Kumparan Logo

Moms, Ini Beda Depresi Postpartum dan Sindrom Baby Blues

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Moms, Ini Beda Depresi Postpartum dan Sindrom Baby Blues. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Moms, Ini Beda Depresi Postpartum dan Sindrom Baby Blues. Foto: Shutter Stock

Seorang ibu lebih rentan mengalami depresi setelah melahirkan. Apalagi, berdasarkan riset, perempuan memang tiga kali lebih rentan depresi dibanding laki-laki. Depresi pada perempuan bisa terjadi pada usia produktif yakni, 12 hingga 51 tahun.

"Perempuan itu memiliki risiko tiga kali lebih besar untuk mengalami risiko depresi dibandingkan laki-laki," ujar Psikolog klinis Nuran Abdat, M. Psi, dalam acara webinar bersama IDI, Kamis (3/8).

Nuran mengungkap ada dua jenis depresi yang bisa dialami ibu setelah melahirkan, yakni sindrom baby blues dan depresi postpartum. Kedua jenis depresi ini, kata Nuran, merupakan masalah mental yang berbeda.

Sindrom baby blues merupakan gangguan emosi yang umumnya muncul pada dua sampai tiga hari pasca-melahirkan. Namun, ada juga yang mengalami gejala ini hingga dua pekan setelah melahirkan.

Ibu dengan sindrom baby blues akan mengalami perubahan emosi secara signifikan, rasa sedih, mudah lupa, mudah tersinggung, stres, kerap menangis dan kualitas tidur berkurang. Selain itu, ibu juga merasa cemas karena khawatir tidak bisa merawat bayi dengan baik.

Nuran menyebutkan bahwa sekitar 80 persen ibu hamil dan melahirkan mengalami sindrom baby blues. Artinya, kondisi tersebut umum terjadi. Kendati demikian, sindrom baby blues dapat menjadi pemicu dari kondisi depresi yang lebih berat yaitu depresi postpartum.

"Sekitar 80 persen wanita hamil dan melahirkan itu ternyata justru menghadapi kondisi baby blues yang lebih banyak akan tetapi baby blues ini ternyata adalah cikal bakal atau kemungkinan-kemungkinan seseorang dapat menghadapi postpartum depression," kata Nuran.

Lantas apa perbedaan sindrom baby blues dan postpartum?

Sindrom baby blues muncul selama dua pekan. Sementara kondisi depresi postpartum terjadi pada dua minggu sampai satu bulan setelah melahirkan. Depresi postpartum memiliki gejala yang berlangsung lebih lama hingga satu tahun.

Kemudian, dari segi faktor penyebab, sindrom baby blues disebabkan oleh perubahan fisiologis. Perubahan itu terjadi setelah melahirkan dan intensitasnya dipengaruhi oleh faktor psikologis.

Ilustrasi ibu dan bayi. Foto: Shutter Stock

Sementara depresi postpartum lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikososial seperti stres berlebih, hambatan dalam hidup, dan ditambah dengan perubahan hormon.

Dampak psikologis karena depresi postpartum juga cenderung lebih berat. Ibu akan mengalami perasaan sedih, putus asa yang berlebihan, merasa tidak berguna dan tidak mampu menjadi ibu yang baik.

Pengidap depresi postpartum juga mengalami kesulitan membangun ikatan dengan bayi, cemas berlebihan, pola makan tidak berkualitas, tidak memiliki ketertarikan untuk beraktivitas, hingga keinginan untuk bunuh diri atau membunuh bayinya.

"Gejala-gejala ini tentunya dapat mengancam bukan hanya kepada ibu, ternyata ini akan berdampak terhadap hubungan si ibu sendiri dengan suaminya, anak, ibu mertua, teman-teman, dan siapa pun," kata Nuran.