Kumparan Logo

Moms, Ini Panduan Menghitung Napas Anak untuk Cek Sesaknya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Ibu menemani anak sakit. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu menemani anak sakit. Foto: Shutterstock

Moms, pernah nggak melihat napas anak tiba-tiba lebih cepat dari biasanya, terlebih saat demam? Biasanya, orang tua langsung khawatir, jangan-jangan si kecil mengalami sesak napas. Padahal, napas cepat belum tentu berarti anak sedang sesak. Lantas, bagaimana cara mengeceknya?

Dokter Spesialis Anak, sekaligus Expert kumparanMOM, dr. Reza Abdussalam, Sp.A mengungkapkan, salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu menilai kemungkinan sesak pada anak adalah dengan menghitung frekuensi napas dalam satu menit.

“Sesak itu ada yang dievaluasi dari peningkatan frekuensi napas. Tiap anak punya rentang yang berbeda.” jelas dr. Reza saat ditemui kumparanMOM di Brawijaya Hospital Antasari, Jakarta Selatan, Kamis (17/9).

Ilustrasi anak sesak, TBC. Foto: SewCreamStudio/Shutterstock

Berikut batas frekuensi napas yang dijelaskan dokter:

  • 0–2 bulan: Kurang dari 60 kali/menit

  • 2–12 bulan: Kurang dari 50 kali/menit

  • 1–5 tahun: Kurang dari 40 kali/menit

  • Di atas 5 tahun: kurang dari 30 kali/menit

Untuk menghitungnya, pastikan anak sedang tenang atau tidur, lalu hitung berapa kali ia menarik napas selama 1 menit penuh. Saat menangis, napas anak bisa menjadi lebih cepat sehingga hasilnya kurang akurat.

Parameter Sesak pada Anak Selain Menghitung Napas

Namun, jangan hanya melihat jumlah napas ya, Moms. Perhatikan juga tarikan dinding dada (retraksi). Jika dada tampak tertarik ke dalam saat anak bernapas, kondisi ini bisa menjadi tanda gangguan napas.

“Yang membedakan antara anak sesak atau tidak sesak adalah selain dari frekuensi napas yang meningkat, terjadi namanya tarikan dinding dada yang kita sebut dengan retraksi. Kalau sudah ketemu seperti ini, alangkah baiknya segera ke IGD untuk memastikan.” tutup dr. Reza.

Selain retraksi, perhatikan juga cuping hidung yang kembang-kempis. Pada bayi, gangguan napas juga bisa ditandai dengan grunting, yaitu suara seperti “Eee... eee...” saat bernapas atau menangis.

Jadi, menghitung napas bisa membantu orang tua melakukan pengamatan awal, tetapi jangan jadikan hitungan napas sebagai satu-satunya patokan. Jika anak terlihat kesulitan bernapas atau muncul tanda-tanda gangguan napas, segera periksakan ke tenaga medis.