Kumparan Logo

Mengenal Sindrom Metabolik, Sekelompok Gejala pada Anak Obesitas

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Gemuk. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Gemuk. Foto: Shutter Stock

Moms, anak yang gemuk dan montok mungkin terkesan lucu dan menggemaskan, ya. Meski begitu, rupanya anak yang gemuk belum tentu sehat, lho. Hal ini bisa terindikasi jika si kecil mempunyai berat badan berlebihan atau obesitas.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI, Dr. Eva Susanti, S.Kp., M.Kes, mengatakan, 1 dari 5 anak berusia 5-12 tahun, dan 1 dari 7 remaja berusia 13-18 tahun di Indonesia mengalami obesitas. Bukan hanya itu, anak dengan obesitas juga berisiko lebih tinggi mengalami sindrom metabolik.

“Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, 1 dari 5 anak berusia 5-12 tahun, dan 1 dari 7 remaja berusia 13-18 tahun di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas gitu, ya. Nah, obesitas ini ada konsekuensi beratnya pada anak karena berisiko lebih tinggi untuk mengalami sindrom metabolik,” papar dr. Eva saat Media Briefing Nutrifood bersama Kemenkes dan BPOM RI bertajuk ‘Ajak Masyarakat Hentikan Rantai Obesitas Sedini Mungkin’, Rabu (01/03).

Nutrifood untuk Cegah Obesitas Sejak Dini. Foto: Nutrifood

Dr. Eva menambahkan, prevalensi sindrom metabolik di Indonesia antara perempuan dan laki-laki berbeda. Anak dengan sindrom metabolik berisiko dua kali lipat mengalami penyakit jantung dan lima kali lipat pada penyakit diabetes melitus (DM) tipe 2.

“Prevalensi sindrom metabolik di Indonesia sebesar 23,34 persen, lebih tinggi pada laki-laki 26,2 persen dibandingkan perempuan 21,4 persen, dan diprediksi bisa menyebabkan kenaikan dua kali lipat risiko terjadinya penyakit jantung dan lima kali lipat pada penyakit DM 2,” tambahnya.

Lantas, apa maksud dari sindrom metabolik?

kumparan post embed

Penjelasan tentang Sindrom Metabolik

Senada dengan dr. Eva, Dokter Spesialis Gizi Klinis, dr. Marya Haryono, M.Gizi, SpGK, FINEM, mengatakan, obesitas pada anak berpotensi memicu terjadinya sindrom metabolik yang menyebabkan meningkatnya risiko penyakit tidak menular.

“Jadi, kalau sindrom itu biasanya kan kumpulan-kumpulan gejala, ya. Nah, dikatakan metabolic syndrome itu kalau seseorang terdapat tiga atau lebih dari kondisi-kondisi yang ditetapkan,” ungkap dr. Marya, dalam kesempatan yang sama.

Ilustrasi Obesitas. Foto: Shutterstock

Beberapa kondisi yang dimaksud adalah:

  • Lingkar perut laki-laki lebih dari sama dengan 90 cm, sementara perempuan lebih dari sama dengan 80 cm

  • Hipertensi, untuk sistol lebih dari sama dengan 130 mmHG dan diastol lebih dari sama dengan 85 mmHG

  • Gula darah puasa meningkat atau lebih dari 100 mg/dL

  • Trigliserida lebih dari 150 mg/dL

  • HDL kurang dari 40 mg/dL

Dampak Obesitas pada Anak

Ilustrasi anak gemuk menimbang berat badan. Foto: Shutter Stock

Selain sindrom metabolik dan penyakit tidak menular, seperti serangan jantung, stroke, dan diabetes, anak dengan obesitas pun berisiko mengalami beberapa gangguan kesehatan yang berdampak pada aktivitas sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kurang aktif bergerak

  • Kerap sesak napas atau ngos-ngosan

  • Mudah mengantuk

  • Mendengkur atau ngorok saat tidur

  • Tidak konsen saat belajar

  • Sering haus

Tak hanya itu, tumpukan sel-sel lemak di dalam tubuh juga berdampak buruk untuk kesehatan, Moms. Salah satunya bisa mengubah sinyal ke arah keganasan.

“Bahkan, sel lemak itu kalau kebanyakan sinyal-sinyalnya, jadi enggak bagus untuk kesehatan, termasuk sinyal-sinyal ke arah keganasan, jadi luas, ya,” tutup dr. Marya.