Kumparan Logo

Mengenal Sleep Apnea, Gangguan Tidur yang Bisa Terjadi pada Bayi

kumparanMOMverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi tidur dengan sleep apnea. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi tidur dengan sleep apnea. Foto: Shutterstock

Bayi yang terlahir prematur berisiko mengalami beberapa gangguan kesehatan, karena sistem imunnya belum sempurna. Salah satunya, mungkin saja mengalami sleep apnea.

Sleep apnea merupakan suatu kondisi di mana bayi berhenti bernapas karena penyumbatan saluran napas atau karena proses pernapasannya tidak benar. Gangguan kesehatan ini terjadi saat bayi tidur, yang menyebabkan terhambatnya aliran udara ke paru-paru selama inhalasi.

"Insiden apnea akan meningkat terutama pada bayi dengan usia kehamilan kurang bulan dan berat lahir rendah. Kemungkinan 25 persen bayi dengan berat badan lahir (bbl) kurang dari 2500 gram mengalami sleep apnea. Sedangkan jika bayi dengan bbl kurang dari 1000 gram, 84 persen lebih mungkin terkena sleep apnea," kata dr. Reza Abdussalam, Sp.A, saat dihubungi kumparanMOM, Selasa (15/10).

Ia mengatakan tingginya risiko sleep apnea pada bayi karena rangsangan dari batang otak sebagai pusat napas belum sempurna. Adapun penyebabnya antara lain seperti infeksi saluran napas atas yang berulang, muntah yang berulang karena gasroesophageal reflex disease (GERD), tumor otak, dan palsi serebral.

Ilustrasi bayi tidur dengan gangguan sleep apnea. Foto: Shutterstock

Dilansir Mom Junction, secara keseluruhan, sleep apnea sebenarnya hanya mempengaruhi sekitar 3% anak-anak di bawah usia 13 tahun. Meski tak banyak terjadi, ada 2 jenis sleep apnea yang bisa dialami oleh bayi dan anak-anak.

1. Sleep Apnea Obstruktif

Sleep Apnea Obstruktif adalah kondisi paling umum yang dialami oleh bayi dan terjadi ketika jalan napas bagian atas terhambat. Sementara mekanisme pernapasan berfungsi dengan baik, tapi aliran udara terhalang karena penyempitan jalan napas.

"Ini terjadi akibat berhentinya aliran udara pada hidung dan mulut walaupun dengan usaha nafas," kata dr. Reza.

2. Central Sleep Apnea

"Sementara sentral sleep apnea merupakan henti pernafasan tanda adanya usaha nafas akibat tak ada rangsangan," tambahnya.

Bentuk ini termasuk bentuk yang kurang umum dari sleep apnea pada bayi. Ini terjadi akibat kegagalan sistem saraf pusat untuk mengatur mekanisme pernapasan yang efektif.

Pada sleep apnea sentral, otot-otot gagal bergerak secara teratur karena kurangnya rangsangan dari otak. Kondisi itu menyebabkan pernapasan bayi terganggu. Bila saat tidur bayi kadang berhenti bernapas yang diikuti dengan napas panjang dan terjadi beberapa kali tiap malam, mungkin ia mengalami sleep apnea.

Ilustrasi bayi terbangun di malam hari akibat sleep apnea. Foto: Shutterstock

"Ciri-ciri lainnya adalah sering terbangun pada malam hari, berkeringat banyak pada malam hari, mengompol walaupun sudah diajarkan toilet training, berat dan tinggi badan naiknya tidak adekuat," kata dr. Reza.

Tentu hal ini tak boleh dibiarkan terus menerus, Moms. Jika tidak, bayi yang mengalami sleep apnea kemungkinan mengalami masalah kesehatan yang berlanjut. Sebab bayi yang mengalami ini akan sering terbangun sehingga hormon pertumbuhannya tidak keluar secara maksimal.

"Gangguan tidur mengakibatkan gangguan hormon pertumbuhan yang dikeluarkan pada malam hari jadi terganggu. Sehingga kenaikan berat dan tinggi badan tidak sempurna. Selain itu, fungsi kognitif juga bisa menurun akibat gangguan tidur yang menetap. Sleep apnea yang terjadi pada anak juga akan mengakibatkan ia lebih mudah emosional dan marah," ucapnya.

Oleh sebab itu, Moms, bila Anda mencurigai bayi mengalami sleep apnea, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dini, membuat bayi Anda bisa mendapat pertolongan lebih cepat.