Mengenal Mommy Wrist, Nyeri Pergelangan yang Sering Dialami Ibu Baru
·waktu baca 2 menit

Moms, pernahkah merasakan pergelangan tangan sakit atau nyeri di bagian pangkal ibu jari saat menggendong atau menyusui si kecil? Kondisi ini dikenal dengan istilah mommy wrist atau secara medis disebut de Quervain tenosynovitis.
Dikutip dari laman TheBump, mommy wrist adalah peradangan pada tendon di pergelangan tangan yang sering dialami ibu setelah melahirkan. Penyebab utamanya adalah gerakan berulang saat menggendong bayi, menopang kepala atau lehernya, hingga membawa kursi bayi yang berat. Tak hanya ibu, ayah maupun pengasuh juga bisa mengalaminya.
Gejala Mommy Wrist
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
Nyeri di pangkal ibu jari atau sisi pergelangan tangan
Rasa sakit bertambah saat mengangkat atau menggenggam
Tangan terasa lemah atau mudah lelah
Kadang muncul bunyi klik atau sensasi “snap” di pergelangan
Cara Mengurangi Mommy Wrist
Kabar baiknya, mommy wrist bisa diatasi dengan beberapa langkah sederhana:
Istirahatkan pergelangan tangan sebisa mungkin, meski tahu ini sulit bagi ibu baru
Gunakan dua tangan saat menggendong bayi atau membawa kursi bayi agar beban terbagi
Atur posisi tangan netral sebelum mengangkat sesuatu, seperti posisi saat hendak berjabat tangan
Kompres es pada area nyeri atau gunakan splint pergelangan untuk mengurangi peradangan
Mintalah bantuan pasangan atau keluarga untuk tugas berulang yang membuat tangan lelah
Jika nyeri semakin berat, Anda bisa berkonsultasi ke dokter. Beberapa kasus mungkin memerlukan obat antiinflamasi, fisioterapi, bahkan tindakan medis lain jika sudah parah.
Latihan Ringan
Fisioterapis juga menyarankan latihan sederhana, seperti:
Peregangan pergelangan dengan jari menghadap ke atas
Wrist circles (memutar pergelangan ke kanan dan kiri)
Ball squeeze (meremas bola busa kecil untuk melatih otot ibu jari)
Kapan Akan Hilang?
Tidak ada waktu pasti, Moms. Kasus ringan bisa membaik dalam beberapa minggu dengan istirahat dan perawatan. Namun, kasus sedang hingga berat bisa memakan waktu berbulan-bulan. Seiring bertambahnya usia anak, intensitas gerakan berulang juga berkurang, sehingga nyeri biasanya ikut mereda.
Reporter: Sarah Tri Wulandari
