Kumparan Logo

Moms, Kontak Mata saat Bicara dengan Anak Bisa Optimalkan Pertumbuhannya, Lho!

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak dan ibu. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak dan ibu. Foto: Shutter Stock

Kontak mata merupakan salah satu cara anak berkomunikasi dengan orang tua. Indra penglihatan pula yang membantu anak belajar dan menyerap banyak hal dari lingkungan sekitar. Artinya, mata menjadi organ penting untuk membantu anak tumbuh dan berkembang.

Dokter dari You Doctors Online, Doktor Nerrisa Bauer, mengatakan bahwa kontak mata penting untuk perkembangan sosial-emosional dan bahasa si kecil. Penelitian menunjukkan kontak mata mengarah pada keterampilan bahasa yang lebih besar pada usia 2 tahun.

"Perkembangan visual mempengaruhi keterampilan motorik halus seperti mengambil dan memanipulasi objek, " ujar Nerrisa dikutip Allaboutvision.

"Ini akhirnya berkembang menjadi menulis dan aktivitas lain yang membutuhkan koordinasi tangan dan mata," sambungnya.

Menurutnya, dokter spesialis yang menangani si kecil akan terus mengawasi perkembangan mata anak sejak lahir. Sebab, hal itu berhubungan dengan perkembangan lainnya. Apalagi, masalah mata akan berkembang menjadi masalah neurologis atau sistemik lainnya.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang terlahir dengan mata bermasalah? atau anak-anak yang memiliki keterbatasan sehingga tak mampu memaksimalkan fungsi mata?

Ilustrasi anak autis. Foto: Freepik

Dokter Terapi Okupasi, dr. Shelli Dry, memaparkan anak dengan autisme umumnya mengalami gangguan sensorik. Meski begitu, tak semua anak dengan autisme memiliki gangguan pada awalnya.

"Sistem sensorik mereka dalam kondisi siaga tinggi. Mereka merasakan, melihat dan mendengar hal-hal pada tingkat stimulasi yang lebih tinggi ketimbang teman sebayanya. Mereka lalu kewalahan dengan input sensorik yang terlalu banyak," ujar Shelli.

Menurutnya, banyak perubahan ekspresi wajah yang terjadi selama percakapan seringkali terlihat dari mata seseorang.

"Hanya dengan kontak mata, Anda bisa melihat semua cara berbeda yang dapat dilihat seseorang tergantung pada ekspresi mereka," ujarnya.

Stimulasi berlebih adalah alasan individu autis sering memilih untuk menghindari kontak mata.

Lalu, mungkinkah anak dengan autisme melakukan kontak mata tanpa merasa terganggu? dan apakah orang tua harus melatih anak kontak mata?

Tingkat keparahan autisme pada anak-anak berada di level yang berbeda. Dengan begitu intensitas kontak mata anak dengan orang lain juga akan berbeda. Namun, seiring perkembangannya, anak-anak dengan autisme cenderung bisa lebih santai saat kontak mata.

"Saat anak dengan autisme dewasa, mereka akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan kontak mata. Sering kali mereka bisa mengatasi masalah yang menghampiri saat mereka masih kecil, " ujarnya.

Sementara itu, menurut AutismSpeaks.org demi perkembangan si kecil, mendorong anak melakukan kontak mata adalah sesuatu yang harus dicoba oleh para orang tua atau pengasuh. Namun, memaksakan kontak mata bisa berdampak buruk pada anak dengan autisme.