Mengenal Jenis Gangguan Perkembangan Bahasa pada Anak
ยทwaktu baca 3 menit

Seiring bertambahnya usia anak, perkembangan bahasa si kecil pun akan terus meningkat. Awalnya ia mungkin hanya bisa mengoceh tanpa arti, hingga di usia balita mulai berbicara dengan susunan kata--walau masih berantakan. Ya Moms, ini merupakan tahap perkembangan yang normal pada setiap anak, Moms.
Meski begitu, beberapa anak bisa saja tumbuh dengan gangguan perkembangan bahasa, di mana mereka mungkin tidak bisa berbicara dengan baik atau memahami arti dari sebuah kalimat. Dikutip dari Child Mind Institute, gangguan perkembangan bahasa adalah gangguan komunikasi yang ditandai dengan kesulitan memahami bahasa verbal maupun non-verbal. Pada anak-anak, kondisi ini bisa didiagnosis pada usia 3-5 tahun.
Anak dengan gangguan perkembangan bahasa perlu mendapatkan perawatan seperti terapi wicara untuk meningkatkan kemampuannya berkomunikasi. Ada beberapa gangguan bahasa yang bisa dialami anak seperti, speech delay, lisping dan slurring. Namun, berdasarkan gejalanya, gangguan bahasa bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu, gangguan perkembangan bahasa reseptif dan ekspresif.
Gangguan Perkembangan Bahasa Reseptif pada Anak
Anak-anak dengan gangguan bahasa reseptif memiliki masalah dalam memahami arti kata-kata yang mereka dengar dan baca. Gangguan bahasa jenis ini umumnya terdeteksi saat anak berada di sekolah.
Dokter Spesialis Anak, Dr. Dur Afshar Agha, MD, menjelaskan di laman Mom Junction, bila si kecil mengalami kondisi ini, mereka mungkin kesulitan dalam melakukan percakapan, menyimpulkan gerakan seperti mengangguk atau mengangkat bahu, memahami konsep, serta menguraikan apa yang dibacanya.
Beberapa anak juga mengalami gejala lain seperti berikut ini:
Sulit menghafal kata-kata baru.
Kesulitan mengikuti arahan.
Tidak bisa memahami atau menunjuk pada objek dan gambar.
Cenderung pasif atau tidak mampu menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya.
Gangguan Perkembangan Bahasa Ekspresif pada Anak
Gangguan bahasa ekspresif merupakan kondisi di mana anak mengalami kesulitan berbicara dan sering kali tidak dapat menyampaikan pikiran dan perasaannya, meskipun mereka sebenarnya memahami apa yang akan dikatakannya. Anak-anak dengan kondisi ini biasanya sulit menggunakan kata dan membentuk kalimat dengan benar, tidak mampu membaca kalimat di dalam cerita, pantun, puisi dan lagu.
Selain itu, mereka mungkin juga menunjukkan gejala lain seperti:
Tidak mampu menampilkan gerakan.
Kesulitan untuk memberi nama objek.
Tidak bisa menggunakan kata ganti dengan benar.
Anak kesulitan untuk memulai dan melanjutkan percakapan.
Beberapa anak mungkin mengubah nada dan gaya bahasa saat berbicara dengan orang yang berbeda.
Tak hanya itu, anak-anak dengan gangguan perkembangan bahasa reseptif dan ekspresif juga bisa mengalami kesulitan saat harus membaca dan menulis. Mereka mungkin tidak bisa memegang buku dengan benar, kesulitan membalik halaman, hingga kerap salah membedakan huruf dan angka.
Mengutip Medlineplus, gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat menimbulkan masalah pada kemampuan interaksi sosial yang bisa mengakibatkan depresi dan kecemasan sosial. Gangguan ini juga bisa menurunkan kemampuan anak untuk hidup secara mandiri.
