Mengenal Perimenopause, Fase Transisi Ibu ke Masa Menopause
·waktu baca 3 menit

Sebelum masuk ke masa menopause, ibu akan mengalami fase yang disebut perimenoupause. Fase ini merupakan masa transisi dari masa reproduksi ke pasca-reproduksi.
“Sama seperti kata ‘perimeter’ yang berarti area di sekitar suatu objek, perimenopause adalah waktu sekitar menopause. Ini adalah jendela transisi dari reproduksi ke pasca-reproduksi,” jelas Mache Seibel, MD., anggota perawatan menopause di Harvard Medical Beth Israel Deaconess Medical Center, sebagaimana dikutip dari Parents.
Selama masa perimenopause, hormon reproduksi terutama estrogen menjadi tidak seimbang dalam tubuh. Akibatnya, ibu mungkin mengalami perubahan siklus menstruasi, penambahan berat badan, dan gejala lainnya. Lantas, kapan tepatnya masa perimenopause terjadi?
Perimenopause terjadi pada waktu yang berbeda-beda setiap individu. Namun, umumnya fase ini terjadi pada usia 30-an atau 40-an. Kondisi ini biasanya terjadi selama 1 -3 tahun. Namun, menurut dr. Seibel, ada pula ibu yang mengalaminya selama 10 tahun.
“Menopause dimulai, rata-rata, pada usia 51 tahun di Amerika Serikat. Namun, hingga 5 - 10 tahun wanita sudah mengalami menopause pada usia 45 tahun, dan satu dari 100 akan mengalami menopause pada usia 40 tahun,” ujar dr. Seibel.
Sebelum resmi mengalami menopause, ovarium akan berhenti melepaskan sel telur dan ibu biasanya akan berhenti menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Kondisi tersebut biasanya disertai dengan beberapa gejala. Apa saja itu?
Gejala Perimenopause yang Bisa Dirasakan Sebelum Menopause
Menurut dr. Seibel, ada banyak gejala perimenopause yang bisa dialami para ibu. Sebagian ibu mungkin akan merasakan tanda yang sangat mencolok. Namun, tak sedikit juga yang mungkin tidak merasakannya sama sekali.
Adapun beberapa tanda perimenopause yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut.
Perubahan siklus menstruasi
Hot flashes, yaitu kondisi ketika area wajah, leher, dan dada terasa gerah dan lebih sering berkeringat.
Mudah berkeringat pada malam hari.
Sulit tidur
Perubahan suasana hati atau mood
Mudah lupa dan marah
Perubahan dorongan seks
Mengalami perubahan pada kulit, seperti berjerawat, kulit jadi lebih kering, dan lain sebagainya
Inkontinensia urin
Berat badan meningkat
Penurunan kesuburan
Meskipun tanda perimenopause tersebut merupakan kondisi yang normal, dr. Seibel menyarankan ibu untuk memeriksakan diri ke dokter saat mengalami gejala tersebut. Terlebih jika ibu mengalami pendarahan, bercak, atau gumpalan darah di vagina yang berkepanjangan lebih dari tujuh hari.
Cara Mengatasi Gejala Perimenopause
Gejala perimenopause umumnya tidak mengganggu kesehatan secara keseluruhan. Namun, jika itu akhirnya membuat Anda tidak nyaman, berikut ini beberapa cara untuk mengatasinya.
Pengobatan hormonal untuk menyeimbangkan hormon estrogen yang mulai berkurang.
Pengobatan psikis berupa antidepresan untuk mengontrol perubahan suasana hati yang mengganggu.
Perubahan gaya hidup, seperti berolahraga, tidur cukup, mengonsumsi makanan yang sehat, berhenti merokok, dan menggunakan pelumas berbahan air untuk meredakan rasa sakit saat berhubungan seks.
Nah Moms, mengatasi gejala perimenopause yang berkaitan dengan pengobatan tentu hanya bisa dilakukan jika sudah mendapat rekomendasi dari dokter.
