Moms, Ini Fakta-fakta Omicron BA.4 dan BA.5 yang Buat Kasus COVID-19 Naik Lagi
ยทwaktu baca 4 menit

Dalam sepekan terakhir ini kasus COVID-19 di Indonesia kembali meningkat. Penyebabnya adalah subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang disebut-sebut lebih menular dari varian Omicron sebelumnya, serta bisa lolos perlindungan kekebalan.
Ya Moms, subvarian ini telah ditemukan di Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada konferensi pers virtualnya, Senin (13/6) kemarin, menyatakan sudah 8 kasus Omicron BA.4 dan BA.5 yang terdeteksi di Bali dan Jakarta.
"Kami juga mengkonfirmasi ada 8 kasus Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia. 3 di antaranya imported case dari Mauritius, AS, dan Brasil yang hadir dalam acara Global Platform for Disaster Risk Reduction di Bali. Sisanya yang 5 kasus transmisi lokal. 4 terdeteksi di Jakarta, dan 1 di Bali, yang bersangkutan tenaga media dari Jakarta. Transmisi lokal sudah terjadi di Jakarta," jelas Menkes Budi Gunadi.
Dengan kemunculan Omicron BA.4 dan BA.5 ini, kita patut waspada karena artinya penyebaran COVID-19 masih terus terjadi. Bahkan, ada kemungkinan menyebabkan lonjakan kasus lagi pertengahan tahun 2022 ini. Nah Moms, agar Anda dan keluarga tetap waspada, simak fakta-fakta yang perlu diketahui berikut ini.
Fakta-fakta Omicron BA.4 dan BA.5
1. Sudah Terdeteksi Sejak Januari 2022
Mengutip dari laman GAVI --aliansi vaksin internasional yang menyediakan vaksin gratis bagi negara-negara lain--, varian BA.4 pertama kali terdeteksi dari spesimen yang dikumpulkan di Limpopo, Afrika Selatan, pada 10 Januari 2022. Begitu juga BA.5 yang dideteksi pertama kali dari wilayah Afsel lainnya, KwaZulu-Natal. Varian ini kemudian menyebar ke provinsi lainnya.
2. Lebih Menular tapi Tidak Menyebabkan Keparahan
Mutasi BA.4 da BA.5 diketahui memiliki banyak mutasi dari varian Omicron aslinya. Dari laporan ribuan sekuens COVID-19 di 63 negara, dinyatakan transmisi atau penularan varian BA.4 dan BA.5 lebih cepat ketimbang subvarian Omicron BA.1 dan BA.2. Meski menular lebih cepat, sejauh ini tingkat keparahannya lebih rendah serta tidak ada indikasi menyebabkan kesakitan yang lebih parah ya, Moms.
3. Dapat Menghindari Antibodi
Namun, Juru Bicara Kemenkes, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH, mengingatkan yang perlu diwaspadai adalah immune escape. Artinya, imunitas seseorang memiliki kemungkinan lolos dari perlindungan kekebalan yang disebabkan oleh infeksi varian Omicron, walaupun sudah divaksinasi lengkap sekali pun. Ya Moms, kedua varian ini tetap bisa menginfeksi seseorang yang sudah divaksin corona, termasuk lengkap dua dosis maupun booster.
Akan tetapi, penelitian menunjukkan antibodi yang dihasilkan dari seseorang yang telah divaksinasi lebih efektif ketimbang yang belum menerimanya. Selain itu, ada kemungkinan juga memengaruhi hasil tes PCR karena mengandung perubahan genetik putusnya gen S.
4. Gejala Virus Omicron BA.4 dan BA.5
Omicron BA.4 dan BA.5 ini lebih menular dari varian Omicron sebelumnya. Ketua Pokja Infeksi PP Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PPDI), dr. Erlina Burhan, mengungkapkan semua pasien yang terinfeksi varian ini ternyata telah menerima vaksinasi corona dua hingga empat dosis. Menurut Erlina, mayoritas pasien tidak bergejala arau hanya bergejala ringan. Namun ada satu pasien dengan varian BA.5 yang mengalami gejala sedang dengan keluhan sesak napas, batuk, sakit kepala, mual, hingga nyeri abdomen.
Berdasarkan pasien yang terpapar Omicron BA.4 dan BA.5, gejala yang paling sering dilaporkan adalah batuk dan kelelahan. Kemudian gejala lain yang dirasakan adalah hidung tersumbat, demam, mual atau muntah, sesak napas, diare dan anosmia (kehilangan penciuman).
5. Prediksi Puncak Omicron BA.4 dan BA.5
Sama seperti banyak negara lainnya, Indonesia juga tengah bersiap menghadapi puncak gelombang akibat kedua subvarian tersebut. Menkes Budi Gunadi menyebut puncak kasus mungkin terjadi pada akhir Juli 2022. Namun, ia menilai kemungkinan besar puncaknya tidak akan sebesar varian Delta dan Omicron, mengingat sebagian besar masyarakat sudah divaksin dan tingkat keparahannya lebih rendah.
"Pengamatan kami gelombang BA.4 dan BA.5 itu biasanya puncaknya sebulan setelah kasus pertama. Jadi harusnya minggu kedua atau ketiga Juli, kita akan lihat puncaknya BA.4 dan BA.5," ungkap Budi Gunadi.
Apa Yang Perlu Kita Lakukan?
Moms, pencegahan COVID-19 tetap bisa lakukan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat yang dilakukan keluarga dan orang-orang sekitar. Selain itu, kedepankan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera melengkapi vaksinasi corona hingga suntikan dosis ketiga (booster). Dengan menerapkan itu semua, daya tahan tubuh atau imunitas kita bisa lebih kuat menghadapi COVID-19 apa pun variannya.
