Kumparan Logo

Mom’s Meet Up: Memutus Rantai Trauma Pengasuhan agar Tak Terulang ke Anak

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
kumparanMOM Mom's Meet Up: Memutus Rantai Trauma. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
kumparanMOM Mom's Meet Up: Memutus Rantai Trauma. Foto: kumparan

Banyak orang tua punya niat sederhana: tidak ingin mengulang kesalahan yang dulu dilakukan orang tuanya. Namun dalam praktiknya, niat itu tidak selalu berjalan mulus. Tanpa disadari, pola pengasuhan yang dulu menyakitkan justru muncul kembali, atau bahkan berubah bentuk saat kita membesarkan anak.

Topik ini menjadi salah satu pembahasan dalam acara kumparanMOM Mom’s Meet Up: Memutus Rantai Trauma dalam Pengasuhan, Sabtu (25/4), yang menghadirkan Psikolog Klinis, Ratih Zulhaqqi, M.Psi, Psikolog, serta Pemimpin Redaksi kumparanMOM, Dhini Hidayati sebagai moderator. Dalam sesi tersebut, Ratih mengulas bagaimana trauma masa kecil bisa terbawa hingga kita menjadi orang tua.

“Sering muncul momen, ‘Kok itu kayak mama saya dulu ya, kok saya terdengar seperti ibu saya ya?’ Karena otak kita hanya menyimpan satu referensi, yaitu dari orang tua. Jadi trauma itu sesuatu yang dilakukan tanpa sadar,” jelas Ratih.

Trauma Tidak Selalu Berbentuk Kekerasan

Banyak yang mengira trauma pengasuhan hanya muncul dalam bentuk kemarahan atau kekerasan. Padahal, bentuknya bisa jauh lebih halus—bahkan terlihat seperti kasih sayang.

Ratih mencontohkan, anak yang dulu sering dimarahi mungkin tumbuh dengan tekad tidak akan melakukan hal yang sama. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: ia menjadi terlalu permisif.

“Dulu kita dimarahin, lalu kita nggak mau seperti itu. Akhirnya kita jadi nggak pernah marah sama anak, terlalu permisif, semua boleh. Tapi itu juga bentuk turunan dari trauma. Kita jadi tidak bisa memberi batasan dan tidak bisa bilang ‘tidak’,” ujarnya.

Cerita Nyata dari Para Ibu yang Hadir di kumparanMOM Mom’s Meet Up

Ibu Maddy di acara kumparanMOM Mom's Meet Up. Foto: kumparan.

Dalam sesi diskusi di acara tersebut, beberapa peserta juga saling berbagi pengalaman mereka soal trauma pengasuhan yang berdampak hingga kini.

Ibu Maddy mengingat betul masa kecilnya yang penuh tekanan soal tidur siang.

“Kalau saya dan adik saya nggak tidur siang, mama itu marah banget. Tatapannya tuh bikin takut,” kenangnya.

Kini, saat menjadi ibu dari tiga anak—salah satunya dengan ADHD—ia menghadapi tantangan serupa.

“Anak saya susah banget disuruh tidur siang. Tapi saya jadi emosi, ‘Please dong tidur, ibu mau kerja’,” ujarnya.

Ibu Tania di acara kumparanMOM Mom's Meet Up. Foto: kumparan.

Menanggapi hal ini, Ratih menjelaskan bahwa secara logika, orang tua sebenarnya sadar perilaku itu tidak ideal. Namun secara emosional, itu karena luka lama belum selesai.

“Secara kognitif kita tahu ini salah, tapi kenapa tetap dilakukan? Karena belum selesai. Yang dialami Ibu Maddy adalah rasa aman yang dulu hilang,” jelasnya.

Cerita lain datang dari Ibu Tania, yang tumbuh dalam lingkungan penuh kemarahan. Ia sering melihat ibunya dimarahi ayahnya, bahkan untuk hal-hal kecil seperti kemacetan.

Kini, ia menyadari dirinya mudah terpicu saat anaknya bergerak lambat.

“Kalau anak lama, saya jadi marah-marah sekarang,” katanya.

Kenapa Trauma Pengasuhan Bisa Terulang?

Ratih Zulhaqqi di acara kumparanMOM Mom's Meet Up. Foto: kumparan.

Dalam pemaparannya di acara kumparanMOM Mom’s Meet Up, Ratih menjelaskan bahwa otak manusia cenderung mengulang pola yang familiar, bahkan jika pola tersebut menyakitkan.

Trauma yang tidak disadari biasanya muncul dalam dua bentuk ekstrem:

  • Mengulang pola lama: menjadi keras, mudah marah, atau controlling seperti orang tua dulu

  • Melawan pola lama secara berlebihan: menjadi terlalu permisif, tidak punya batasan

Keduanya sama-sama berakar dari luka yang belum selesai.

Tips Agar Trauma Tidak Berdampak pada Anak

Peserta di acara kumparanMOM Mom's Meet Up. Foto: kumparan.

Kabar baiknya, pola ini bisa diputus. Dari diskusi di acara tersebut, ada beberapa langkah yang bisa mulai dilakukan orang tua:

1. Sadari pola yang berulang

Perhatikan momen ketika Anda bereaksi berlebihan. Tanyakan: Ini respons saat ini, atau luka lama?

2. Kenali trigger pribadi

Setiap orang tua punya pemicu berbeda, yang sering kali berakar dari pengalaman masa kecil.

3. Validasi emosi diri sendiri

Akui bahwa Anda pernah terluka. Ini langkah awal untuk tidak meneruskan luka yang sama.

4. Belajar memberi batasan yang sehat

Tidak marah bukan berarti membiarkan semua hal. Anak tetap butuh aturan yang konsisten.

5. Ambil jeda sebelum bereaksi

Memberi jeda bisa membantu menghindari respons impulsif.

6. Pertimbangkan bantuan profesional

Jika trauma terasa dalam, dukungan dari psikolog bisa sangat membantu.

kumparanMOM Mom's Meet Up: Memutus Rantai Trauma. Foto: kumparan

Menyembuhkan Diri, Mengasuh dengan Lebih Sadar

Dari acara sharing session di kumparanMOM Mom's Meet Up, kita jadi sadar, ternyata ada banyak orang tua yang mengalami hal serupa—dan itu bukan sesuatu yang harus dihadapi sendirian.

Mengasuh anak bukan hanya soal membesarkan mereka, tapi juga tentang menyembuhkan diri. Dengan kesadaran dan usaha yang konsisten, rantai trauma bisa diputus. Dengan begitu, anak-anak kita bisa tumbuh dengan pengalaman yang lebih sehat, Moms.