Mengenal Kernikterus, Komplikasi Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir

5 November 2022 19:20
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi dirawat di rumah sakit. Foto: Iryna Inshyna/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi dirawat di rumah sakit. Foto: Iryna Inshyna/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Penyakit kuning atau jaundice merupakan salah satu penyakit yang umum dialami oleh bayi baru lahir. Mengutip Healthline, ada sekitar 60 persen bayi yang mengalami kondisi ini. Hal itu disebabkan oleh kemampuan tubuh mereka yang belum bisa mengeluarkan bilirubin sebagaimana mestinya.
ADVERTISEMENT
Penyakit kuning ini bisa bertambah parah jika bilirubin dalam tubuh bayi lebih tinggi dari penyakit kuning pada umumnya. Kondisi ini disebut dengan kernikterus. Seperti apa kondisi bayi yang mengalami kernikterus? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini, Moms.

Apa itu Kernikterus?

bayi kuning atau jaundice Foto: Shuttestock
zoom-in-whitePerbesar
bayi kuning atau jaundice Foto: Shuttestock
Kernikterus merupakan komplikasi penyakit kuning pada bayi baru lahir. Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan bilirubin yang ekstrem di otak, sehingga menyebabkan kerusakan di organ vital tersebut.
Ada dua jenis bilirubin di tubuh manusia, yaitu bilirubin tak terkonjugasi dan bilirubin tekonjugasi. Nah, yang memicu kernikterus pada bayi adalah bilirum tak terkonjugasi.
Jika bilirubin tak terkonjugasi tidak bisa diubah oleh organ hati, kadarnya akan meningkat dalam tubuh dan dapat keluar dari darah untuk menuju ke otak. Hal itulah yang membuat bilirubin tak terkonjugasi menumpuk di otak bayi, sehingga menimbulkan kernikterus.
ADVERTISEMENT

Penyebab dan Faktor Risiko Kernikterus pada Bayi Baru Lahir

Ilustrasi penyakit kuning pada bayi. Foto: Bonn_A/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyakit kuning pada bayi. Foto: Bonn_A/Shutterstock
Beberapa penyebab kernikterus pada bayi baru lahir yaitu sebagai berikut.
  1. Perbedaan golongan darah antara ibu dan bayi.
  2. Sindrom Crigles-Najjar, yaitu kondisi ketika bayi kekurangan enzim yang dibutuhkan untuk mengubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi bilirubin terkonjugasi untuk dibuang.
  3. Konsumsi antibiotik jenis sulfonamida pada ibu hamil
Sementara itu, faktor risiko yang menyebabkan bayi baru lahir mengalami kernikterus yaitu sebagai berikut.
  1. Bayi lahir prematur,
  2. Memiliki orang tua atau saudara kandung yang pernah mengalami penyakit kuning saat lahir,
  3. Dilahirkan dari ibu dengan golongan darah O atau rhesus negatif.

Gejala Kernikterus pada Bayi Baru Lahir

Ilustrasi penyakit kuning pada bayi. Foto: Bonn_A/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyakit kuning pada bayi. Foto: Bonn_A/Shutterstock
Gejala awal kernikterus kurang lebih sama seperti penyakit kuning pada umumnya. Kulit dan area putih di mata bayi akan tampak kekuningan. Namun, gejala tersebut bisa bertambah parah dan berkembang menjadi kernikterus jika penyakit kuningnya tidak segera diatasi.
ADVERTISEMENT
Adapun gejala kernikterus pada bayi baru lahir yaitu sebagai berikut.
  1. Tangisan dengan suara melengking dan sulit berhenti,
  2. Nafsu makan rendah,
  3. Tubuh lemas,
  4. Tidak memiliki gerak refleks,
  5. Melengkungkan kepala dan tumit ke belakang,
  6. Gerakan tak terkendali,
  7. Muntah,
  8. Gerakan mata yang tidak biasa,
  9. Jarang buang air,
  10. Demam,
  11. Kejang.

Komplikasi Kernikterus pada Bayi Baru Lahir

Ilustrasi bayi dirawat di rumah sakit. Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif/ANTARA
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi dirawat di rumah sakit. Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif/ANTARA
Saat gejala kernikterus muncul, bayi mungkin sudah mulai mengalami kerusakan otak. Untuk itu, bayi harus segara mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Jika tidak, kondisi tersebut bisa jadi menyebabkan komplikasi lainnya, yaitu sebagai berikut.
  1. Athetoid cerebral palsy, yaitu gangguan gerakan yang disebabkan oleh kerusakan otak,
  2. Kurangnya tonus otot atau kejang otot,
  3. Gigi bernoda,
  4. Sulit mengoordinasikan gerakan,
  5. Gangguan pendengaran atau tuli,
  6. Masalah pada gerakan mata, terutama sulit melihat ke atas,
  7. Sulit berbicara,
  8. Cacat intelektual.
Jika bayi mengalami gejala tersebut, segera bawa si kecil ke dokter untuk segera mendapatkan perawatan intensif ya, Moms.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020