaan besar mereka.
Berapa Lama Fase Threenager Berlangsung?
Fase threenager dapat berlangsung selama beberapa bulan atau lebih, bergantung pada anak dan gaya pengasuhan Anda. Hovington mencatat bahwa anak-anak mulai memiliki beberapa keterampilan fungsional eksekutif, seperti pengendalian diri dan tetap fokus, pada usia 4 hingga 5 tahun, jadi Anda mungkin melihat adanya perubahan pada waktu tersebut. Meskipun demikian, orang tua disarankan untuk mengajari anak agar tetap tenang, menetapkan batasan dengan kepekaan, dan mencontohkan regulasi emosional.
Bagaimana Membantu Anak Melalui Fase Threenager?
Orang tua dengan anak threenager mungkin akan menghadapi tantangan emosional dan perilaku dengan anak-anak mereka. Namun penting diingat bahwa ini adalah bagian yang sangat alami dan penting dari perkembangan mereka, Moms.
“Selama fase ini, anak Anda benar-benar mulai memahami bahwa tubuh, pikiran, dan emosinya adalah miliknya sendiri. Mereka menunjukkan rasa takut pada hal-hal yang tidak terjadi, peduli terhadap tindakan orang lain, dan menunjukkan kasih sayang kepada orang yang dikenalnya," tutur Philips-Walker.
Terlebih lagi, anak usia 3 tahun mulai mengenali perbedaan antara perasaan senang, sedih, takut, dan marah.
Fase ini memerlukan banyak kesabaran, dan Anda mungkin tidak selalu bisa melakukannya dengan benar—tapi tidak apa-apa, Moms. Selain mencurahkan kasih sayang kepada si kecil, jangan lupa juga untuk menyayangi diri sendiri.
Berikut beberapa tips menghadapi anak yang sedang melalui fase threenager.
Tetap tegas sambil menunjukkan kasih sayang
Gaya pengasuhan Anda serta cara Anda mencontohkan regulasi emosional memainkan peran besar dalam kemampuan anak Anda dalam mengelola perasaan dan perilakunya.
Sebuah penelitian pada tahun 2018 menemukan bahwa ketika orang tua bereaksi lebih keras terhadap anak-anak mereka, seperti disiplin yang tidak konsisten, hukuman yang berat, dan kritik terus-menerus, anak-anak mereka akan menunjukkan perilaku yang lebih menantang.
Selain itu, sebuah penelitian pada tahun 2020 menunjukkan bahwa orang tua yang menunjukkan kehangatan dan kepekaan sambil menetapkan batasan yang tegas akan melihat hasil perilaku yang lebih baik pada anak-anak mereka.
“Meskipun sulit, hal ini dimulai dari diri kita sendiri. Cara kita merespons perilaku anak kita dapat berdampak pada cara mereka belajar mengelola emosi," tutur Hovington.
Belajar mengatur emosi diri terlebih dahulu
“Regulasi emosi membutuhkan banyak latihan, sangat dipengaruhi oleh lingkungan anak (bagaimana hal itu dicontohkan oleh orang tua) dan bergantung pada kemampuan kognitif lain seperti fungsi penghambatan dan eksekutif,” kata Hovington.
Perilaku si kecil mungkin bisa membuat Anda terpancing untuk emosi atau berteriak. Namun untuk memberikan contoh regulasi emosi yang sehat, penting untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi, Moms.
Meluangkan waktu untuk memahami akar penyebab perasaan Anda pada akhirnya dapat membantu Anda menjadi orang tua yang lebih tenang dan berempati. Dan jika Anda benar-benar kesulitan mengatur diri sendiri, Hovington menyarankan untuk membuat jurnal yang mencatat momen-momen ketika Anda merespons dengan cara yang tidak Anda inginkan dan apa yang terjadi sebelumnya.
Lihat dari sudut pandang anak
Moms, sadar enggak sih, sebetulnya anak selalu punya alasan atas apa pun tindakan yang ia lakukan. Hanya saja, kita sebagai orang tua, terkadang mungkin tidak mempedulikan hal itu.
Misalnya, Anda melihat anak memukul teman lalu Anda mendisiplinkannya, tanpa menyadari bahwa penyebab perilaku anak tersebut adalah rasa frustrasi. Bisa jadi karena teman tersebut merebut mainan anak Anda atau memukul terlebih dahulu.
“Semakin kita dapat membantu menenangkan mereka dan mengatasi perilaku sulit ini, semakin mudah bagi mereka untuk belajar bagaimana menenangkan diri dan mengelola perilaku mereka sendiri,” tambah Hovington.
Bantu anak menggambarkan emosinya
Membantu anak Anda memahami berbagai macam kata (selain bahagia, sedih, dan marah) dapat membantunya menunjukkan perasaannya dengan lebih baik. Dan jangan takut untuk mengungkapkan pengamatan Anda sendiri tentang bagaimana seorang anak berperilaku atau secara fisik merespons emosinya.
“Melakukan percakapan setelah ledakan emosi dapat membantu mereka belajar bagaimana mereka dapat berperilaku berbeda saat mereka merasakan hal tertentu di lain waktu,” kata Hovington.
Biarkan anak berkreasi dan bermain
"Bermain memungkinkan anak Anda bereksplorasi dan mengekspresikan diri. Selain itu, aktivitas di luar ruangan juga membantu mereka menjelajahi lingkungan alam dan mempelajari batasan fisik mereka,” kata Phillips-Walker.
Permainan kreatif melalui seni dan kerajinan juga dapat menjadi media lain untuk mengekspresikan diri.
Ajari anak berbagi tanpa memaksa
Pada fase threenager, balita menjadi lebih tertarik berinteraksi dengan anak lain. Mereka mulai bermain kooperatif dalam kelompok anak-anak lain dan mulai menjadi lebih imajinatif.
Phillips-Walker menyarankan agar Anda terlibat dalam permainan yang melibatkan berbagi, namun jangan memaksa. Ajari anak bahwa dengan berbagi atau bermain bergantian, ia akan tetap mendapat giliran bermain saat waktunya tiba.
Bacakan buku untuk anak secara konsisten
Menurut Phillips-Walker, fase threenager adalah saat yang kritis bagi perkembangan bahasa, saat anak-anak mulai belajar dan menggunakan banyak kata baru—dan mereka akan menirukan apa yang mereka dengar Anda ucapkan.
Membaca bersama tidak hanya membantu anak-anak mempelajari lebih banyak kata dan meningkatkan perkembangan bahasa mereka, tetapi juga mendorong mereka untuk menggunakan imajinasi dan melatih keterampilan dasar pemecahan masalah.
Pastikan anak tidak mendapat rangsangan berlebihan
Sampai si kecil mampu memahami, mengatasi, dan mengomunikasikan perasaan besarnya dengan baik, kemungkinan besar dia akan cepat menjadi rewel jika mendapat rangsangan berlebihan.
"Perhatikan lingkungan anak Anda, seperti tingkat kebisingan, cahaya terang, waktu pemakaian perangkat dan pola tidur, serta kepekaan sensorik, terutama untuk anak-anak neurodivergent. Semua faktor ini dapat berdampak pada perilaku," tutur Hovington.
Pada akhirnya, perlu disadari bahwa fase threenager ini tidak hanya menantang bagi kita sebagai orang tua, namun juga bagi anak. Ingatlah untuk bersikap lembut terhadap diri sendiri, dan ketahuilah bahwa anak Anda menyayangi dan membutuhkan Anda—dan fase threenager ini akan segera terlalui, Moms.
